Sambungan artikel PERTAMA
Oleh: Fais al-Fatih
KITA sebagai umat Islam harus bangkit dari lumpur kehinaan ini dan berupaya untuk merajut kembali kiswah peradaban yang telah lama robek dan koyak. Memang tak ada faedah yang akan kita dapatkan, dengan hanya meratapi dan menangisi puing-puing masa lalu yang telah lapuk dan hancur.
Salah satu upaya cerdas yang bisa kita lakukan adalah merenungi dan mempelajari lembar tiap lembar, membaca buku sejarah umat Islam, mulai dari masa Rasulullaah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam, masa Khulafaur Rasyidin, Umawiyah, Abbasiyah, Ayyubiyah, Mamluk hingga kekhilafahan Utsmaniyah agar kita bisa memetik hikmah dan mengambil pelajaran apa saja yang menjadi faktor kebangkitan dan kejayaan mereka dan apa saja yang menjadi penyebab keruntuhan peradaban yang mereka bangun.
Dalam sebuah syair dikatakan;
Pelajarilah sejarah!
Karena suatu kaum yang melupakan sejarahnya,
ibarat anak pungut yang tak mengetahui nasabnya.
Atau seperti orang yang hilang ingatannya,
hingga ia tidak ingat tentang masa lalunya.
Pemahaman dan penghayatan mengenai sejarah masa lampau merupakan sebuah keniscayaan bagi pembangunan umat dan peradaban. Tatkala Allah Subhanahu Wata’ala mengutus Nabi Musa as kepada Bani Israil yang telah lemah mentalnya dan rusak kepribadiannya, Nabi Musa as berkata: “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat Nabi-nabi di antaramu dan dijadikannya kamu orang-orang yang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain.” (QS. al-Maidah: 20)
Bani Israil telah melupakan kegemilangan sejarah nenek moyangnya: Nabi Ibrahim, Nabi Ishaq, Nabi Yaqub, Nabi Yusuf as, sehingga merasa diri mereka sebagai bangsa budak yang selalu terbelenggu dan lupa terhadap keistimewaan-keistimewaan yang dianugerahkan Allah Subhanahu Wata’ala kepada mereka. Kita adalah umat terbaik dan umat yang dipilih Allah Subhanahu Wata’ala untuk memperjuangkan risalah akhir zaman yang berlaku universal dan global. Dan tentunya, mentalitas kita tidak seperti mentalitas Bani Israil di masa Nabi Musa as, yang melupakan kejayaan yang dicapai oleh pendahulunya bukan? Na’udzubillah…
Kita sebagai umat Islam hendaknya berusaha menjunjung tinggi dan memperjuangkan risalah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam sebagaimana yang pernah digemakan oleh al-Miqdad bin Amr ra saat diseru untuk berperang melawan kaum musyrikin oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam, “Wahai Rasulullah, majulah terus seperti yang diperlihatkan Allah kepada engkau. Kami akan bersamamu. Demi Allah, kami tidak akan berkata sebagaimana Bani Israil berkata kepada Musa, ‘Pergilah engkau sendiri bersama Rabbmu lalu berperanglah kalian berdua. Sesungguhnya kami ingin duduk menanti di sini saja.’ Tetapi, pergilah engkau bersama Rabbmu lalu berperanglah kalian berdua, sesungguhnya kami akan berperang bersama kalian berdua.”
Menyadari bahwa sejarah para pendahulu kita merupakan warisan kekayaan yang begitu agung, maka mengkaji, menelaah, mempelajari dan menghayati setiap langkah generasi terdahulu merupakan salah satu pra-syarat utama kembalinya kejayaan Islam. Membuka kembali lembaran-lembaran jihad, perjuangan dan pengorbanan mereka merupakan modal utama perjuangan umat Islam yang sungguh tiada ternilai harganya. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Yusuf: 111)
Menyelami sejarah para shalafus shalih bisa menjadikan seorang Muslim memandang rendah dunia, melawan daya tariknya dan kelezatannya yang fana. Dia juga akan menjadikan melangkah dan bergerak di bumi namun semangat dan cita-citanya melambung mengangkasa.
Salah seorang ulama rabbani yang sangat berpengaruh dalam membentuk mental sang penakluk Konstantinopel, Syaikh Aaq Syamsuddin setiap hari menceritakan sejarah perjuangan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam dan pengorbanannya dalam menegakkan Islam, serta menanamkan kepribadian Rasul melalui sirah-nya kepada Muhammad al-Fatih. Ia juga menceritakan kepahlawanan dan kegagahan para sahabat dan penakluk lainnya, kehebatan mereka yang tak terbendung, perjuangannya hingga berakhir syahid di jalan-Nya dan juga usaha-usaha yang dilakukan pendahulu mereka dalam upaya menaklukkan Konstantinopel. Dan itulah salah satu faktor penentu yang membuatnya sukses menaklukkan ibukota kerajaan Byzantium tersebut.
Dalam membaca sejarah, hendaknya kita melakukan analisis yang mendalam terhadap sejarah tersebut. Lembar demi lembar kita buka untuk menengok kembali peristiwa-peristiwa yang telah tertutupi debu selama berabad-abad lamanya.
Mari kita perhatikan, jalan mana yang saat ini kita tapaki, agar kita bisa ketahui kemana arah yang kita tuju dalam hidup ini. Seorang mukmin yang berakal akan memetik hikmah dan mengambil pelajaran yang menjadi sebab-sebab kejayaan Islam yang pernah diraih, juga tentunya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, yang pernah dilakukan oleh orang-orang yang terdahulu, yang menyebabkan mereka terkubur dalam puing-puing sejarah.*
Penulis adalah anggota Kelompok Studi Palestina (KSP). Kini magister Informatika Opsi Sistem Informasi Institut Teknologi Bandung (ITB)