Sambungan artikel PERTAMA
Oleh: Ilham Kadir
Bin Auf pernah menyumbangkan 500 kuda untuk kepentingan pasukan perang. Juga menyumbang 1500 kendaraan penuh logistik perang. Bahkan sebelum meninggal dunia, ia mewasiatkan agar 50 ribu dinar untuk kepentingan jihad di jalan Allah, 400 dinar untuk para veteran perang badar yang masih hidup. Utsman bin Affan yang terbilang kaya-raya pun mengambil bagiannya, dan berkata, Harta kekayaan Abdurrahman bin Auf halal dan bersih. Memakannya akan membawa keselamatan dan berkah.
Disebabkan kedermawanannya, hingga penduduk Madinah mengatakan, Seluruh penduduk Madinah menikmati kekayaan Abdurrhaman bin Auf. Sepertiga kekayaannya dipinjamkan pada mereka, sepertiga lagi dipergunakan untuk membayar utang-utang mereka dan sepertiga sisanya dibagi-bagikan pada mereka. Maka, rumahnya pun selalu ramai disesaki orang. Waktu pagi, mereka datang meminjam dana, siang hari mereka datang membayar pinjaman, dan sore hari mereka datang mengambil sedekah.
Ia belum merasa puas dan lega ketika hartanya belum bisa membantu perjuangan Islam dan membantu saudara-saudaranya. Dia adalah manusia yang memiliki iba dan keprihatinan bagitu tinggi. Pernah, saat ia puasa dan diberi makanan tuk berbuka, saat memandang makanan, seleranya tiba-tiba hilang. Menangis lalu berkata, Mush’ab bin Umair telah gugur sebagai syahid. Ia jauh lebih baik dariku. Ia dikafani dengan selembar kain. Jika ditutupkan ke kepalanya, kakinya kelihatan. Dan, jika ditutupkan ke kakinya, kepalanya terbuka. Hamzah juga gugur sebagai syahid, dia jauh lebih baik dariku. Ia tidak memiliki kafan kecuali selembar kain. Namun sekarang, kita diberi kekayaan dunia melimpah, aku khawatir, ini adalah pahala kebaikan yang disegerakan.
Di lain hari, para sahabat sedang berkumpul di rumahnya untuk satu jamuan, ketika makanan mulai dihidangkan, ia malah menangis. Para sahabat bertanya, Apa yang membuatmu menangis, Wahai Bin Auf? Ia menjawab, Hingga meninggal dunia, Rasulullah dan keluarganya belum pernah makan roti sampai kenyang. Aku melihat bahwa kematian kita ditunda untuk sesuatu yang lebih baik bagi kita.
Kekayaan, sama sekali tidak membuat Abdurrahman jadi orang congkak, sombong, dan angkuh, hingga dikatakan, Jika ada orang asing melihatnya duduk bersama pembantunya, orang itu tidak bisa membedakan mana majikan dan mana pembantu.
Namun jika orang asing itu sudah tahu bahwa dirinya adalah Abdurrahman bin Auf, maka ia akan terkagum, sebab, di Perang Uhud ia mengalami 20 luka, salah satunya membuat kakinya pincang, beberapa giginya tanggal, sehingga terpengaruh pada cara bicaranya. Ia berbadan tinggi, wajahnya bersinar, berkulit halus, kakinya pincang, dan sedikit cadel.
Kekayaan, sebagaimana teori Maslow dalam zaman modern ini, adalah sebagai alat untuk kekuasaan yang merupakan puncak eksistensi diri. Selain itu, orang kaya yang berkuasa, memiliki kekuasaan untuk menambah dan menumpuk harta demi mempertahankan kekayaan dan kekuasaan.
Tapi, teori Maslow terpatahkan oleh Abdurrahman bin Auf, karena dengan kekayaan melimpah ia malah mengelak untuk menjadi seorang penguasa bergensi. Saat itu, Khalifah Umar memilih enam orang yang diberi tanggungjawab untuk menggantikan dirinya pada akhir hayatnya. Dan, banyak sahabat berpenpadat kalau Abdurrahman bin Auf adalah orang yang tepat mengisi pos Khalifah. Abdurrahman menolak keras usulan itu, katanya, “Demi Allah, daripada aku menerima jabatan tersebut, labih baik kalian menusukkan pisau di leherku dari satu sisi hingga tembus di sisi lainnya.”
Akhirnya sebelum enam orang pilihan Umar sebagai sahabat terbaik penggantinya, Abdurrahman lebih dulu mengundurkan diri sebagai calon, dan pemilihan dilakukan untuk satu dari lima calon tersisa.
Sikap zuhudnya ini justru menjadikan ia sebagai sahabat paling layak menunjuk pengganti Umar, di mata lima sahabat tersisa yang punya hak pilih. Berkata Ali, “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda bahwa engkau adalah orang yang terpercaya oleh penduduk langit dan dipercaya oleh penduduk bumi.” Akhirnya, Abdurrahman bin Auf memilih Utsman bin Affan untuk menjadi khalifah setelah wafatnya Umar bin Khattab dan disetujui lima sahabat lainnya.
Sirah ini, juga sebagai pukulan telak [knock out] untuk penganut sekte sesat Syiah bahwa Imam Ali sama sekali tidak pernah merasa mendapatkan wasiat sebagai satu-satunya pengganti Nabi, sebab, untuk menggantikan kepemimpinan Umar bin Khattab pun ia serahkan pemilihannya kepada Abdurrahman bin Auf. Andai wasiat kepemimpinan itu benar adanya, pasti Ali bin Abi Thalib merasa paling berhak menjadi pengganti Umar bin Khattab.
Pada tahun ke-32 Hijriyah, Abdurrahman bin Auf meninggal dunia, dan Ummul Mu’minin, Aisyah ingin memberinya kemuliaan khusus yang tidak pernah diberikan kepada siapa pun. Menjelang kematiannya, ia ditawari untuk dimakamkan di area pemakaman Rasulullah, berdampingan dengan Abu Bakar as-Shiddiq dan Umar bin Khattab. Akan tetapi, muhajir kaya-raya itu adalah hasil didikan Nabi yang terbaik, ia merendahkan diri, merasa tak pantas disandingkan dengan orang-orang mulia itu.
Kecuali itu, sebelumnya ia telah berjanji bersama Utsman bin Madh’um untuk dikuburkan bersama. Ketika ajal menjemputnya, dan ruhnya bersiap untuk perjalanan baru, sambil menagis, bibirnya bergumam, Aku takut tidak bisa berkumpul dengan sahabat-sahabatku karena hartaku.
Akan tetapi kedamaian dari Allah menyelimutinya, wajahnya berseri-seri dan senyum tipis menghiasi bibirnya, ia memasang telinganya, seakan suara merdu menghampirinya, mungkin saja sedang mendengar sabda Sang Rasul, Abdurrahman bin Auf di surga.
Inilah tipe orang yang berhijrah, meninggalkan segala-galanya demi mendapat agama Allah, yang ternyata Allah balas dengan kesuksesan dunia-akhirat. Muhajir sukses adalah yang hijrah secara totalitas, meninggalkan jahiliyah, kemusyrikan, khurafat, kebiadaban, demi meraih kemuliaan dalam agama.
Abdurrahman bin Auf adalah tipologi manusia hijrah dambaan umat. Sukses bisnis, sukses membela agama, sukses berinfak, sukses menjaga kehalalan usaha, sukses menggenggam dunia dengan menolak jabatan, hingga sukses menjadi primadona manusia tanpan, kaya-raya, masuk surga. Semoga kita bisa sesukses Abdurrahman bin Auf. Selamat Tahun Baru Islam 1437 Hijriyah.*
Penulis peserta Kaderisasi Seribu Ulama (KSU) Baznas-DDII; Majasiswa Doktor Pendidikan Islam UIKA, Bogor