Hidayatullah.com | Marhaban Yaa Ramadhan! Kerinduan kita dengan bulan Ramadhan yang mulia sudah sangat besar. Tinggal beberapa hari lagi, bulan mulia akan segera tiba.
Lebih-lebih setelah setahun belakangan hidup dalam suasana lingkungan yang serba mencekam dan menakutkan. Akibatnya, hidup menjadi terasa sempit.
Ujian kehidupan berupa kekurangan, penyakit, bahkan kemiskinan yang menimpa negara kita telah merubah hati menjadi keruh, ternoda dan pemarah. Sebagian orang, seolah dipaksa menjadi ‘makhluk pengutuk’ yang tak kenal ampun. Kita bagai kehilangan identitas kelembutan dan keramah-tamahan yang dulu dibanggakan. Nilai-nilai agama yang telah kita semai sekian lama didesak untuk diganti oleh sifat arogan dan kesewenang-senangan.
Memasuki bulan mulia Ramadhan sebentar, kita hendaknya bisa menata ulang ruhani, mendidik dan melatih jiwa untuk mendorong mewujudkan keinginan berbuat kebajikan dan menggapai ketakwaan kepada Allah swt. Itulah sasaran yang Allah targetkan dalam menunaikan puasa di bulan Ramadhan, sebagaimana firman-Nya:
يٰٓـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا كُتِبَ عَلَيۡکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيۡنَ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُوۡنَۙ
“Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana yang dahulu telah diwajibkan kepada orang-orang (ummat-ummat) sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS.Al-Baqarah: 183).
Kalau kebebasan di luar bulan Ramadhan kemarin begitu bebasnya, bahkan seolah tak berbatas. Maka orang yang sedang berpuasa wajib menghindarkan diri dari ucapan dan perbuatan yang berlawanan dengan tujuan puasa, agar dari ibadah puasanya itu ia tidak hanya mendapatkan kelaparan, kehausan dan hal-hal lain yang tidak diinginkan.
لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ
“Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu (perkataan/perbuatan yang tidak berfaedah) dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim).
Masih dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Bisa jadi orang yang berpuasa tidak memperoleh apa-apa dari puasanya itu selain lapar. Dan bisa jadi juga orang bersembahyang di malam hari ( shalatul lail ) tidak mendapatkan apa-apa dari shalatnya selain kantuk.”
Karena tujuan mulia bulan puasa yakni menggapai gelar takwa, sudah selayaknya orang yang berpuasa membantu mewujudkan terciptanya kondisi ke arah sana. Setiap ummat Islam memiliki tanggu jawab menciptakan suasana yang tenang dan damai.
Itu berarti lomba saling caci-maki- fitnah-memfitnah, dan saling mengumpat satu sama lain hendaknya segera diakhiri. Begitupun cara-cara kekerasan dan bumi hangus. Apalagi hal semacam itu jelas-jelas bukan cermin pribadi muslim. Gaya-gaya radikal dan saling adu fitnah –seperti yang kemarin yang sering kita saksikan — hanya dilakukan oleh kelompok di luar Islam.
Islam miliki koridor hukum yang sangat sakral dan suci. Oleh karena itu, kemurnian Islam hanya akan dapat ditegakkan di atas landasan yang murni dan suci pula; sesuai kaidah al-Quran dan al-hadits. Yang hendak kita agungkan adalah ketinggian al-Qur’an, bukan isme-isme lain. Bukan pula kebersamaan di atas tuntutan nafsu yang menginjak-injak hukum Ilahi.
وَلَا تَلْبِسُوا۟ ٱلْحَقَّ بِٱلْبَٰطِلِ وَتَكْتُمُوا۟ ٱلْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Dan janganlah kamu campuradukkan antara yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (QS: al-Baqarah: 42).
Kalaupun ada penyimangan dan mencoba mengatasnamakan Islam, mereka adalah Islam gadungan. Bila kita tengok akar sejarah perjuangan ummat, mereka yang memperalat dan mengatasnamakan Islam, layaknya barisan Abdullah bin Ubay, tokoh pemimpin munafik yang rela menjual nama Allah untuk tujuan-tujuanya yang tengik.
Dia memiliki bulu-bulu seperti domba padahal wujud sesungguhnya adalah serigala tulen. Ummat Islam harus selalu waspada atas keberadaannya bil khusus di bulan ini.
Baca: Keutamaan Ramadhan dan Doa-doa yang Dianjurkan
Beda dari bulan biasa
Karenanya sudah sewajarnya kita menjunjung tinggi Ramadhan. Bukankah target yang hendak dicapai didalamnya begitu mulianya? Predikat takwa yang Allah tawarkan dalam surat al-Baqarah di atas adalah sebaik-baik predikat yang akan Allah berikat kepada hamba pilihannya. Tujuan tersebut jauh lebih mulia dari taget target apapun yang sering dikejar oleh ummat manusia, baik berupa harta benda maupun kekuasaan. Allah swt berfirman:
وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ ۚ وَٱتَّقُونِ يَٰٓأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. al-Baqarah: 197).
Itulah hadiah keistimewaan yang diberikan di bulan Ramadhan. Jangan sampai suasana bulan yang suci ini dirusak oleh karena kita memperturutkan kehendak hawa nafsu.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda;
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR: Bukhari).
Ibnul-‘Arabiy mengatakan: “Maksud hadits tersebut adalah, orang yang bersangkutan tidak memperoleh pahala atas puasanya. Tegasnya ialah, bahwa pahala ibadah puasa tidak mungkin dapat dicampur adukkan dengan dosa dan perbuatan batil dan tidak senonoh.”
Jabir bin Abdullah ra menasihati sahabatnya: “Bila Anda berpuasa, hendaklah telinga dan mata Anda juga turut berpuasa. Demikian pula lidah Anda dari perkataan dusta dan dosa-dosa lainnya. Janganlah Anda mengganggu atau menyakiti hati Khadim (pelayan). Hendaknya Anda tenang dan tenteram selama berpuasa. Janganlah Anda samakan antara hari-hari saat Anda sedang berpuasa dan tidak berpuasa!”
Kepada Thaliq bin Qaid, Abu dzar berkata: “Bila Anda sedang berpuasa jagalah baik-baik puasa Anda sedapat mungkin.” atas dasar nasihat Abu dzar itu Thalif bin Qais tiap puasa tidak keluar rumah kecuali untuk menunaikan shalat berjamaah di masjid.
Terkecuali ketika menghadapi kekuatan musuh yang nyata-nyata hendak memadamkan nur Islam, sekalipun bulan Ramadhan kaum Muslimin malah diwajibkan secara bersama mengayun langkah memerangi mereka, sampai kekuatan musuh tersebut dapat dilumpuhkan. Contoh peperangan akbar yang berlangsung di bulan Ramadhan adalah Perang Badar.
Itulah sifat kehati-hatian sebagian ulama shalafus-shalih terdahulu, agar nilai dan suasana Ramadhan tidak menjadi rusak. Wallahu a’lam bishshawab.*