Hidayatullah.com | TEKNOLOGI saat ini memudahkan banyak orang belajar dan mencari informasi. Termasuk mencari ilmu. Menariknya, ketika semua kemudahan mudah didapat, tapi keanehan dan kesesatan juga banyak.
Tidak sedikit kita perhatian sesorang berpakaian layaknya dai tetapi mengajarkan ilmu yang tidak pernah diajarkan Rasulullah ﷺ. Bahkan yang begini muridnya juga banyak.
Belajar adalah kewajiban setiap muslim. Tetapi belajar yang benar dan disyariatkan adalah yang paling dianjurkan.
Imam Zarnuji dalam kitab Taklim mengatakan, ﺃﻓﻀﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻋﻠﻢ ﺍﻟﺤﺎﻝ
Ilmu yang paling utama adalah ilmu hal. Ilmu hal adalah ilmu sekarang. Ilmu hal adalah ilmu yang paling dibutuhkan saat ini atau dalam waktu dekat. Ilmu hal adalah ilmu yang paling dibutuhkan oleh dirinya. Maka, ilmu hal tersebut menjadi fardhu ‘ain baginya. Pun demikian, ilmu yang paling dibutuhkan di wilayahnya yang belum terwujud. Hukum yang asalnya fardhu kifayah, menjadi fardhu ain bagi masing-masing karena belum terwujud.
Setidaknya ada 3 alasan, mengapa kita harus menuntut ilmu hal.
Pertama, ilmu Allah luas. Sebagaimana firman-nya dalam al-Qur’an :
وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِنْ بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan (lagi) setelah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” [Surat Luqman 27]. Yang dimaksud dengan kalimat Allah Ialah: ilmu-Nya dan Hikmah-Nya.
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا
“Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari (penciptaan) bumi juga serupa. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” [Surat Ath-Thalaq 12]
Ilmu Allah tidak terbatas. Sedangkan manusia terbatas, sehinggga membutuhkan skala prioritas ataupun tahapan dalam menuntut ilmu. Oleh karena itu, Allah memberikan skala prioritas berdasarkan hukum syara’. Allah juga memberikan taklif berdasarkan umur.
Kedua, Al-Qur’an dan hadits mengajarkan seperti itu. Qur’an dan hadits tidak tetiba hadir, tapi ada sebab turun atau datangnya. Al-Qur’an juga tidak turun seketika 30 juz, akan tetapi bertahap agar mendarah daging di dalam diri para sahabat. Sebagaimana Firman Allah dalam al-Qur’an :
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً ۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ ۖ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا
Dan orang-orang kafir berkata, “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?” Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan dan benar).” [Surat Al-Furqan 32]
Ketiga, umur yang pendek. Umur ummat nabi Muhammad antara 70 dan 60 tahun. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi :
عن أبي هريرة رضي الله تعالى عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إلَى السَّبْعِينَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوْزُ ذَلِكَ رواه الترمذي
Artinya, “Dari Abu Hurairah RA. Ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Usia umatku (umumnya berkisar) antara 60 sampai 70 tahun. Jarang sekali di antara mereka melewati (angka) itu.” (HR: At-Tirmidzi)
Umur yang pendek tersebut membutuhkan kesungguhan dan keefektifan dalam belajar. Materi pra-syarat harus diajarkan terlebih dahulu sebelum materi inti. Sebagaimana matematika pembagian, pengurangan dan perkalian adalah termasuk salah satu pra syarat dalam ilmu faraidh atau warits. Begitupula, mengetahui jenis kata, pembagian dan tanda tandanya menjadi pra syarat untuk belajar i’rab. Mengetahui makrifat nakirah materi pra-syarat untuk memahami mubtada’ khabar.
Nah, adab adalah inti agama. Materi adab dan praktek menjadi pra-Syarat sebelum ilmu semuanya. Karena akan berpengaruh pada keberkahan, pengaguman terhadap ilmu, ahli ilmu dan kelak saat menyampaikannya pada ummat. Begitupun juga iman merupakan materi inti dan pra syarat dalam belajar, menghafal dan mengamalkan Qur’an. Apakah mungkin orang akan mengamalkan Al-Qur’an padahal dia tidak yakin akan solusi dan petunjuk di dalamnya?
Akhirnya, sesuai dengan banyak hadits dan kalam ulama, adab sebelum ilmu dan iman sebelum Qur’an adalah pondasi bagi santri. Inilah ilmu hal yang harus di ajarkan saat anak masih usia belia. Setelah itu, fan ilmu yang lebih mendalam, terkait ilmu alat, aqidah, fiqih dan akhlak. Jadi, bukan sekedar pelajaran banyak tanpa makna. Tidak mengerti ilmu hal, tidak mengerti urutan, tidak mengerti skala prioritas apalagi ditambah tidak berpijak pada al-qur’an, hadits, ijma’ dan qiyas. Hasilnya mejadi sekuler.
Belajar karakter yang terpisah dengan akhlak Islam. Belajar IPS yang terpisah dengan aturan sosial dan pergaulan dalam Islam. Jadi, dalam Islam tidak ada dikotomi antara ilmu agama dan sains. Tetapi, Islam mengatur fardhu ‘ain, fardhu kifayah, urutan dan tidak sekuler.* Herman Anas, alumnus Ponpes Annuqayah