Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Z.A. Ahmad: Penjara Sebagai Universitas Nabi Yusuf

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 27 Juli 2020 10:58 10:58 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 26 Juli 2020 16:35
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com | PADA tahun 1934, seorang ulama, jurnalis, politikus dan penulis produktif Zaenal Abidin Ahmad ditahan oleh pemerintahan Belanda. Dalam buku “Riwayat Hidup dan Perjuangan H. Zainal Abidin Ahmad” (1985: 64-70) dikisahkan secara lugas cobaan yang menimpa mantan Ketua Majelis Fatwa Dewan Dakwah Islamiyah ini.

Dalam majalah Pandji Islam pimpinan beliau, pada saat itu dikabarkan bahwa, “Hari Senin 6 Agustus 1934 kira-kira pukul 2 siang, kantor redaksi Pandji Islam jalan Terarai no. 32 didatangi beberapa orang polisi, terus digeledah Pandji Islam no. 1; berhubung persdelict sebuah karangan, syair berkepala ‘Rayuan Ibu Indonesia’ yang ditandatangani oleh Sjah Z.”

Intinya, ulama jebolan Thawalib ini dipenjara gara-gara kena delik pers dalam salah satu artikel di Pandji Islam berjudul ‘Rayuan Ibu Indonesia.’ Tak hanya ditahan, majalah pimpinan beliau pun juga dibeslag (disita) oleh Pemerintahan Belanda karena dianggap berbahaya menurut mereka. Padahal, tulisan itu ditujukan semata-mata pada agama.

Tulisan itu menurut H.M. Joesoef Ahmad dianggit oleh anggota redaksi Pandji Islam bernama Syamsuddin Zakaria yang memakai nama samaran Djalin Syah. Sebenarnya ia siap mempertanggungjawabkan tulisannya, namun yang mengharukan justru Z. A. Ahmad berkata, “Saya yang bertanggung jawab.” Sebagai pemimpin, beliau merasa wajib untuk menanggung segala akibatnya. Akhirnya beliau mendekam di penjara dalam bui Suka Mulia, Medan selama enam bulan.

Baca Juga

Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo
Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI
Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

Bersamaan dengan menjalani masa-masa di penjara, cobaan berikutnya menerpa Sang Ideolog Masyumi ini. Anak beliau yang masih berusia enam bulan wafat. Menariknya, segenap cobaan yang mendera itu dihadapi oleh beliau dengan penuh ketabahan hati dan tawakkal yang tinggi. Apa yang sedang dihadapi, dilalui dengan senyum, lapang dada, hati gembira, iman, dan kesabaran.

Penjara sama sekali tidak membuat hati beliau ciut dan berputus asa. Justru di dalamnya beliau gunakan untuk merenungkan dan mengevaluasi diri. Ada kisah menarik sewaktu beliau baru masuk ke dalam penjara. Dikisahkan bahwa saat itu dikumpulkan bersama penjahat. Biasanya dalam penjara, orang yang baru masuk diajak berkelahi oleh penguasa penjara.

Waktu itu, di penjara Suka Mulia beliau satu tempat dengan jagoan napi bernama Hasan.  Seorang pelaku kriminil pemerkosaan dan pembunuhan yang divonis belasan tahun penjara. Apa Z.A. Ahmad takut? Sama sekali tidak. Malah dengan sangat meyakinkan beliau menggertak napi tersebut dan menawarkan kepadanya untuk belajar berkelahi dengan tangan kosong. Selamatlah beliau dari perkelahian.

Momen tersebut digunakan dengan sebaik-baiknya. Keduanya pun menjadi dekat. Z. A. Ahmad melakukan kegiatan pengajaran dan dakwah sehingga beliau dipanggil “guru si Hasan”. Si Hasan insaf dan mau meninggalkan tindak kejahatannya. Orang-orang dipenjara pun kemudian segan dengan beliau.

Di penjara beliau tidak membiarkan kezaliman terjadi. Saat diberikan tugas berat dan tak wajar oleh petugas penjara asal Jerman. Dengan lantang dan sangat berani beliau membentaknya sehingga orang itu mundur teratur. Kejadian ini membuat teman-teman sepenjara semakin menaru hormat kepada beliau. Meski usia masih muda, beliau yang bertepatan dengan hari raya Idul Fitri diberi kepercayaan untuk menjadi khatib dalam penjara. Khutbahnya membuat banyak orang sadar. Bahkan ada yang berjanji selepas dari penjara akan menimba ilmu kepada beliau. Selama enam bulan itu, beliau berusaha memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya untuk dakwah dan umat.

Bagi penulis kelahiran Sulit Air Sumatra 1911 ini,  penjara sebagai Universitas Nabi Yusuf. Dan selama enam bulan itu, kerja-kerja dakwah Nabi Yusuf beliau lakukan dengan sangat baik. Sebagaimana Yusuf, beliau dijebloskan bukan karena tindakan kriminal seperti korupsi dan semacamnya, tapi karena tidak mau lepas tanggung jawab sebagai pemimpin. Dalam penjara beliau laksana obor yang menerangi kelamnya laku para narapidana. Demikianlah memang seharusnya seorang Mukmin. Kehadirannya laksana cahaya, yang memberi penerangan bagi orang sekitarnya.

Dari perjalanannya selama dipenjara saja, pembaca bisa menemukan bahwa beliau begitu tabah, sabar, berani dan bertanggung jawab bahkan tak melupakan dakwah. Bagaimana pun tantangan yang dihadapi, tidak membuat beliau patah arang, semua dijalani dengan penuh ketabahan. H. M. Yunan Nasution, salah satu teman baik beliau pada Oktober 1984 memberi kesaksian, “Salah satu yang amat mengesankan dari kehidupan almarhum ialah ketabahan hatinya yang tidak bergoncang menghadapi tantangan demi tantangan.” Ketabahan itu masih bisa terlihat sampai waktu dirawat di rumah sakit Islam Jakarta dan hingga menuju alam baka pada tahun 1983.*/ Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:dakwahmasyumiPandji Islampenjaraperspers IslamZaenal Abidin Ahmad
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Dimensi Hukum dalam Al-Quran
Tulisan selanjutnya Hidayah Itu Hak Allah, Maka Perbanyaklah Doa

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September

Berita
31 Agustus 2026 20:47
Suriah Angkat Pemimpin YPG Jadi Penasihat Kepresidenan
Wali Kota Berlin Bilang Hacker Meretas Sistem dan Mencuri Data Ibu Kota Jerman
Sembunyikan Pisau di Kaos Kaki Pria Indonesia Terancam Hukuman Cambuk di Singapura
Turki Luncurkan Atlas Sejarah Islam Digital, Rekam Berbagai Peradaban Selama 1.300 Tahun

Terbaru

  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK
  • PM Spanyol Sebut Rusia dan ‘Israel’ Sebarkan Hoaks Krisis Imigran Ceuta
  • Irak Tolak Kehadiran Pasukan Koalisi AS, Harus Pergi pada 30 September
  • Pimpin APHIDA 2026-2030, Fadlurrahman: Bidik Penguatan Bisnis Jamaah hingga Pasar Global
  • DPP Hidayatullah Dorong APHIDA Perkuat Kolaborasi dan Jaringan Bisnis untuk Hidayatullah
  • Pelacur Thailand akan Kedatangan Pelanggan Potensial 5 Ribu Tentara Amerika
  • UEA Bantah Laporan Serangan di Pangkalan Udara Al Minhad

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama

8 Mei 2026 08:59
Sejarah

KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

6 Mei 2026 08:34
Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?