DUA belas Juli ini, tepat seratus enam belas (116) tahun yang lalu terlahir seorang Yahudi di Desa Lemberg, Galicia (sekarang Lviv di Ukrania) yang berada dibawah kerajaan Austria-Hungaria.
Keunikan dan kualitas diri putra Yahudi ini terletak pada bakatnya menguasai berbagai macam bahasa kuno seperti bahasa Ibrani dan Aramaic disamping bahasa ibunya yakni Jerman dan Polandia.
Di masa remajanya ia pun berhasil menguasai bahasa yang tidak kalah pelik seperti bahasa Arab, Persia, Prancis dan Inggris. Ia termasuk diantara keturunan Yahudi yang menentang Gerakan Penjajah Zionis yang muncul di akhir abad ke-19oleh pioneer-nya Theodor Herzl yang mengkhayalkan didirikannya ‘Negeri Israel’ yang dijanjikan, bervisi menyatukan ras Yahudi, dan menerapkan model politik apartheid terhadap non-Yahudi di tanah Palestina.
Masa muda Leo dipenuhi lika liku yang mungkin bisa disifati dengan kata ‘pemberontak’ dan kehidupan yang tidak linier.
Terdidik dengan pendidikan tradisi agama Yahudi tulen karena kakeknya yang salah seorang rabi Yahudi dan ayahnya yang juga terdidik dalam tradisi yang sama meski beralih profesi menjadi seorang pengacara. Asad muda telah memperlihatkan kualitasnya dalam menentukan pilihan hidupnya ketika di usia empat belas tahun ia mencoba melarikan diri dari sekolah untuk bergabung dalam tentara Austria meskipun akhirnya ditemukan ayahnya dengan bantuan kepolisian dan dipulangkan ke rumahnya di kota Wina.
Sebagaimana banyak remaja Barat yang pernah hidup dalam kubangan maksiat dan pesta, Asad muda pun pernah mengalaminya setelah ia memilih meninggalkan Universitas Wina dan malah memilih bekerja serabutan sebagai asisten bagi seorang direktur film di Berlin, kemudian menjadi operator telepon untuk agensi berita Amerika di Berlin sebelum akhirnya beralih menjadi jurnalis karena berhasil mewawancarai istri dari tokoh aktivis komunis Maxim Gorky (1868-1936).
Setelah pengalaman jurnalistik ini, Asad kemudian pindah tinggal dengan pamannya di Yerusalem yang waktu itu di tahun 1922 merupakan wilayah mandat dibawah Inggris. Dari sinilah ia mulai bekerja sebagai koresponden bagi surat kabar Jerman ternama Frankfurter Zeitung dan sukses menerbitkan buku tentang kecemasan bangsa Arab Palestina akan ancaman politik dari proyek zionisme Herzl waktu itu.
Asad akhirnya dipercaya untuk melakukan perjalanan jurnalistik lebih banyak ke kawasan Timur Tengah atas biaya surat kabar tersebut. Tahun 1926, sekembalinya dari perjalanan jurnalistiknya, Leo akhirnya mengikrarkan keyakinannya untuk memeluk Islam dan memilih nama Islami Muhammad Asad bagi dirinya. Asad merupakan terjemah Arab untuk Leopold, nama kelahirannya.
Fakta bahwa Leopold memilih Islam meski terlahir dalam tradisi Barat yang serba materialistis dan tradisi Yahudi yang mengusung keagungan rasial menyibakkan kualitas dari kepribadiannya.Ibarat intan berlian dalam kubangan lumpur, Asad bersinar cemerlang ketika kembali ke fitrah insaninya.
Setelah keislamannya, Asad pindah ke Arab Saudi dan tetap bekerja sebagai jurnalis kali ini untuk sebuah surat kabar di Swiss.
Di Saudi, Asad sempat tinggal dengan pengembara kaum Badui dan mengarungi samudera pasir dengan unta, sebelum akhirnya bertemu dengan Pangeran Faisal di perpustakaan Masjidil Haram.
Dari sinilah, ia diperkenalkan dengan Raja Abdul Aziz, pendiri negara Saudi, dan akrab dengannya. Asad beroleh kepercayaan khusus dari Raja Abdul Aziz dan sehari-hari berdiskusi dengannya dan bahkan memperoleh tugas ke Kuwait menyelidiki rencana pemberontakan oleh Faisal al-Dawish terhadap pemerintahan al-Saud. Rencana yang menurut Asad dibantu oleh persenjataan dan dana penjajah Inggris guna membuka ‘jalur darat’ ke India dengan menyingkirkan al-Saud.
Setelah menuntaskan tugasnya di Saudi Arabia, berhaji, dan menyelami budaya Arab, pada tahun 1932 Asad akhirnya pindah ke negeri India yang waktu itu dibawah penjajahan Inggris.
Disinilah, Asad berjumpa dengan sahabat langgengnya Sir Muhammad Iqbal, seorang pemikir dan filsuf Muslim abad modern yang banyak menelurkan karyanya lewat puisi-puisi yang dalam maknanya. Iqbal pula yang merupakan seorang pemikir yang menggagas berdirinya negeri muslim yang independen yang di kemudian hari dinamakan Pakistan.
Ia meminta Asad agar membantunya merealisir rencana tersebut. Setelah terwujudnya pemisahan Pakistan pada 1947, atas jasanya Asad dianugerahkan kewarganegaraan penuh dan diamanahkan sebagai Direktur Departemen Rekonstruksi Islam yang membuatnya ambil bagian dalam menyusun Konstitusi pertama Pakistan.Di tahun 1949 ia juga ditugaskan sebagai kepala utusan Timur Tengah untuk berdiplomasi dengan negeri muslim Timur Tengah, dan pada 1952 diangkat sebagai Menteri Pakistan Luar Biasa Berkuasa Penuh untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York. */Ady C. Effendy, MA, pemerhati masalah peradaban