“HAMBA-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (al-Furqaan: 63)
Rendah hati lawan dari sifat sombong. Sifat sombong berasal dari sifat iblis. Itulah sifat yang membuatnya terusir dari surga dan memperoleh jaminan neraka dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kesombongan iblis digambarkan oleh Allah dalam Al-Qur’an,
“(Ingatlah), ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu semua kepada Adam,’ lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata, ‘Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?“‘ (al-Israa’: 61)
Allah menciptakan iblis dari api, malaikat dari cahaya dan manusia dari tanah. Faktor psikologis yang mendorong iblis bersikap sombong adalah, dia merasa dirinya lebih baik. Dia menganggap unsur api lebih mulia dari tanah, sehingga dia menganggap dirinya lebih baik dari Nabi Adam. Dia merasa gengsi untuk sujud dan tunduk kepada Nabi Adam yang hanya diciptakan dari tanah.
Pengertian dari rendah hati tidak merasa diri lebih baik, tetapi juga tidak merasa rendah diri yang malah akan membuatnya tidak bisa menggali potensi dan kemampuan dirinya. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan menjadikannya unggul di bidang tertentu, meskipun di bidang yang lain dia tidak unggul.
Imam Syafi’i mengatakan dalam satu syairnya,
“Rendah hatilah! Engkau menjadi seperti bintang, dia berada tinggi di langit. Tetapi di permukaan air, dia tampak rendah”
Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan seribu satu macam kemampuan dan potensi dalam diri manusia. Dia juga menciptakan sarana dan fasilitas di alam ini sebagai rangsangan (stimulus), agar potensi dan kemampuan-kemampuan itu tidak tersembunyi dan dapat diolah dan diaktualisasikan.
Semua manusia diberikan akal yang sama, mata yang sama, telinga yang sama, dan hidung yang sama. Semua alat inderawinya sama, bahkan mereka hidup di bumi yang sama. Meskipun semua modal yang Allah berikan itu sama, tetapi beberapa aspek kehidupan mereka berbeda.
Mengapa demikian? Perbedaannya terletak pada besar-kecilnya usaha (mujahadah) yang mereka lakukan dan tingkat efektivitas usaha itu.
“Usaha”, mungkin Anda akan mengasosiasikannya dengan profesi atau pekerjaan. Meskipun asosiasi Anda itu tidak salah, tetapi tidak sepenuhnya benar. Sebab pengertian usaha adalah penggunaan seluruh fasilitas inderawi yang diberikan oleh Allah untuk pencapaian tujuan dan keutamaan (fadhaa’il). Untuk usaha yang efektif, diperlukan strategi yang tepat yang dirancang oleh akal. Akal merancang langkah-langkah yang mampu dan bisa dilaksanakan oleh organ-organ tubuh.
Itulah yang menghasilkan perbedaan di antara manusia. Mulai dari usaha orang tua untuk mendidik dan melatih anak-anaknya, hingga usaha seorang remaja dalam mengembangkan kemampuan pribadinya.
Sebagai ilustrasi, ada perbandingan antara dua orang yang memiliki kemampuan yang sama, namun hasil yang mereka peroleh serta pengaruh mereka di masyarakat berbeda.
Zaid dan Amru, keduanya sama-sama memiliki keahlian dan kemampuan khusus. Zaid dengan cepat bisa mencapai tingkat kehidupan yang makmur dan sejahtera, harta benda dan kekayaannya berlimpah. Sementara Amru, meski memiliki kemampuan dan keahlian yang sama, tetapi dia tetap hidup dalam kesederhanaan, bahkan serba kekurangan.
Dari sisi materi, Zaid hidup dalam kondisi serba berkecukupan, keluarganya tenang dan tenteram. Hubungannya dengan tetangga biasa saja, tidak ada kesan istimewa bagi para tetangganya tentang dia. Sementara Amru, meski dia hidup sederhana, keluarganya juga sederhana dan menerima keadaan mereka apa adanya, namun para tetangga menghormatinya. Itu karena kepribadiannya yang berwibawa dan kepeduliannya terhadap masalah-masalah yang timbul di lingkungannya. Dia menjadi tempat untuk menemukan solusi atas berbagai permasalahan para tetangganya.
Antara Zaid dan Amru, masing-masing memiliki kelebihan yang bisa dimanfaatkan untuk mencapai ridha Allah, juga mempunyai kelemahan yang membuka peluang bagi iblis untuk mencelakainya. Kelebihan Zaid adalah, dia memiliki harta yang banyak, sehingga dia bisa melaksanakan ibadah haji sebanyak yang dia mau, berzakat dan menyantuni banyak orang miskin dan dhuafa’, membangun masjid sebagai amal jariyah yang pahalanya tidak pernah terputus, serta banyak lagi ibadah finansial (ibadah maaliyah) lain yang bisa dia lakukan.
Alangkah beruntungnya orang kaya yang bisa memanfaatkan kekayaannya untuk memenuhi perintah-perintah Allah. Kekayaan adalah anugerah penting yang Allah berikan. Pemiliknya memiliki peluang sangat besar untuk menggapai ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak seperti keadaan tujuh orang dari bani ‘Auf yang datang kepada Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam. Mereka sangat ingin ikut berjihad bersama Rasulullah pada Perang Uhud. Akan tetapi, karena kemiskinan mereka dan Rasulullah juga tidak mempunyai apa-apa untuk membantu, mereka akhirnya tidak bisa mewujudkan keinginan mulia itu dan pulang kembali dengan kesedihan yang bertumpuk dan air mata bercucuran. Allah mengabadikan kisah mereka dalam firman-Nya,
“Tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata, ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu,’ lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.” (at-Taubah: 92)
Seandainya mereka memiliki kendaraan dan kemampuan untuk membeli kuda tunggangan untuk berjihad, mereka pasti tidak akan sesedih itu. Seandainya mereka memiliki kelebihan rezeki, mereka pasti menjadi kekuatan pasukan yang berdiri di barisan paling depan pasukan kaum muslimin. Itu adalah model kekayaan yang menjadi penopang kekuatan iman.*/Hudzaifah Ismail, terangkum dari bukunya Sesegar Telaga Kautsar-Tadabbur Kreatif 30 Ayat Motivasi. [Tulisan selanjutnya]