Lanjutan dari tulisan KEDUA
Hidayatullah.com | KONFLIK dan polarisasi di tengah masyarakat semakin kuat. Namun cukup sulit untuk membedakan mana yang komunis ideologis pendukung PKI dan mana yang pendukung militan Soekarno.
Pernyataan Soekarno dan PKI seiring seirama. PKI selalu melebur dalam derap langkah Soekarno, meski hal itu berarti mengorbankan doktrin komunis itu sendiri.
Tak jarang Soekarno juga ikut “membelah” rakyatnya sendiri, misalnya meminta rakyat untuk menunjuk lawan mereka. Setiap partai atau organisasi pun harus menyingkirkan kelompok gadungan.
“Saja tempo hari sudah mengatakan kepada semua partai, kalau ada gadungan tendang keluar! NU kalau ada antek2 Masjumi tendang keluar, Muhammadijah kalau ada elemen2 Masjumi tendang keluar, PNI kalau ada marhaenis2 gadungan tendang keluar, PKI kalau dalam tubuhnja ada soska tendang keluar!” (CA Dake: 2006).
Perseteruan dan konflik semakin menajam, mulai dari akar rumput hingga kelompok elite. Termasuk konflik antara PKI dan Angkatan Darat, seiring dengan menurunnya kesehatan Soekarno. Keduanya saling bersiasat mengantisipasi kemungkinan wafatnya presiden.
Tragedi itupun akhirnya terjadi. Malam tanggal 30 September 1965 menjadi aksi berdarah PKI. Peristiwa pembantaian terhadap para jenderal membuktikan bahwa PKI dapat berbuat apa saja kepada siapa saja.
Satu hal penting bahwa akhirnya Soekarno berbalik memunggungi PKI. Meski tidak menyukai para jenderal yang dianggapnya menghalangi visi revolusi, Soekarno menolak mendukung malam jahanam tersebut.
Arus pun berbalik. PKI akhirnya kehilangan dukungan dari penguasa.
Rakyat marah melihat kekejian peristiwa 30 September 1965. Hal itu bercampur aduk dengan dendam yang menumpuk. Sekian lama mereka ditindas, diteror, diancam, disisihkan, dan dituduh kontra-revolusioner, anti-Pancasila, dan lainnya. Suasana kala itu mencekam. Dibunuh atau membunuh.
Kisah selanjutnya, yang biasa memburu kini diburu. Akhirnya sekian banyak nyawa melayang. Polarisasi masyarakat yang dilakukan elite demi kepentingan politik selama hampir satu dasawarsa menemui dampaknya.
Sebagian orang bertanya, mengapa PKI yang tampak begitu digdaya, dengan hampir 20 juta pendukung dan menjadi partai komunis terbesar ketiga di dunia, tiba-tiba tak berdaya?
Rupanya ketika PKI menempel Soekarno, ditambah dengan melakukan polarisasi terhadap masyarakat, partai ini menikmati dukungan melimpah. Namun tidak semuanya merupakan pendukung ideologis. Kebanyakan adalah pendukung Soekarno, atau bahkan hanya mengikut arus dan mencari selamat. Maka ketika Soekarno tak lagi mendukung aksi PKI, massa “bayangan” ini segera menjauh.* Beggy Rizkiyansyah
===============
Tulisan Kisah Kaum Merah Pemecah Belah adalah tulisan berseri hidayatullah.com yang pernah dimuat di rubrik Ihwal Majalah Suara Hidayatullah edisi September tahun 2018. Tulisan ini merangkum berbagai peristiwa sebelum PKI melakukan aksi merebut kekuasaan. Bagaimana gambaran situasi saat itu dan apa saja yang dilakukan PKI sebelum melakukan pemberontakan.