GAGAL dalam merencanakan sama halnya dengan merencanakan sebuah kegagalan. Ungkapan tersebut mungkin cocok untuk menggambarkan pentingnya sebuah persiapan dalam suatu perbuatan.
Setiap amalan hendaknya didahului dengan ilmu. Sebab amalan yang tak berdasar ilmu yang benar, kerap menjadikan pelakunya terseret kepada menuruti syahwat (hawa nafsu) atau terjebak dalam syubhat (tidak yakin dan dilandasi keraguan).
Logikanya, jika segala urusan dunia butuh persiapan dan perencanaan, bagaimana dengan perkara dakwah dan kebaikan yang berujung hingga hari Akhirat.
Tentunya ia lebih butuh persiapan agar bisa melaksanakan kebaikan tersebut dengan sempurna (ahsanu amalan) dan mampu istiqamah menjalaninya secara kontinyu (adwamuhu). Tak heran, Imam al-Bukhari menyediakan pembahasan khusus yang diberi nama Bab al-Ilmu Qabla al-Qauli wa al-Amali.
Termasuk dalam hal perencanaan adalah melakukan muhasabah (evaluasi). Muhasabah yang dimaksud di sini bukan hanya melulu di akhir perbuatan atau amal seseorang. Layaknya Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) atau Surat Pertanggungjawaban (SPJ) dalam organisasi. Ia bukan pula evaluasi yang hanya dilakukan di akhir tahun sebagaimana terjadi di perusahaan, misalnya.
Namun muhasabah yang dihadirkan di setiap waktu. Mulai dari perencanaan di awal perbuatan, ketika sedang dikerjakan, hingga usai melaksanakan amalan tersebut. Hal ini dianggap penting untuk menjaga konsistensi daripada perbuatan yang dilakukan.
Untuk muhasabah, pertama, bisa dilakukan sebelum seseorang beramal. Evaluasi ini bertujuan untuk memastikan keikhlasan hati dalam berbuat, sekaligus mengukur kemampuan diri terhadap pekerjaan tersebut. Kedua, evaluasi ketika sedang beramal. Hal ini agar niatan di awal tetap terjaga sambil mengukur progress amal kebaik yang dilakukan. Ketiga, usai beramal, seorang Muslim dianjurkan untuk muhasabah kembali. Sebagai evaluasi diri terhadap hasil yang telah dicapai dengan amalan itu. Apakah masih sejalan dengan niat pertama atau mengalami pergeseran.
Ahli tafsir, Abdurrahman Nashir as-Sa’di Rahimahullahu Ta’ala (Ra) menyebutkan, muhasabah saat ini termasuk kebutuhan primer seorang Muslim. Dengannya, orang itu bisa mengukur diri dan mengetahui perbuatan yang selama ini dilakukan. Amalan apa saja yang sudah dikerjakan sebagai persiapan menuju hari Akhirat. Sekiranya hal itu baik maka dengan muhasabah, niscaya ia semakin yakin untuk terus istiqamah dan meningkatkan kualitas kebaikan tersebut.
Sebaliknya, ketika seorang Muslim mendapati perbuatannya melanggar syariat agama, lewat muhasabah, ia bisa berfikir sejenak. Semoga orang itu lalu menyadari betapa nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala (Swt) begitu banyak tercurah padanya. Suatu hal yang tidak sebanding dengan dosa dan kemaksiatan yang ia lakukan. Alhasil, ia menjadi malu kepada Allah untuk mengulang perbuatannya tersebut (Kitab Tafsir Taisir Karim ar-Rahman)
Akhirat, sebuah perjalanan panjang
Perjalanan menuju kampung Akhirat adalah langkah yang panjang dan tidak sedikit. Perjalanan keimanan itu bermula sejak manusia dilahirkan dan berujung ketika kematian datang menjemput ajalnya kelak. Untuk itu tak dipungkiri jika seorang Muslim butuh bekal yang mencukupi. Sebab realitasnya, fasilitas dunia yang dinikmati saat ini tak sekedar menwarkan kebaikan dan keuntungan. Tapi juga menyelipkan godaan serta rayuan maut, menjadikan seseorang berpaling dari hidayah iman.
Di sinilah peran muhasabah atau evaluasi diri di atas. Ada masa dimana seorang Muslim hendaknya menepi sejenak dari hiruk pikuk dunia dengan segala kesibukannya. Di titik sunyi itu, ia lalu bertanya kepada dirinya sebagaimana ia juga yang harus menjawab semua soal yang ditanyakan. Setidaknya tentang arah dan tujuan yang ditempuh, benarkah rute yang sedang dijalani itu? Khawatir jika ternyata tanpa sadar, perjalanan itu mulai bias dan kian menyimpang melebar dari patokan yang sudah digariskan sebelumnya. Lalu apa yang telah disiapkan sebagai bekal perjalanan tersebut?
Allah Subhanahu wa Ta’ala (Swt) berfirman:
ياأيها الذين آمنوا اتقوا الله ولتنظر نفس ما قدمت لغد واتقوا الله إن الله خبير بما تعملون
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (Akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Surah al-Hasyr [59]: 18).
Senada, sahabat Umar ibn al-Khaththab Radhiyallahu anhu (Ra) berkata: Hisablah diri-diri kalian sebelum kalian dihisab (di hari Akhirat) kelak.*/ Masykur