Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

“Benang Merah” Keilmuan Imam Al Ghazali dan Pembebasan Al Quds

Thoriq
Terakhir diupdate: 15 Februari 2023 17:29 5:29 pm
Thoriq
Dipublikasikan 1 September 2020 11:45
Bagikan
Bagikan

Para pembebas Baitul Maqdis memiliki sanad ilmu yang mengalir hingga sampai ke Imam Al-Ghazali

Hidayatullah.com | BERIKUT murid-murid Al Ghazali yang memiliki peran besar dalam mendidik generasi yang memiliki andil besar dalam pembebasan Baitul Maqdis atau Al Quds:

Muhammad bin Yahya

Di antara para murid Imam Al Ghazali adalah seorang ulama yang bernama Muhammad bin Yahya. Dia seorang ulama besar Mazhab Asy Syafi`i di Kharasan. Muhammad bin Yahya memiliki beberapa murid, salah satunya adalah Abu Bakr Al Barqani. Abu Bakr Al Barqani adalah seorang faqih ditugaskan oleh Sultan Nuruddin Mahmud Zanki untuk mengajar di madrasah yang ia bangun di Mosul. (Al Bidayah wa An Nihaya, 12/326).

Di antara murid Muhammad bin Yahya adalah Abu Ma’ali Mas’ud An Naisaburi. Dari Baghdad ia pergi menuju Damaskus, mengajar di zawiyah Al Ghazaliyah, lalu ke Halab mengajar di dua madrasah yang diwakafkan oleh Sultan Nuruddin Mahmud Zanki. (Mir’ah Al Jinan, 3/413).

Baca Juga

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

Muhammad bin Yahya juga memiliki murid bernama Quthbuddin An Naisaburi. Quthbuddin An Naisaburi adalah ulama penulis kitab aqidah yang diajarkan Shalahuddin Al Ayyubi kepada anak-anaknya, Quthbuddin An Naisaburi, adalah murid dari Umar bin Sahl dan Muhammad bin Yahya yang kedunya merupakan murid Al Ghazali. (Lihat, Al Bidayah wa An Nihayah, 12/383).

Bahkan Shalahuddin Al Ayyubi saat masih remaja di Damaskus, ia telah menghafal kitab aqidah yang ditulis oleh Quthbuddin An Naisaburi ini. (Al Mawa’idz wa Al I’tibar, 2/358).  Muhammad bin Yahya juga memiliki murid yang menjadi ulama besar, yakni Najmuddin Al Khubusyani, seorang faqih juga seorang sufi. Sedangkan Najmuddin Al Khubusyani adalah ulama membantu Shalahuddin Al Ayyubi menumbangkan dinasti Fathimiyah merupakan murid dari Muhammad bin Yahya yang juga merupakan murid dari Al Ghazali. (Husn Al Muhadharah fi Tarikh Al Mishr wa Al Qahirah, 1/406).

Sebagaimana juga Shalahuddin Al Ayyubi selalu meminta fatwa kepada para ulama dalam masalah yang berhubungan dengan pemerintahan. Di mana ia meminta fatwa kepada para fuqaha salah satunya adalah kepada Najmuddin Al Khubusyani sebelum mengakhiri Dinasti Al Fathimiyah. (dalam Wafayat Al A’yan, 3/111).

Shalahuddin Al Ayyubi menyerahkan wakaf madrasah yang dikenal sebagai madrasah Ash Shalahiyyah itu kepada Syeikh Najmuddin Al Khubusyani sebagai nadhir (penanggung jawab wakaf) sekaligus pengajarnya. (dalam Husn Al Muhadharah, 2/257).

Umar bin Sahl

Umar bin Sahl merupakan murid Imam Al Ghazali yang menjadi guru juga bagi Quthbuddin An Naisaburi, penulis kitab aqidah untuk Sulthan Shalahuddin Al Ayyubi. (Lihat, Al Bidayah wa An Nihayah, 12/383).

Marwan bin Ali Ath Thanzi

Imaduddin Zanki, ayah dari Sultan Nuruddin Zanki sang ayah telah menjadikan murid Al Ghazali yakni Marwan bin Ali Ath Thanzi sebagai wazir, ketika ia berkuasa atas Mosul. Sedangkan Marwan guru Al Hafidz Ibnu Asakir. (dalam Ad Daris fi Tarikh Al Madaris, 1/136).

Al Hafidz Ibnu Asakir memiliki peran besar terhadap terbentuknya pribadi seorang Nuruddin Zanki, dan gerakan jihad yang diembannnya. Disamping menyampaikan Hadits, Ibnu Asakir juga memberikan arahan kepada Nuruddin Zankid an para pejabatnya, di mana ulama ini juga hadir di majelis para pejabatnya, ia pun memberikan nasihat. Ibnu Asakir menggambarkan kondisi majelis Nuruddin Zanki di waktu itu kepada Shalahuddin Al Ayyubi, ”Di masa-masa sebelumnya kami hadir dalam majelis Nuruddin Zanki, dan keadaan kami sebagaimana dikatakan,’seakan-akan di atas kepala kami hinggap seekor burung’, majelis kami penuh wibawa dan karisma. Jika Nurrudin berbicara, maka kami diam. Jika kami berbicara maka ia diam.” (dalam Ar Raudhatain fi Akhbari Ad Daulatain, 1/13).

Nuruddin Zanki amat menghormati Ibnu Asakir, ia pun mendirikan Darul Hadits An Nuriyah, sekolah yang khusus mengajarkan hadits untuk Al Hafidz Ibnu Asakir ini. Darul Hadits An Nuriyah sendiri merupakan madrasah hadits pertama kali yang dibangun di dunia Islam. (dalam Manadimah Al Athlal, hal. 59).

Jamal Al Islam As Sulami

As Sulami adalah seorang ulama besar yang dipuji oleh Imam Al Ghazali. As Sulami bermulazamah kepada Imam Al Ghazali saat ia tinggal di Damaskus. Imam Al Ghazali juga yang mendorong agar ia menjadi pengganti Syeikh Abu Nashr Al Maqdisi, kelak juga gurunya itu wafat. (dalam Siyar A’lam An Nubala`, 20/33).

Kepada As Sulami inilah Al Hafidz As Silafi berguru. Shalahuddin Al Ayyubi juga meminta fatwa kepada Al Hafidz As Silafi, selaku ulama Asy Syafi’iyah mengenai orang-orang Yahudi di Iskandariyah yang menginginkan independensi dalam menerapkan syariat mereka, termasuk dalam hal warisan. As Silafi juga guru Shalahuddin Al Ayyubi di bidang hadits. (dalam Thabaqat Asy Syafi’iyah Al Kubra, 6/41,42).

Al Hafidz As Silafi juga guru para pejabat penting Shalahuddin Al Ayyubi, seperti Al Qadhi Al Fadil, seorang perdana menteri sekaligus penulis surat Shalahuddin Al Ayyubi. Kerena pentingnya posisi Al Qadhi Al Fadhil, Shalahuddin Al Ayyubi menyatakan,”Sesungguhnya aku menaklukkan negeri-negeri tidak dengan pedang kalian, tapi dengan pena Al Fadhil.” (dalam Mir’ah Az Zaman, 22/83).

Baik Al Hafidz Ibnu Asakir maupun Al Hafidz As Silafi juga guru bagi Faqih Isa Al Hikkari, ulama yang menjabat sebagai panglima perang Shalahuddin Al Ayyubi yang juga menjadi penasihatnya. Shalahuddin Al Ayyubi pun selalu mentaati nasihatnya dan tidak pernah bertindak keluar dari apa yang disampaikan oleh Al Hikkari. Bahkan Faqih Al Hikkari terkadang menyampaikan persoalan dimana hal itu tidak akan mampu disampaikan oleh pihak lain. (Al Ans Al Jalil, 2/143).

Abu Ali Al Ghassani

Abu Ali Al Ghassani bertemu dengan Imam Al Ghazali ketika ia berada di Hijaz. Ia pun membaca kitab Imam Al Ghazali Bidayah Al Hidayah di hadapan penulisnya itu. Sedangkan Abu Ali Al Ghassani adalah guru Al Hafidz As Silafi dan As Silafi mencatatnya dalam Mu’jam As Safar. (dalam Mu’jam As Safar, hal. 270).

Najmuddin Ath Thusi

Ada pula murid Imam Al Ghazali yang berasal dari Kota Thus, yakni Najmuddin Ath Thusi. Najmuddin Ath Thusi adalah guru dari Ibnu Syadad qadhi militer Shalahuddin Al Ayyubi sekaligus penasihatnya. (dalam Siyar A’lam An Nubala, 20/540).

Jika orang-orang penting di sekeliling Nuruddin Mahmud Zanki dan Shalahuddin Al Ayyubi adalah para murid dari murid-murid Al Ghazali, maka tidak heran jika mereka juga mengedepankan aspek ruhiyah dalam pendidikan. Keduanya banyak membangun zawiyah dan khanqah untuk para sufi juga amat menghormati komunitas tersebut. Bahkan Shalahuddin juga mewakafkan kekayaannya untuk zawiyah Al Ghazaliyah di Damaskus.*

Redaktur: Thoriq
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Al QudsBaitul MaqdisImam Al GhazalijihadNurruddin Mahmud ZankiShalahuddin al Ayyubisufisme
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Anggota DPR Ingatkan Pemerintah Soal RUU CILAKA: Pekerja Masih Menolak
Tulisan selanjutnya Duta Islam di Selandia Baru

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait

Berita
18 Juli 2026 09:49
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’
Hukuman Mati In Absentia Bagi Pemimpin RSF Mohamed Hamdan Daglo

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?