IMAM al-Qurthubi menceritakan; Ada seorang pemuda yang sholih. Ia rajin dan taat beribadah. Setiap hari ia selalu mengumandangkan adzan dimenara masjid untuk memanggil umat muslim agar segera kemasjid untuk menunaikan sholat berjamaah. Begitu banyak orang yang kagum atas kesholihan sang pemuda muadzin ini.
Namun di suatu hari, saat pemuda ini berada di atas menara masjid untuk mengumandangkan adzan, di bawah menara di sebuah jendela dilihatnya seorang gadis nan jelita.
Berdeguk hatinya. Dan langsung jatuh hati pada pandangan pertama. Tak kuasa menahan rasa, pemuda muadzin pun bergegas turun dari menara. Dan segera ditemui si gadis pesona.
“Apa yang Anda inginkan?” tanya si gadis.
“Dirimu,” jawab pemuda.
“Kenapa begitu?” tanya gadis.
“Aku jatuh hati saat pertama melihatmu,” kata pemuda muadzin.
“Aku tak ingin berbuat dosa,” kata gadis.
“Aku ingin menikahimu,” timpal pemuda.
“Tidak bisa! Anda seorang Muslim. Saya nasrani. Ayahku tidak akan mengijinkan Anda menikahiku,” kata gadis.
“Demi mendapatkanmu aku rela meninggalkan agamaku dan masuk agamamu,” kata pemuda yang lagi dimabuk asmara.
Dan singkat cerita, pemuda muadzin pun masuk nasrani. Namun malang nasibnya, saat hendak menaiki tangga loteng rumah si gadis pujaan hatinya, pemuda mantan muadzin itu terpeleset jatuh dan meninggal dunia. Mati dalam kondisi murtad. Mati sebagai adh- Dhallin, orang-orang yang tersesat.
Sekelumit kisah di atas menunjukan, menjaga agar tetap istiqomah di jalan iman itu bukanlah hal yang mudah. Untuk memulai suatu kebaikan juga berat. Namun menjaga agar apa yang sudah dimulai tetap istiqomah tentunya lebih berat lagi.
Suatu ketika Rasulullah ditanya oleh sahabat Abu Amrah, “Ya Rasulullah, katakanlah kepadaku ungkapan tentang Islam, yang aku tidak akan lagi menanyakanya kepada seorang pun selain engkau.” Dengan singkat beliau menjawab, “Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah kemudian istiqomalah’.” (HR Muslim)
Ibnu Mubarok menceritakan dari Wahb bin Munabbih, ada seseorang yang memperhatikan seseorang yang lewat di hadapanya. “Apa yang kamu perhatikan?” tanya Wahb bin Munabbih.
Orang itu menjawab, “Aku begitu kagum pada si fulan, ia sungguh rajin beribadah sampai sampai ia meninggalkan kenikmatan dunia.” Wahb bin Munabbih kemudian berkata, “Tidak perlu kagum kepada orang yang meninggalkan kenikmatan dunia seperti itu. Sungguh aku lebih kagum kepada orang yang bisa istiqomah.”
Sungguh kita tidak pernah tahu bagaimana akhir kehidupan seseorang. Juga akhir kehidupan diri kita ini. Siapa yang dapat menjamin iman akan tetap tergenggam hingga akhir hayat? Siapa yang mampu pastikan iman di dada tidak akan lepas karena tergoda?
Padahal yang akhir itulah baik atau buruk seseorang akan ditentukan nilainya. Husnul khatimah ataukah suul khatimah.
Untuk itulah, hendaknya setiap diri ini senantiasa waspada. Apapun amal yang sudah dilakukan jangan pernah merasa lebih unggul, lalu menganggap remeh orang lain. Tetap berhati-hati, peka pikiran dan perasaan jangan sampai menuruti godaan syahwat ataupun subhat. Terus berusaha meningkatkan keimanan dan tak lupa senantiasa berdoa kepada Allah semoga tetap istiqomah di jalan iman.
“Wahai Yang membolak balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR At-Tirmidzi). Wallahu a’lam!*/Sutrisno, karyawan swasta di Bojonegoro, Jawa Timur