Hidayatullah.com | DALAM buku “Kenang-kenangan Hidup II” (1974:200), Hamka mengisahkan bahwa beliau pernah diserang habis-habisan oleh A. Hassan. Bahkan, dikeluarkan edisi Al-Lisan khusus mengkritik pedas ulama yang bernama lengkap Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) itu.
Kenang Hamka, “Di dalamnya Tuan A. Hassan memuntahkan segala caci maki dan penghinaan, ejekan dan tudingan , yang kalau jiwa tidak kuat bisa menghancurkan mental dibuatnya.” Sampai Indonesia merdeka pun, kata Hamka, A. Hassan masih melancarkan kritiknya sebagaimana sebelumnya.
Kritik A. Hassan melalui Majalah Al-Lisan, bisa dibaca pada koleksi Saudara Wahyu Indra Wijaya (yang pernah di-uploud di FB-nya). Pada Al-Lisaan No. 32, edisi 10 Sya’ban 1357 (5 Oktober 1938), ada beberapa artikel yang ditujukan kepada Hamka secara pribadi dan majalah Pedoman Masjarakatnya.
Beberapa artikel yang ditujukan pada Hamka dan majalahnya misalnya: (1) Mendjawab Pedoman Masjarakat (2) Cursus Bahasa ‘Arab Boeat Toean Hamka (3) Hashil didikan Hamka (4) Silat t. Hamka tentang Roman (5) Dan toan Hamka berkata (6) Di Sekitar Hamka (7) Kritiek Terhadap Tjeritera Roman.
Menurut Hamka, kritikan yang ditujukan A. Hassan kepadanya karena ia memiliki pendapat yang berbeda dengan A. Hassan yang dituangkan dalam majalah Pedoman Masjarakat. Namun, kalau kita membaca majalah Al-Lisaan terkhusus tema “Mendjawab Pedoman Masjarakat”. Disebutkan bahwa yang mulai terlebih dulu adalah Hamka, yang menulis pada majalah Pedoman Masjarakat No. 15-21.
Di situ berisi celaan kepada kaum Tua dan kaum Muda, menyambuk sana, memecut sini, menendang kanan, menendang kiri. Maka ada surat-surat pembaca yang meminta kepada majalah Pembela Islam untuk menjawab artikel yang tak sopan dan tak jujur serta menyakiti kaum Tua dan kaum Muda.
Sepanjang pengetahun penulis, A. Hassan memang tidak sembarangan mengeluarkan kata-kata pedas dan celaan jika tidak diserang terlebih dahulu. Sebagai contoh, saat Soekarno menulis artikal “Memudakan Pengertian Islam” yang berisi kata-kata kasar, A. Hassan membalasnya dengan artikel yang tak kalah kritis dan kasar “Membudakkan pengertian Islam.”
***
Sedangkan kritikan A. Hassan pasca kemerdekaan, misalnya bisa dibaca pada buku berjudul “Kritik I” (1952) dan “Kritik II” (1953). Di antara kritik A. Hassan seperti: kritik atas Hamka yang memuji penulis Ahmadiyah pada sambutan buku Capita Selecta karya M. Natsir; kritik terhadap Hamka yang menjadi pengajar ushul fikih di perguruan tinggi Islam Jakarta; pandai membuat roman tjabul dan lain sebagainya.
Apa A. Hassan melakukan itu semua karena benci atau tak suka kepada Hamka? Sama sekali tidak. Semua kritik yang dilontarkan, tidak lepas dari bingkai Surah Hud ayat 88 yang intinya untuk niat ikhlas melakukan perbaikan, bukan kerusakan. Dalam dunia nyata, memang A. Hassan meski terlihat sangat keras dan tanpa kompromi, tapi dalam pergaulan sangat lembut sebagaimana pengakuan Z.A. Ahmad dalam buku “Riwayat Hidup A. Hassan” anggitan Tamar Djaja.
Hamka sendiri tidak pernah menyimpat sakit hati hingga dendam. Buktinya, saat mendapat gelar doctor honoris causa, pada kesempatan itu beliau tak lupa menyebut secara singkat bagaimana kontribusi positif A. Hassan dalam bidang tajdid di Indonesia. Beliau juga memuji kuatnya hujjah A. Ahassan. Bahkan beliau juga sempat mendoakan A. Hassan yang sakit hingga dipotong kakinya.
Menurut Babe Ridwan Saidi dalam buku “Zamrud Khatulistiwa” (1993) ada kata kunci yang bisa dilihat dari sosok Hamka yang begitu lapang hati, yaitu keikhlasannya. Maka menarik apa yang ditulis Budayawan Ridwan terkait sikap Hamka terhadap A. Hassan yang begitu luhur, “Hanyalah hati yang ikhlas yang dapat mengucapkan pidato semacam ini, karena ikhlasnya itulah Hamka menyadari bahwa olok-olok A. Hassan bukan sentiment pribadi, tetapi karena ikhlas jua adanya.”
***
Amat menarik kalau kita perhatikan polemik antar A. Hassan dan Hamka. Dalam masalah kebenaran yang diyakini, keduanya bisa saling kritik walau dengan sepedas apapun dan itu merupakan hal wajar. Namun, semua itu tidak sampai membuat masing-masing menjatuhkan lawan polemiknya, hingga memicu dendam membara, merusak persaudaraan dan kehilangan rasionalitas. Memang benar kata Ridwan Saidi, hanya ulama yang berhati ikhlas yang mampu bersikap seperti keduanya.*/Mahmud Budi Setiawan