Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Fakta Harus Dijelaskan dengan Diksi yang Tepat

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 19 Maret 2021 10:39 10:39 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 19 Maret 2021 12:34
Bagikan
hoaks infodemi
Bagikan

Hidayatullah.com | Beberapa laki-laki Muslim dewasa masih takut shalat lima waktu ke masjid meskipun Covid-19 telah setahun lebih mewabah di negeri kita. Kepada orang-orang seperti ini, seseorang kerap mengatakan, “Rupanya masih berat kaki mereka melangkah ke masjid.”

Perkataan ini sebetulnya tak ada yang salah! Faktanya, mereka memang berat melangkah ke masjid karena khawatir terjangkiti Covid.

Namun, jika ungkapan ini didengar oleh mereka yang tetap memilih shalat di rumah ketimbang di masjid, boleh jadi mereka akan tersinggung. “Saya tidak ke masjid bukan karena merasa berat. Buktinya, sebelum ada Covid, setiap hari saya shalat ke masjid. Saya tidak ke masjid karena khawatir terjangkiti Covid,” begitu kira-kira protes mereka.

Lalu kita akan menjelaskan kepada mereka maksud perkataan kita. “Justru karena Covid itulah maka kalian berat melangkahkan ke masjid. Kalau Covid tidak ada, langkah kalian akan ringan. Jadi tak ada yang salah dengan perkataan tadi.”

Mereka tetap tak terima. Bagi mereka, ungkapan tersebut berkonotasi negatif. Mereka merasa tidak seperti itu. Mereka tak mau disebut orang-orang yang berat melangkahkan kaki ke masjid, meskipun faktanya mereka memang tak lagi pergi ke masjid sejak wabah Covid merebak.

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

Apa yang salah dengan kejadian ini?

Beberapa fakta memang tak bisa dijelaskan dengan sembarang kata-kata. Pilihan kata-kata dalam menjelaskan fakta bisa dimaknai bermacam-macam oleh pembaca. Bahkan, dari pilihan kata itulah pembaca bisa menebak apakah si penulis suka dengan objek yang dituturkan atau tidak.

Penggunaan kata “wafat” dan “mati” saja sudah menimbulkan kesan yang berbeda, padahal artinya sama. Itu baru satu kata. Apalagi bila gabungan dari beberapa kata seperti ungkapan di awal tulisan tadi.  Ungkapan tersebut akan berbeda kesannya bila kita pakai kalimat seperti ini: “Mereka tak bisa pergi ke masjid”. Padahal, fakta yang dijelaskannya sama.

Di dalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala telah menunjukkan contoh yang amat baik dalam memilih kata. Setiap kata dalam Al-Qur’an memiliki makna yang khas dan tepat. Tak mungkin keliru dan tak bisa juga diganti dengan kata yang lain.

Dalam Surat  al-Mujadillah [58] ayat 1, misalnya, Allah Ta’ala berfirman;

قَدْ سَمِعَ ٱللَّهُ قَوْلَ ٱلَّتِى تُجَٰدِلُكَ فِى زَوْجِهَا وَتَشْتَكِىٓ إِلَى ٱللَّهِ وَٱللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَآ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌۢ بَصِيرٌ

Arti ayat tersebut adalah, “Sungguh, Allah telah mendengar ucapan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu (Muhammad) tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah, dan Allah mendengar percakapan antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.”

Bila kita perhatikan ayat tersebut ada dua kata yang mirip. Pada awal ayat terdapat kata “qod” yang berarti “sungguh”. Lalu pada akhir kalimat ada kata “inna” yang berarti “sesungguhnya”.

Meskipun kedua kata ini mirip, namun tak bisa dipertukarkan. Akan  ada pergeseran makna bila keduanya dipertukarkan. Ada penekanan untuk masing-masing makna.

Bahkan bila kita gali lebih dalam tentang mengapa Allah Ta’ala menggunakan kata “Sungguh” di awal kalimat, padahal manusia tahu bahwa Allah Ta’ala Maha Benar dan tak akan keliru?  Inilah pelajaran tentang akhlak berkomunikasi yang luar biasa.

Mari kita belajar akhlak berkomunikasi dengan diksi yang tepat! *

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:covid-19faktamusibah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Revisi UU ITE kebebasan Sedang Susun Standar Norma Pengaturan, Komnas HAM: Nanti Bisa Jadi Acuan Proses Revisi UU ITE
Tulisan selanjutnya Pengadilan saksi eksepsi habib rizieq shihab HRS Tidak Dihadirkan di Persidangan, Itu karena Lisannya yang Bak Sembilu

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Feature
30 Mei 2026 17:30
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?