Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Mengarifi Polemik A. Hassan dengan Hamka

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 10 September 2019 16:21 4:21 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 10 September 2019 16:21
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com | DALAM buku “Kenang-kenangan Hidup II” (1974:200), Hamka mengisahkan bahwa beliau pernah diserang habis-habisan oleh A. Hassan. Bahkan, dikeluarkan edisi Al-Lisan khusus mengkritik pedas ulama yang bernama lengkap Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) itu.

Kenang Hamka, “Di dalamnya Tuan A. Hassan memuntahkan segala caci maki dan penghinaan, ejekan dan tudingan , yang kalau jiwa tidak kuat bisa menghancurkan mental dibuatnya.” Sampai Indonesia merdeka pun, kata Hamka, A. Hassan masih melancarkan kritiknya sebagaimana sebelumnya.

Kritik A. Hassan melalui Majalah Al-Lisan, bisa dibaca pada koleksi Saudara Wahyu Indra Wijaya (yang pernah di-uploud di FB-nya). Pada Al-Lisaan No. 32, edisi 10 Sya’ban 1357 (5 Oktober 1938), ada beberapa artikel yang ditujukan kepada Hamka secara pribadi dan majalah Pedoman Masjarakatnya.

Beberapa artikel yang ditujukan pada Hamka dan majalahnya misalnya: (1) Mendjawab Pedoman Masjarakat (2) Cursus Bahasa ‘Arab Boeat Toean Hamka (3) Hashil didikan Hamka (4) Silat t. Hamka tentang Roman (5) Dan toan Hamka berkata (6) Di Sekitar Hamka (7) Kritiek Terhadap Tjeritera Roman.

Baca: Logika Jenaka Tuan A. Hassan 

Menurut Hamka, kritikan yang ditujukan A. Hassan kepadanya karena ia memiliki pendapat yang berbeda dengan A. Hassan yang dituangkan dalam majalah Pedoman Masjarakat. Namun, kalau kita membaca majalah Al-Lisaan terkhusus tema “Mendjawab Pedoman Masjarakat”. Disebutkan bahwa yang mulai terlebih dulu adalah Hamka, yang menulis pada majalah Pedoman Masjarakat No. 15-21.

Baca Juga

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

Di situ berisi celaan kepada kaum Tua dan kaum Muda, menyambuk sana, memecut sini, menendang kanan, menendang kiri. Maka ada surat-surat pembaca yang meminta kepada majalah Pembela Islam untuk menjawab artikel yang tak sopan dan tak jujur serta menyakiti kaum Tua dan kaum Muda.

Sepanjang pengetahun penulis, A. Hassan memang tidak sembarangan mengeluarkan kata-kata pedas dan celaan jika tidak diserang terlebih dahulu. Sebagai contoh, saat Soekarno menulis artikal “Memudakan Pengertian Islam” yang berisi kata-kata kasar, A. Hassan membalasnya dengan artikel yang tak kalah kritis dan kasar “Membudakkan pengertian Islam.”

Baca: Buya Hamka dan Pesan Ghīrah 

***

Sedangkan kritikan A. Hassan pasca kemerdekaan, misalnya bisa dibaca pada buku berjudul “Kritik I” (1952) dan “Kritik II” (1953). Di antara kritik A. Hassan seperti: kritik atas Hamka yang memuji penulis Ahmadiyah pada sambutan buku Capita Selecta karya M. Natsir; kritik terhadap Hamka yang menjadi pengajar ushul fikih di perguruan tinggi Islam Jakarta; pandai membuat roman tjabul dan lain sebagainya.

Apa A. Hassan melakukan itu semua karena benci atau tak suka kepada Hamka? Sama sekali tidak. Semua kritik yang dilontarkan, tidak lepas dari bingkai Surah Hud ayat 88 yang intinya untuk niat ikhlas melakukan perbaikan, bukan kerusakan. Dalam dunia nyata, memang A. Hassan meski terlihat sangat keras dan tanpa kompromi, tapi dalam pergaulan sangat lembut sebagaimana pengakuan Z.A. Ahmad dalam buku “Riwayat Hidup A. Hassan” anggitan Tamar Djaja.

Hamka sendiri tidak pernah menyimpat sakit hati hingga dendam. Buktinya, saat mendapat gelar doctor honoris causa, pada kesempatan itu beliau tak lupa menyebut secara singkat bagaimana kontribusi positif A. Hassan dalam bidang tajdid di Indonesia. Beliau juga memuji kuatnya hujjah A. Ahassan. Bahkan beliau juga sempat mendoakan A. Hassan yang sakit hingga dipotong kakinya.

Menurut Babe Ridwan Saidi dalam buku “Zamrud Khatulistiwa” (1993) ada kata kunci yang bisa dilihat dari sosok Hamka yang begitu lapang hati, yaitu keikhlasannya. Maka menarik apa yang ditulis Budayawan Ridwan terkait sikap Hamka terhadap A. Hassan yang begitu luhur, “Hanyalah hati yang ikhlas yang dapat mengucapkan pidato semacam ini, karena ikhlasnya itulah Hamka menyadari bahwa olok-olok A. Hassan bukan sentiment pribadi, tetapi karena ikhlas jua adanya.”

***

Amat menarik kalau kita perhatikan polemik antar A. Hassan dan Hamka. Dalam masalah kebenaran yang diyakini, keduanya bisa saling kritik walau dengan sepedas apapun dan itu merupakan hal wajar. Namun, semua itu tidak sampai membuat masing-masing menjatuhkan lawan polemiknya, hingga memicu dendam membara, merusak persaudaraan dan kehilangan rasionalitas. Memang benar kata Ridwan Saidi, hanya ulama yang berhati ikhlas yang mampu bersikap seperti keduanya.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:A. HassanBuya HamkapersaudaraanPersispolemikUkhuwah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya PBNU Kritik Pasal RUU Pesantren yang Beri Ruang Intervensi Pemerintah
Tulisan selanjutnya Pakistan Tangkap Demonstran setelah Demo Pro-Kemerdekaan Kashmir

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap

Berita
14 Juli 2026 19:51
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?