Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Dr. Abu Hanifah: Komandan Hizbullah Sukabumi dan Penulis Produktif

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 23 Mei 2022 07:35 7:35 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 23 Mei 2022 10:00
Bagikan
Dr. Abu Hanifah: Komandan Hizbullah Sukabumi
Bagikan

Abu Hanifah digelari Datuk Maharaja Emas, komandan Hizbullah daerah Sukabumi dan merangkap ketu Komite Nasional Indonesia Daerah

Hidayatullah.com | ABU HANIFAH adalah tokoh multitalenta. Di samping sebagai dokter, beliau juga penulis produktif, pejuang militer, politisi, filsuf, sastrawan, seniman dan masih banyak lagi yang biasa disematkan kepada beliau yang dikenal dengan Prof. Dr. Abu Hanifah. Ia digelari Datuk Maharaja Emas.

Abu Hanifah dilahirkan di Padang Panjang, Sumatra Barat, pada 6 Januari 1906. Dan beliau wafat pada tanggal 4 Januari 1980 di Rumah Sakit Gatot Subroto. Sebelum meninggal, beliau selama 7 bulan menderita penyakit lever dan komplikasi lainnya.

Saat meninggal, beliau meninggalkan seorang istri bernama Hafni Zahra dan tiga orang anak: Elsam, Chalil dan Siti Nurhati. Dari ketiga anaknya ini, Prof. Abu Hanifah mendapat empat cucu. Inilah profil sekilas terkait tokoh yang hendak ditulis dalam artikel ringkas ini.

Pada tulisan singkat ini, saya tidak menyinggung tentang aktivitas politiknya di Masyumi, atau secara khusus tentang perannya dalam kedokteran, mungkin bisa dibahas pada kesempatan lain. Yang akan dibahas pada artikel ini adalah dua poin yang menggambarkan keterlibatannya dalam perjuangan di ranah militer dan produktifitasnya dalam hal menulis.

Baca Juga

Syair Ahmad Baktsir dan Detak Jantung Diplomasi Kemerdekaan RI di Kairo
Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI
Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina

Pada tahun 1945 – 1947, beliau diberi tugas mengepalai Rumah Sakit St. Lidwina milik Yayasan Katholik. Pada masa-masa pendudukan Jepang ini, beliau ditunjuk menjadi komandan Hizbullah daerah Sukabumi dan merangkap ketu Komite Nasional Indonesia Daerah. Bahkan, pada bulan September 1946, di Sukabumi juga didirikan Majelis Pembela Perjuangan Rakyat (MPPR) yang pengurusnya antara lain: Abu Hanifah, RS. Puraatmadja dan RM. Priatman (Baca: G.A. Ohorella, Prof. Dr. Abu Hanifah Dt. M.E. Karya dan Pengabdiannya, 1985: 43).

Pada momentum ini, sebagai muslim dan tokoh Masyumi, beliau untuk menyelamatkan gereja-gereja Katholik di Sukabumi. Karena inilah, di kemudian hari beliau mendapat bintang kehormatan: Medal of the Italian Navy dan Medal of Merit, Holy See dari Paus Yohannes XXIII di Roma. Bayangkan! Tempat ibadah agama lain saja dibela, apalagi agamanya sendiri.

Sebuah gambaran luar biasa bagi seorang komandan Hizbullah yang memiliki toleransi yang begitu tinggi. Bahkan mengelolah rumah sakit milik yayasan Katholik Sukabumi. Namun, tidak membuatnya menjadi Katholik dan kehilangan toleransi.

Perjuangan beliau pada ranah ini bukan tanpa risiko. Pada Agresi belanda I (20 Juli 1947), Abu Hanifah tertangkap. Ia pun dibawa ke Kuartir Besar Polisi Militer Bogor. Sempat ada tawaran menggiurkan asal ia mau menandatangani surat perjanjian, yaitu: berangkat ke Eropa dengan mendapat jaminan uang 50 ribu gulden ditambah 800 gulden perbulan sebagai uang saku.

Tapi, apa ini membuat beliau terbeli idealismenya? Sama sekali tidak. Ia tidak mau menggadaikan cita-cita hanya demi imbalan materi, sebesar apapun itu. Akibatnya, ia dijebloskan ke Penjara Glodok. Demikianlah memang risiko pejuang. Dan itu semua dihadapi dengan penuh ketabahan.

Beiau juga dikenal sebagai penulis produktif. Bukan hanya dalam bahasa Indonesia, tapi juga bahasa asing. Di antara karyanya: Ibu dan Anak (dalam bidang kedokteran), Taufan di Atas Asia, Dewi Reni, Insan Kamil, Rokayah, Mambang Laut, Dokter Rimbu (dalam bidang Novel), Rintisan Filsafat dll; dengan nama samaran El-Hakim dan masih banyak bidang lainnya.

Satu hal yang sangat mengharukan adalah di masa-masa menjelang akhir hayatnya. Dalam artikel berjudul “Prof. Dr. Abu Hanifah Seorang Pejuang Beridealisme Tinggi” karya Djaliar Naulah yang diterbitkan majalah Kiblat No. 17 (XXVII: 1980), ada kisah menarik yang menggambarkan semangat menulis Abu Hanifah begitu tinggi meskipun dalam kondisi sakit dan kakinya diamputasi.

Tiga bulan pasca kakinya diamputasi, Moh. Roem sempat berkunjung menemui beliau. Dan pada waktu itu, Abu Hanifah mengatakan, tidak pernah akan turun semangat walaupun kaki hanya tinggal sebelah saja. Ia akan tetap terus menulis.

Kepada Djaliar Naulah pun, saat Abu Hanifah masih di ranjang Rumah Sakit, hal yang sama juga dikatakan oleh oleh tokoh yang punya nama pena El-Hakim ini. “Saya tidak pernah merasa sedih karena kehilangan sebelah kaki. Yang terutama saya perlukan otak yang sehat dan pena. Selama dua itu masih ada, saya tidak pernah merasa kehilangan. Insya Allah sebulan lagi saya akan pulang dan menulis lagi untuk Kiblat. Dari itu saya berharap saudara dapat menyediakan ruangan untuk tuluisan saya yang akan datang seperti biasa,”  

Perlu diketahui, Prof. Abu Hanifah sudah menulis di KIBLAT selama 12 tahun.  Selama di majalah ini, ada 164 judul tulisan beliau yang sudah diterbitkan. Panjang rata-rata dari masing-masing artikel lebih dari 15 halaman folio dan diketik dengan spasi ganda. Tulisan yang pertama terbit di Kiblat adalah pada edisi No. 19 (XV: 1968) dengan judul “Offensif Pertama Kaum Komunis di Asia Tenggara.” Ini baru di Kiblat, belum lagi tulisan-tulisan yang disebar di berbagai media lainnya.

Tak lama setelah dibolehkan pulang dari rumah sakit, putri Abu Hanifah yang bernama Siti Nur Hati atau yang biasa dipanggil Atik, menyerahkan sebuah naskah ayahnya yang ditulis di atas kursi roda. Hampir saja naskah ini tak tercetak karena tulisan lainnya sudah sampai dalam penerbitan. Dan tulisan ini rupanya tulisan terakhir Abu Hanifah yang diterbikan di KIBLAT No. 10 (XXVII: 1979), judulnya “Kasus K.T.T.T. Non Blok Havana.”

Demikianlah sekilas tentang perjuangan Abu Hanifah pada ranah militer zaman revolusi dan produktifitas beliau dalam tulisan. Semangatnya tak kunjung padam walau kaki kanannya diamputasi. Yang bisa membuatnya berhenti berjuang adalah maut. Rahimahullah rahmatan waasi’ah.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Abu HanifahHizbullahlaskar Hizbullah
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Malaysia Akan Mengambil Tindakan Kasus Ajaran Syi’ah Melalui Aplikasi Digital
Tulisan selanjutnya Kedubes Inggris Kibarkan Bendera LGBT, Ketua MUI: Tamu Harus Tahu Diri

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran

Berita
3 September 2026 13:38
Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
Ahwa Mufakat Pilih Gus Kikin, Cicit Pendiri NU dari Tebuireng Jadi Ketum PBNU
10 Ribu Porsi Bakso untuk Ukhuwah di Muktamar NU
Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap

Terbaru

  • Nasib Pelajar Palestina di Wilayah Penjajahan, Dipaksa Ikuti Kurikulum ‘Israel’
  • Menteri ‘Israel’ Akui Terus Godok Rencana Pengusiran Warga Palestina dari Gaza
  • Temui Kemenhaj, Baznas Upayakan Dam Haji 2027 Jamaah Indonesia Dilaksanakan di Tanah Air
  • Trump Akui Perangi Iran demi Lindungi ‘Israel’ dan Barat
  • 70 Guru Palestina Tak Diberi Izin, Seluruh Sekolah Kristen di Yerusalem Hentikan Pembelajaran
  • Geng Kriminal Dukungan ‘Israel’ Culik Petinggi Hamas
  • Sertifikasi Halal Restoran Bisa Dimulai dari Outlet yang Siap
  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama

8 Mei 2026 08:59
Sejarah

KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

6 Mei 2026 08:34
Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?