Dakwah untuk menyambung silaturahim termasuk perkara paling pertama diserukan Nabi Muhammad ﷺ di permulaan sebagai Nabi. Silaturahim menghapus doa dan mendatangkan rezeki
Hidayatullah.com | ISLAM memang sangat menganjurkan silaturrahim. Ada sebuah hadits menegaskan bahwa siapa yang ingin ditambah rizki dan diampuni dosanya, maka perbanyaklah silaturrahim.
Silaturrahim dari kata dasas Arab sillah ar-rahim (shillah), artinya hubungan rahim; tali kasih sayang. Silaturrahim adalah kata majemuk. Shillah artinya menyambung yang putus, sedangkan kata rahim berasal dari kata rahmah yang berarti kasih sayang.
Ada yang menganggap kata ‘silaturahim’ lebih tepat daripada ‘silaturahmi’. Benarkah? Seperti kita tahu, dua serapan ini sering digunakan dalam bahasa Indonesia. Rasulullah ﷺ memberikan pengertian silaturrahim yang bermakna rasa kasih sayang (rahmat).
Kata Nabi, orang yang bersilaturrahim itu bukanlah orang yang membalas kunjungan atau pemberian, akan tetapi yang dimaksud dengan orang yang bersilaturrahim adalah ”orang yang menyambung orang yang memutuskan hubungan denganmu.”
Di antara sifat-sifat khusus orang mukmin adalah berhati yang hidup, tanggap, lembut dan penuh kasih sayang. Dengan hati inilah dia berkomunikasi dengan masyarakat dan lingkungannya. Ia akan trenyuh melihat yang lemah, pedih melihat orang yang sedih, dan santun kepada yang miskin dan mengulurkan tangan kepada yang membutuhkan.
Dengan hati yang hidup, pengasih dan penyayang ia akan terhindar dari usaha untuk menyakiti orang lain. Apalagi melakukan kejahatan sehingga ia menjadi sumber kebaikan, keberuntungan dan kedamaian bagi masyarakat dan lingkungannya.
Baca: Wapres: MUI Harus Berada di Tengah dan jadi Wadah Silaturahim Ormas Islam
Kasih Sayang Mukmin Bersumber dari Rahmat Allah
Seorang mukmin adalah sosok manusia yang berjiwa kasih sayang, karena idealismenya adalah berbudi (berakhlak) dengan akhlaq-akhlaq Allah SWT. Di antara akhlak ilahiyah adalah (rahmat) kasih sayang yang meliputi segala-galanya, meliputi kafir dan mukmin, orang baik dan jahat, meliputi juga dunia dan akherat.
Rasulullah ﷺ dengan rasa rahmat ini memperlakukan sahabat-sahabatnya dan dalam berbagai kesempatan beliau beliau selalu menanamkan rasa kasih sayang ini (rahmat) kepada sahabat-sahabatnya.
Pada suatu hari Rasulullah ﷺ berjalan bersama para sahabatnya menelusuri perkampungan di kota perkampungan di kota Madinah. Dalam perjalanan itu Rasulullah bertemu dengan seoramng wanita yang sedang menggendong dan menyusui anaknya.
Dari Umar bin Al Khattab radhiallahu ‘anhu , beliau menuturkan:
ﻗﺪﻡ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺳﺒﻲ، ﻓﺈﺫﺍ ﺍﻣﺮﺃﺓ ﻣﻦ ﺍﻟﺴﺒﻲ ﻗﺪ ﺗﺤﻠﺐ ﺛﺪﻳﻬﺎ ﺗﺴﻘﻲ، ﺇﺫﺍ ﻭﺟﺪﺕ ﺻﺒﻴﺎً ﻓﻲ
ﺍﻟﺴﺒﻲ ﺃﺧﺬﺗﻪ، ﻓﺄﻟﺼﻘﺘﻪ ﺑﺒﻄﻨﻬﺎ ﻭﺃﺭﺿﻌﺘﻪ، ﻓﻘﺎﻝ ﻟﻨﺎ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ : (ﺃﺗﺮﻭﻥ ﻫﺬﻩ ﻃﺎﺭﺣﺔ ﻭﻟﺪﻫﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻨﺎﺭ ). ﻗﻠﻨﺎ: ﻻ، ﻭﻫﻲ ﺗﻘﺪﺭ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻻ ﺗﻄﺮﺣﻪ، ﻓﻘﺎﻝ: (ﻟﻠﻪ ﺃﺭﺣﻢ ﺑﻌﺒﺎﺩﻩ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺑﻮﻟﺪﻫﺎ
Rasulullah ﷺ kedatangan rombongan tawanan perang. Di tengah-tengah rombongan itu ada seorang ibu yang sedang mencari-cari bayinya. Tatkala dia berhasil menemukan bayinya di antara tawanan itu, maka dia pun memeluknya erat-erat ke tubuhnya dan menyusuinya. Rasulullah ﷺ bertanya kepada kami, “Apakah menurut kalian ibu ini akan tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?” Kami menjawab, “Tidak mungkin, demi Allah. Sementara dia sanggup untuk mencegah bayinya terlempar ke dalamnya.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.” (HR: Bukhari dan Muslim).
Nama-nama (sifat) Allah yang paling populer setelah nama (Allah) adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim yang artinya adalah pengasih dan penyayang. Seorang mukmin selalu memulai membaca nama ini, bismillaahirrahmaanirrahiim setiap kali membaca al-Qur’an sebab sebanyak 113 suratnya dimulai dengan kata tersebut.
Kita sendiri selalu mengulangi dua nama ini dalam shalat-shalat wajib tidak kurang dari 34 kali setiap hari. Kedua nama mulia ini, memiliki inspirasi kuat pada jiwa seorang mukmin untuk mengambil bagian dari nama-nama mulia ini.
Rahmat orang mukmin tidak terbatas pada saudar-saudara yang muslim saja -walaupun diutamakan- namun juga meluber kepada ummat manusia seluruhnya. Rasulullah ﷺ bersabda kepada para sahabatnya;
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman sampai aku lebih ia cintai dari orang tua, anak dan manusia seluruhnya.” (HR: Bukhari, no. 15; Muslim: no. 44).
Baca: Jangan Melalaikan Amanah dan Silaturahim
Silaturahim Sifat Mukmin
Memang sifat mukmin diantaranya yang disebut al-Qur’an adalah sabar dan kasih sayang. (QS. al-Balad: 17). Rahmat dan kasih sayang ini tidak hanya terbatas kepada ummat manusia tetapi juga kepada ummat-ummat lain seperti hewan-hewan.
لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
“Arti: Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (Surat At-Taubah Ayat 128).
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS: Al-Fath:29).
Baca: Mulailah Ukhuwah dengan Silaturahmi Keluarga
Silaturahim Mendatangkan Rezeki
Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan bahwa menyambung silaturahim adalah hak yang wajib dipenuhi baik dalam bentuk materi atau maknawi. Dan dakwah untuk menyambung silaturahim termasuk perkara yang paling pertama yang diserukan oleh Nabi Muhammad ﷺ di permulaan pengangkatan beliau sebagai Nabi.
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ جَمِيلِ بْنِ طَرِيفِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الثَّقَفِيُّ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ قَالَا حَدَّثَنَا حَاتِمٌ وَهُوَ ابْنُ إِسْمَعِيلَ عَنْ مُعَاوِيَةَ وَهُوَ ابْنُ أَبِي مُزَرِّدٍ مَوْلَى بَنِي هَاشِمٍ حَدَّثَنِي عَمِّ
“Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id bin Jamil bin Tharif bin ‘Abdullah Ats Tsaqafi dan Muhammad bin ‘Abbad keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Hatim yaitu Ibnu Isma’il dari Mu’awiyah yaitu Ibnu Abu Muzarrid -budak- dari Bani Hasyim: Telah menceritakan kepadaku Pamanku, Abu Al Hubab Sa’id bin Yasar dari Abu Hurairah dia berkata: “Rasulullah ﷺ telah bersabda: ‘Setelah Allah Azza wa Jalla menciptakan semua makhluk, maka rahim pun berdiri sambil berkata: ‘Inikah tempat bagi yang berlindung dari terputusnya silaturahim (Menyambung silaturahim).’ Allah Subhanahu wa Ta’ala menjawab: ‘Benar. Tidakkah kamu rela bahwasanya Aku akan menyambung orang yang menyambungmu dan memutuskan yang memutuskanmu? ‘ Rahim menjawab: ‘Tentu.’ Allah berfirman: ‘ltulah yang kamu miliki.‘ Setelah itu Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Jika kamu mau, maka bacalah ayat berikut ini: Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan berbuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah dan ditulikan telinga mereka serta dibutakan penglihatan mereka. Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ataukah hati mereka terkunci? (QS. Muhammad 22-24).” (HR: Muslim).
Diriwayatkan oleh Muslim di dalam Kitab Shahih-nya dari Abi Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah aku memiliki seorang kerabat yang apabila aku menyambung silaturahim dengan mereka maka mereka memutuskannya, dan jika aku berbuat baik kepada mereka maka mereka membalasku dengan perlakuan buruk kepadaku, jika aku berbuat santun maka mereka bertindak jahil kepadaku.Maka Nabi Muhammad salallahu’alaihi wa salam menjawab, “Jika dirimu seperti apa yang telah engkau katakan maka sungguh engkau seakan telah memberi makan mereka dengan bara api neraka, dan Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa memberikanmu penolong atas tindakan mereka selama engkau berbuat seperti itu.” (HR: Muslim).
Dan diantara sebab-sebab yang mendatangkan rezki juga adalah silaturahim, banyak hadits yang menunjukan itu, diantaranya:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رسول الله صلى الله عليه و سلم: مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ .أخرجه البخاري
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullāh ﷺ bersabda, “Barangsiapa senang untuk dilapangkan rezeki dan dipanjangkan umurnya, maka jalinlah tali silaturahim (hubungan antar kerabat).” (HR: Bukhari).
Dari Anas Bin Malik Nabi berkata;
عن أنس بن مالك -رضي الله عنه- قال سمعت رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يقول: «من أحبّ أن يُبْسَطَ عليه في رزقه، وأن يُنْسَأَ له في أَثَرِهِ؛
فَلْيَصِلْ رحمه». متفق عليه
“Dari Anas bin Malik-raḍiyallāhu ‘anhu-, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa ingin dibentangkan pintu rezeki untuknya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya ia menyambung tali silaturahim.” (Muttafaq ‘alaih).*