Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Hasad Biang Kehancuran

Masykur Abu Jaulah
Terakhir diupdate: 21 Desember 2016 06:58 6:58 am
Masykur Abu Jaulah
Dipublikasikan 21 Desember 2016 06:58
Bagikan
Bagikan

“Wahai ayah kami! Kami tidak akan mendapat jatah (gandum) lagi (jika tidak ‎membawa saudara kami).”

Saudara-saudara Yusuf kembali memelas di hadapan ayahnya, Nabi Ya’qub.

Kali ini mereka melaporkan usahanya memperoleh bantuan gandum kedua kalinya dari negeri Mesir.

Sebelumnya mereka telah dipesan oleh pembesar negeri Mesir.

Jika ingin kembali lagi, hendaknya datang bersama Bunyamin, saudara kalian yang bungsu. Demikian pesan Yusuf, pembesar kerajaan tersebut.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

‎”..sebab itu biarkanlah saudara kami pergi bersama kami agar kami mendapat jatah‎ dan kami benar-benar akan menjaganya.”

Dialog saudara Yusuf tersebut juga direkam oleh al-Qur’an QS. Yusuf [12]: 63.

Bagi yang membaca kisah Nabi Yusuf, tentu tahu seperti apa karakter Yusuf dan Bunyamin, adik kandungnya.

Sebagaimana ia juga mesti paham bagaimana tabiat saudara-saudara tirinya yang memendam dengki sejak Yusuf masih kecil.

Lihatlah, betapa indahnya ucapan di atas yang disampaikan kepada ayahnya.

Padahal dulunya karena iri hati, mereka pernah sengaja membuang Yusuf kecil ke sebuah sumur tua.

Selanjutnya, kepada ayahnya, Nabi Ya’qub, saudara tiri Yusuf itu lalu kompak berdusta, bahwa Yusuf diterkam serigala saat mereka sedang bermain.

Uniknya, kini mereka kembali menghadap kepada Nabi Ya’qub, mengakui Yusuf sebagai saudara mereka yang layak dijaga.

Asalkan mereka bisa mendapat jatah gandum kembali di Mesir.

Kata mereka, “Fa arsil ma’ana akhana” yang artinya “Sebab itu biarkanlah saudara kami pergi bersama kami…”

‎Cuci Tangan

Kata orang bahasa adalah soal rasa. Sedang rasa merupakan cermin daripada akhlak.

Adapun akhlak, bagi orang beriman, ia bukan cuma kebiasaan, tapi sebagai buah dari keyakinan yang menancap di dada.

Sayangnya, bahasa yang indah yang ditutur oleh saudara-saudara Yusuf itu hanya bersifat musiman saja.

Buktinya, ketika Bunyamin terkena masalah dalam perjalanan. Mereka justru ramai-ramai “cuci tangan”.

Tak mau direpotkan atau disangkutkan, apalagi sampai diminta menanggung beban tersebut.

Mari cerna bahasa mereka sekarang. Kepada ayahnya mereka melaporkan kejadian itu.

“Inna ibnaka saraqa…”Sesungguhnya anakmu telah melakukan tindak pidana pencurian.

Itulah yang mereka paparkan kepada Nabi Ya’qub, orang tua yang penyabar.

Bisa dikata ucapan itu keluar tanpa beban, tanpa rasa, dan tanpa cela. Boleh jadi mereka merasa tak lagi mendapat keuntungan dari kehadiran saudaranya, Bunyamin.

Akibatnya ucapan itu keluar spontan begitu saja. Seolah saudara-saudara Bunyamin dan Yusuf itu tak pernah beroleh manfaat dari saudaranya sebelumnya.

Kemana gerangan sapaan indah itu, “akhun” saudara atau “akhana” saudara kami, sebagaimana saat mereka membutuhkan Bunyamin untuk sekantung gandum.

Mengapa yang tercetus justru ucapan “ibnaka saraqa” anakmu yang mencuri.

Bukankah mereka masih saudara yang sejak dulu tumbuh berkembang bersama-sama di bawah asuhan nabi Ya’qub?

Disadari, arus materialisme dan individualisme kian menggerus tatanan masyarakat sekarang.Dengannya orang lalu menilai sesuatu hanya karena tolak ukur materi dan kepentingan duniawi.

Bahkan tak jarang, orang itu tega menari di atas lara saudaranya yang seiman. Seharusnya umat Islam tersadar dengan keadaan di atas.

Apalagi baru saja kaum Muslimin di negeri ini melewati momen-momen yang sangat indah.  Yaitu persatuan umat Islam Indonesia lewat tiga episode Aksi Bela Islam, jilid I, II, dan III. Bahwa kekuataan itu lahir jika dirajut melalui ukhuwah imaniyah.

Sedang kehancuran itu timbul jika potensi dan talenta yang dipunyai hanya dibiarkan berserak begitu saja. Bahkan tak jarang umat Islam sendiri yang bertikai dan menaruh curiga sesamanya.

Terakhir mari mengikis habis penyakit iri hati atau hasad. Sebab itulah sumber kelemahan dan kerusakan selama ini. Ibarat virus, hasad itu akan menggerogoti iman dan ukhuwah.

Akibatnya mengaku bersaudara, tapi yang ada justru saling curiga dan saling sikut selamanya. *

Redaktur: Masykur Abu Jaulah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:hasadmendengkiPenyakit hatipersaudaraanUkhuwah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ahmad Dhani Sayangkan Media Tak Mampu Melihat Sosok Luar Biasa pada Habib Rizieq
Tulisan selanjutnya Iran Ancam Bahrain, Yaman dengan ‘Penaklukan’ seperti Aleppo

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Berita
3 Juni 2026 13:00
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?