Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Sejarah

Sultan Saifuddin Quthuz, Penumbang Kehebatan Bangsa Mongol

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 12 November 2020 13:21 1:21 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 12 November 2020 14:00
Bagikan
Ilustrasi Pasukan Islam vis Mongol
Bagikan

Hidayatullah.com | NAMA Saifuddin Quthuz sebagai panglima perang kaum Muslimin memang tak setenar Usamah bin Zaid, Khalid bin Walid, dan Amr bin Ash. Namun, kontribusinya dalam perjuangan Islam bisa disejajarkan dengan nama-nama besar tersebut. Quthuz berhasil mengembalikan beberapa kota yang sebelumnya dikuasai bangsa Mongol.

Dari berbagai referensi sejarah dijelaskan bahwa nama asli Quthuz adalah Mahmud bin Mamdud. Quthuz dilahirkan sebagai budak yang dijual di pasar Damaskus. Ia menghabiskan waktu mudanya untuk mempelajari ilmu agama dan kemiliteran. Sehingga kelak pemuda ini tumbuh menjadi pemuda yang tangguh dan bermental baja. Sesekali ia menghadiri majelis ilmu al-Izz Ibnu Abdis Salam, ulama berpengaruh kala itu.

Tampil di Panggung Sejarah

Setelah beberapa tahun tinggal di Damaskus, Quthuz kemudian pindah ke Kairo, Mesir. Ia menjadi salah seorang dari sekian banyak hamba sahaya Sultan Izzuddin Aybak at-Turkmania, seorang tokoh bangsa Mamalik. Setelah Dinasti Ayyubiyah tumbang, maka tampillah Sultan Izzuddin mengisi kekosongan kekuasaan. Inilah awal kekuasaan Dinasti Mamalik.

Sultan Izzuddin wafat setelah sempat berkuasa selama 7 tahun (1250-1257 M). Kemudian, anaknya Nuruddin Ali bin al-Mu’iz naik ke tampuk kesultanan. Sementara, Saifuddin Quthuz menjabat sebagai wakilnya,

Baca Juga

Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah
H.O.S. Tjokroaminoto dan Pembelaan terhadap Palestina
Kongres Al-Islam di Indonesia Era Kolonial dan Kepedulian terhadap Palestina
Membungkam Suara Kritis: Kriminalisasi Ulama Masyumi di Orde Lama
KH. Ahmad Dahlan dan Peran sebagai Jembatan Ukhuwah Islamiyah

Namun, karena usia Nuruddin masih muda dia dinilai tidak layak untuk memegang kekuasaan dan mengemban tanggung jawab. Sehingga urusan-urusan kesultanan seluruhnya berada di tangan Quthuz yang ketika itu bintangnya mulai bersinar.

Disaat bersamaan tersiar kabar jika pasukan militer Mongol tengah gencar memperluas wilayah jajahan hingga ke Syam. Saat itu, Mongol memang menjadi salah satu bangsa yang sangat ditakuti, karena memiliki armada perang yang kuat. Berita ini membuat gelisah Mesir yang sangat khawatir terkena dampak peristiwa genting yang terjadi di Syam.

Kekhawatiran itu semakin mendekati kenyataan, tatkala pasukan militer Mongol dikabarkan sudah mulai menuju Mesir. Menyikapi kegentingan ini, Nuruddin kemudian mengundurkan diri tahun 1259 M dan digantikan oleh Quthuz. Para petinggi senior kesultanan merelakan jika Nuruddin diganti oleh Quthuz. Karena memang demi memerangi bangsa Mongol.

Quthuz berjanji kepada para petinggi senior, selepas sukses menghadang pasukan Mongol, ia bakal mengembalikan jabatan sultan kepada yang berhak.

Dapat Surat Ancaman

Berkejaran dengan waktu, Quthuz mulai menyusun kekuatan untuk menghadapi pasukan Mongol. Ditengah persiapan itu, datanglah utusan Hulagu Khan, pemimpin pasukan Mongol kepada Quthuz untuk menyampaikan surat yang bernada ancaman dan teror.

Quthuz tidak gentar sedikit pun. Ia lalu berkonsultasi dengan petinggi kesultanan lainnya untuk menanggapi surat itu. Para pejabatnya sepakat untuk membunuh para utusan Mongol. Keputusan ini ditempuh untuk menghilangkan keraguan sebagian rakyatnya yang enggan keluar berperang.

Selesai dari masalah surat Hulagu Khan, Quthuz dihadapkan dengan satu masalah lain yaitu sumber keuangan untuk mempersiapkan Mesir menghadapi peperangan melawan tentara Mongol. Setelah dihitung-hitung dibutuhkan biaya yang besar untuk memperbaiki benteng, jembatan, senjata dan peralatan perang serta logistik.

Quthuz kembali memanggil para petinggi kesultanan untuk melakukan musyawarah. Dengan kondisi Mesir yang saat itu tengah dilanda krisis ekonomi, tak ada pilihan lain bagi mereka selain meminta bantuan uang dari rakyat jelata. Untuk mensukseskan rencana itu, maka diperlukan satu fatwa ulama, karena umat tidak pernah kenal ada cukai atau pajak lain selain dari zakat.

Di antara yang dipanggil untuk diminta fatwanya  adalah al-Izz bin Abdis Salam. Maka keluarlah fatwa al-Izz yang berbunyi, “Apabila sudah tidak tersisa lagi sesuatu di Baitul Maal, kalian pun sudah menginfakkan segala sesuatu yang kalian miliki berupa emas dan harta berharga, pakaian-pakaian kalian pun sudah setara dengan masyarakat awam, kecuali peralatan perang, dan pasukan tidak memiliki apa pun kecuali kuda yang mereka tunggangi, maka diizinkan untuk memungut sedikit harta orang-orang dalam rangka melawan musuh.”

Fatwa yang cukup tegas ini juga disambut dengan ketegasan oleh Quthuz. Beliau memerintahkan semua pembesar negara dan pimpinan perang agar menyerahkan semua yang mereka miliki kepada negara.

Perang Ain Jalut

Segala daya dan upaya dilakukan Quthuz untuk memenangkan pertempuran melawan tentara Mongol. Quthuz berhasil menaikkan semangat rakyat Mesir. Quthuz berhasil memadamkan perselisihan di antara pembesar Islam. Quthuz pun berhasil menyatukan antara Mesir dan Syam, dua wilayah Islam yang kuat. Pasukan Muslim berada di puncak persiapan perang dan siap menghadapi Mongol.

Pergerakan pasukan Islam bermula pada bulan Sya’ban 658 H atau bertepatan dengan Juli 1260 M. Meski bulan Juli adalah musim panas, tapi Quthuz tidak menangguhkan operasi tersebut.

Pasukan Muslim terus bergerak dari Gaza. Mereka singgah sebentar di Akka, dan menuju ke Ain Jalut. Ain Jalut terletak 60 km dari Yarmuk, medan peperangan Yarmuk, yang terjadi enam abad sebelumnya. Memori pasukan yang dipimpin Quthuz terkenang pada kemenangan pasukan Islam sebelumnya pada pertempuran Yarmuk. Mereka saling berhadapan di Ain Jalut pada tanggal 3 September 1260/25 Ramadhan 658 H dengan kekuatan yang hampir sama yaitu ± 20.000 pasukan.

Pada pertempuran ini, pasukan Islam sukses memukul mundur tentara Mongol yang berada di bawah komando Kitabuqa. Keimanan yang kokoh disertai semangat yang menyala-nyala terbukti tidak sia-sia. Pasukan Islam berhasil memaksa tentara Mongol kalah.

Saat perang, Sultan Quthuz sempat jatuh dari kudanya. Tapi, dengan pertolongan Allah ia bisa bangkit lagi, dan tampil perkasa dangan tebasan pedangnya yang berhasil memutus leher pimpinan perang pasukan Mongol.

Kemenangan tersebut membuat pasukan Islam semakin terpompa semangatnya. Kemenangan itu juga mengembalikan kepercayaan diri kaum Muslimin yang sebelumnya sempat hilang melihat kehebatan bangsa Mongol. Akibat kemenangan itu, Mongol terpaksa angkat kaki dari Damaskus dan wilayah-wilayah lainnya.

Dibunuh

Ironi, Quthuz menjadi target pembunuhan yang dilakukan rekan seperjuangan saat perang Ain Jalut. Ia terbunuh dalam sebuah konspirasi yang diatur oleh Amir Baibars dibantu petinggi lainnya di kota al-Qushair, Mesir.

Para sejarawan menyebutkan beberapa sebab mengapa Amir Baibars dan rekan-rekannya tega melakukan tindakan sadis itu. Konon, Baibars minta kepada Sultan Quthuz agar memberikan mandat untuk menguasai Halab. Namun, Quthuz menolaknya.*/ diambil dari Majalah Suara Hidayatullah

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kasus Covid-19 Meningkat, Turki Berlakukan Larangan Merokok di Tempat Ramai
Tulisan selanjutnya Austria Berupaya Kriminalisasi ‘Politik Islam’ dalam Peluncuran Langkah-Langkah Anti-Teror Baru

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Aparat Pakistan Bunuh 75 Pemberontak Menyusul Serangan Beruntun di Balochistan

Berita
11 Juli 2026 10:50
MUI Gelar IACFS ke-10, Perkuat Peran Fatwa dalam Mewujudkan Perdamaian Dunia
Trump Bilang 1.000 Rudal akan Memusnahkan Iran Apabila Presiden AS Dibunuh
Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia
Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026

Terbaru

  • MPR Singgung LGBT di Muswil BKPRMI DKI Jakarta, Ajak Pemuda Masjid Selamatkan Generasi Muda
  • INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
  • Pos Indonesia Gagal Bayar Bagi Hasil Sukuk Rp24 Miliar
  • MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
  • Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI
  • Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’
  • Pakistan Jadi Tuan Rumah Konferensi Menteri Perempuan OKI, Bahas Sosial Ekonomi dan Politik
  • Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas
  • Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia
  • Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”

Mungkin Anda Juga Suka

Sejarah

R.A Kartini: Latarbelakang Kehidupan dan Alam Pikirannya

25 April 2026 08:37
Sejarah

Salam al-Turjuman dan Ekspedisi Pencarian Tembok Ya’juj dan Ma’juj

14 April 2026 07:01
Sejarah

Akibat Mengabaikan Ukhuwah Islamiyah dan Bekerjasama dengan Musuh

9 April 2026 14:00
Sejarah

Cermin Sejarah: Respon Indonesia Saat Masjidil Aqsha Dinista Kesuciannya oleh Zionis Israel

6 April 2026 13:22
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?