TERKADANG diri ini terbuai oleh kehidupan dunia, rutinitas kerja, hingga obsesi hidup yang bersifat materi, mulai dari karir hingga income. Dalam situasi begitu orang umumnya tidak begitu terkesan dengan nasihat, sekalipun akalnya mengatakan setuju.
Dalam dirinya adalah gambaran betapa indah saat dirinya menggenggam sejumlah uang, duduk di posisis tinggi, dan merayakan kebahagiaan hari demi hari bersama anak dan istri. Itulah fokus yang mengundang dirinya terus punya energi mengisi hari demi hari dalam kehidupan.
Namun, manusia hanyalah makhluk, yang secara hakikat lemah tak berdaya. Sewaktu-waktu, bahkan secara tiba-tiba sesuatu yang tak terbayang langsung melanda. Itulah yang ditemukan seorang pria muda yang secara tiba-tiba harus memegang dan ikut proses menyiram rambut jenazah yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.
Sembari meremas-remas kepala dari jenazah itu hadir dalam lubuk hatinya kesadaran. “Ya Allah kemarin ia bersama saya, sehat-sehat dan kini telah tiada. Aku pun bisa mengalami hal seperti ini. Ya Allah ampuni hamba-Mu,” bibirnya perlahan bergerak seiring dengan kelopak mata yang tak lagi mampu menahan genangan air mata.
Sadarlah ia bahwa sejatinya hidup adalah soal amal perbuatan, niat yang lurus, serta ikhlas di dalam melakukan kebaikan-kebaikan.
Ia pun terbayang akan hidup sang anak yang masih kecil. Bertambah deraslah air mata membasahi kedua pipinya. Pada saat yang sama, tangannya masih harus mengeramasi rambut jenazah temannya.
Sejak itu, seperti almarhum sahabatnya yang dikenal punya dedikasi tinggi dalam dakwah dan pendidikan generasi bangsa, ia bertekad untuk mengisi hidupnya dengan kebaikan demi kebaikan. Kematian sang sahabat benar-benar menjadi pembuka lembaran baru kehidupannya untuk lebih beriman dan bertaqwa kepada-Nya.
Baca: Kisah Meninggalnya Hafizh yang Telah Lama Siapkan Kain Kafan
Inti Kehidupan
“Dia (Allah) yang telah menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun“. (QS Al-Mulk [67]: 2).
Banyak manusia lalai, bangga dengan capaian hidupnya, dengan posisinya, gajinya, jaringan dan pengaruhnya dalam kehidupan sosialnya. Lupa bahwa semua itu tidak lain adalah ujian, yang jika salah digunakan hanya akan membawa derita di masa depan.
Sebaliknya, tidak sedikit manusia yang terus merasa kurang karena belum memiliki ini, tidak punya itu dan lain sebagainya, sehingga hari demi hari diisi oleh halusinasi, ilusi, dan mimpi-mimpi belaka. Ia tidak pernah punya semangat, lesu, lemah, loyo dan tidak bergairah dalam ibadah. Jika ditanya keadaannya maka kalimat pertama hingga akhir isinya adalah keluhan dan keluhan.
Orang seperti itu juga tidak sadar bahwa apa yang dialami adalah bagian dari ujian dari-Nya yang mesti disikapi secara benar, yakni dengan syukur dan mujahadah dalam mendapatkan karunia-Nya.
Oleh karena itu, kala Rasulullah ﷺ ditanya siapa orang yang cerdas, beliau ﷺ menjawab bukan orang yang kaya atau miskin, melainkan yang paling sering menyiapkan hari kematian.
“Orang beriman manakah yang paling berakal ?” Beliau menjawab, “Yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya setelah kematian, merekalah yang berakal.” (HR. Ibnu Majah).
Jika demikian adanya, maka buat apa seseorang minder hanya karena belum memiliki rumah, mobil, atau apapun juga yang sifatnya materi. Pada saat yang sama atas dasar apa seseorang berhak menyombongkan diri hanya karena rumah megah dan kendaraan mewah yang dimilikinya, bukankah semua itu tidak bernilai kecuali untuk menolong agama Allah.
Jadi, mari kuatkan iman, pandanglah kehidupan ini sebagaimana Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk memandangnya.
Insya Allah sikap tersebut akan menjadikan hati kita mudah menerima nasihat, menjalankan kebenaran. Di saat yang sama juga tidak sulit mengikis kesombongan, kejahilan, sehingga terus berusaha menjadi manusia yang dekat dengan nasihat (agama Islam). Allahu a’lam.*
Imam Nawawi