Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Hidup Sederhana dan Bersahaja

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 20 September 2022 16:34 4:34 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 20 September 2022 19:30
Bagikan
Bagikan

Leiden is lijden! Memimpin itu menderita, sebab jalan kepemimpinan adalah pengabdian, karenanya pemimpin harusnya hidup sederhana dan bersahaja

Hidayatullah.com | BUKAN karena ia tak mampu mengumpulkan pundi-pundi harta dan membeli barang-barang yang mewah, karena sebagai khalifah yang agung, ia bisa saja melakukan itu semua.

Namun, ketakutannya kepada Allah membuatnya berhati-hati dengan segala harta benda yang dimilikinya. Ia memilih hidup sederhana dan bersahaja, menempuh jalan zuhud (memanfaatkan dunia sekadarnya) dan wara‘ (menahan diri dari hal-hal yang syubhat dan haram). Dialah Umar bin Abdul Aziz, khalifah dari Bani Umayyah yang namanya bersinar dalam bentangan sejarah kaum muslimin.

Suatu ketika, Khalifah Umar bin Abdul Aziz terlambat datang shalat Jumat. Orang-orang yang hadir menunjukkan raut wajah tak suka. Seorang bertanya kepadanya;

“Kenapa paduka Tuan terlambat datang?” Khalifah menjawab, “Aku terlambat karena menunggu gamisku (yang baru dicuci) kering.” Orang-orang yang mengetahui hal itu lantas terharu. Seorang khalifah dengan segala kekuasaannya, bisa saja menggunakan dana dari Baitul Maal, atau dana taktis seperti pada masa sekarang, untuk membeli segala atribut untuk penampilannya.Tetapi itu tidak dilakukannya. ”Aku takut terhadap perhitungan yang berat dan pertanggungjawaban yang besar (di akhirat),”ujarnya.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Kebergantunganya pada akhirat, membuatnya terlepas dari segala beban keduniaan yang mengganjalnya dalam memimpin kaum muslimin. Ia tidak memiliki rasa takut untuk menegakkan hukum kepada siapapun yang melakukan kezaliman.

Ia tak pernah pandang bulu dan pilih tebang dalam menegakkan kebenaran. Ia tak memiliki track record yang buruk, yang bisa dijadikan sasaran tembak musuh-musuh untuk menyandera atau membunuh karakternya.

Berbeda dengan kondisi saat ini, dimana para pemimpin, aparat penegak hukum, dan tokoh-tokoh politik saling menyandera. Pemimpin tak berani menegakkan hukum dengan adil, karena ia tersandera secara politik, yang disebabkan catatan buruk atau ‘kartu truf’ yang dipegang oleh lawan-lawan politiknya.

Pemimpin yang hidup sederhana, ia tak akan pernah tersandera oleh kepentingan-kepentingan dunia. Ia akan berdiri tegak mendongakkan kepala melawan segala bentuk kemungkaran.

Haji Agus Salim, seorang tokoh bangsa ini adalah contoh lain dari potret kesederhanaan seorang pejabat negara. Ia seorang menteri dan diplomat ulung yang cukup disegani di dunia internasional.

Sumbangsihnya untuk negeri ini tak terbilang jumlahnya. Penampilannya sederhana; Jas lusuh, kopiah, dan kain sarung. Namun itu semua tak mengurangi akalnya yang brilian dan keberaniannya dalam berdiplomasi.

Leiden is lijden! Memimpin itu menderita. Jalan kepemimpinan adalah jalan pengabdian, jalan penderitaan, bukan jalan bersenang-senang untuk mengumpulkan pundi-pundi kekayaan. Itulah gambaran Kasman Singodimedjo terhadap sosok Haji Agus Salim, ketika ia mengunjungi rumahnya yang berada di gang sempit dan becek.

Potret itu juga yang dilihat oleh para kolega Salim ketika mereka mengetahui bahwa sang diplomat ulung itu tidak mampu membeli kain kafan yang bagus ketika anaknya meninggal dunia. Sebagai pejabat negara, tokoh yang menjadi mentor para pendiri bangsa itu bahkan harus hidup mengontrak berpindah-pindah rumah.

Keteladanan juga tercermin dari kesederhanaan hidup Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari. Ia hidup mandiri, makan dan membiayai hidupnya dari apa yang diusahakannya, tanpa bergantung pada orang lain.

Diceritakan, selain mengajar para santrinya, KH Hasyim Asy’ari juga berladang di sawah dan pergi menjajakan barang dagangannya berniaga ke Surabaya. Padahal, sebagai seorang alim dengan murid yang sangat banyak, bisa saja ia hidup mengandalkan pemberiaan para santrinya.

Namun itu tidak ia lakukan, semata-mata ingin mengamalkan apa yang dipesankan oleh baginda Rasulullah ﷺ, bahwa sebaik-baik pekerjaan, adalah usaha dengan tangannya sendiri. Beliau memilih membiayai hidup dengan hasil keringat sendiri, ketimbang harus mengharapkan belas kasih orang lain, atau memanfaatkan kedudukannya untuk memperkaya diri.

Baginya, rejeki yang ada harus disyukuri dengan hidup yang sederhana, karena segala harta benda yang kita miliki itu fana. Rasulullah ﷺ mengingatkan, bahwa ada empat perkara yang Allah akan hisab di akhirat kelak, dimana tidak akan beranjak kaki seorang hamba sebelum ditanya tentang hal tersebut, diantaranya adalah, “tentang hartanya; dari mana ia peroleh dan kemana ia belanjakan.”

Dari Abu Barzah Al-Aslami, Nabi ﷺ bersabda,

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ

“Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR: Tirmidzi).*/Artawijaya

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:contoh hidup sederhana di rumahhadits tentang hidup sederhanahidup sederhanasederhana
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Gangguan Mental: Ancaman Masyarakat Modern
Tulisan selanjutnya DPP ISAD Aceh adalah Kegiatan Saweu dan Peugléh Komplek Makam Ulama Aceh

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Berita
3 Juni 2026 16:00
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak

Terbaru

  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?