Oleh: Shalih Hasyim
BETAPA banyak kita saksikan pemandangan sehari-hari penganiayaan antar sesama manusia. Suami tega menganiaya istrinya. Anak durhaka kepada orangtua, mahasiswa saling lempar batu, sesama warga saling mengacungkan pedang dan golok. Pejabat membohongi yang memilihnya dll.
Kita sering dipuji sebagai bangsa yang santung dan murah senyum. Faktanya, taqarrub, tabattul, tajarrud dan tawajjuh ilallah, kurang terawat. Yang justru kita saksikan, sifat yang mulia yang melekat dalam diri manusia dan khas santun budaya bangsa Indonesia itu telah tergerus oleh sifat susulan yaitu perbuatan zalim (menganiaya orang lain). Sehingga yang menonjol pada diri manusia itu justru sifat bengis dan kejam serta kehilangan rasa kemanusiaan. Banyak kita saksikan para pemimpin suka mempertahankan status quo. Demi kekuasaan, mereka tidak segan-segan mengorbankan dan memperalat rakyat kecil.
Padahal, Allah SWT berfirman dalam Surat Al Infithar, “.. alladzii khalaqaka fasawwaaka fa’adalak.” (Allah yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang)
Sedangkan lawan dari zalim adalah adil, yakni menempatkan sesuatu sesuai tempatnya dan proporsinya. Karena itu, seharusnya kita bisa berlaku adil dan tidak berbuat zalim. Sebab kezaliman hanya akan mendatangkan kemurkaan-Nya di dunia ini.
Agar kita bisa terperihara dan tumbuh sifat bijaksana, ada beberapa langkah yang bisa kita kerjakan;
Pertama, menyadari bahwa perbuatan zalim akan kembali kepada pelakunya di dunia ini. Sebab perbuatan Zalimn tak akan menunggu balasan di akhirat.
Dalam sebuah hadits disebutkan, dua perbuatan yang disegerakan siksanya di dunia ini adalah berbuat zalim (al-Baghyu) dan mendurhakai orangtua (‘uququl walidaini).
Kedua, menyadari betapa mahalnya karunia kehidupan yang dianugerahkan kepada kita sehingga bisa menikmati berbagai fasilitas kehidupan adalah atas kebijaksanaan Allah SWT.
كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنتُمْ أَمْوَاتاً فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Mengapa kamu kafir kepada Allah, Padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?.” (Al Baqarah (2) : 28).
Ketiga, marilah mensyukuri karunia dan kebijaksanan-Nya yang telah menjadikan kita makhluk yang paling mulia/terhormat dibandingkan dengan makhluk yang lain. Sehingga ia akan memuliakan dirinya dan menghormati orang lain.
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيل
“Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan [untuk mencari kehidupan], Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (Al Isra (17) : 70).
Dalam Surat At Tin ayat 9 disebutkan, Sesungguhnya Allah telah menciptakan kita (manusia) dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
Keempat, marilah kita menghayati kebijaksanan-Nya. Alangkah mahalnya karunia akal yang berfungsi untuk memahami ayat-ayat-Nya yang berupa diri sendiri, ayat al-Quran dan ayat yang digelar di alam semesta. Betapa sedihnya jika sudah diberi karunia hidup, tetapi bukan manusia, dan manusia tetapi akalnya mengalami disfungsi. Manusia yang tidak menggunakan akal pikirannya lebih rendah derajatnya daripada binatang ternak.
Al Quran mengatakan, وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
“Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.” (Al Araf (7) : 179).
Kelima, menyadari keadilan-Nya dengan mengetahui betapa karunia Islam merupakan nikmat yang paling mahal dalam kehidupan. Dengannya ruhaninya akan ditumbuh kembangkan secara maksimal.
“Pada hari ini telah KU- sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.” (Al Maidah (5) : 3).
Keenam, menyadari atas kebijaksanaan-Nya, bahwa orang beriman itu bagian dari keluarga besar kaum muslimin di seluruh dunia. Sehingga akan memiliki kebanggaan korps, berdasarkan keyakinan dan keimanan bukan ikatan yang bersifat lahiriyah yang semu. Dari sini akan memperoleh pelajaran yang amat mahal, ukhuwwah islamiyah. Sebuah persaudaran melebihi dari ikatan nasab.
“Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Al-Hujurat (49): 10).
Ketujuh, bercermin pada sikap keadilan dan kebijaksanaan para pendahulu kita yang shalih.
Kedelapan, menyadari kehadiran kitab suci, atas rahmat dan kebijaksanaan-Nya.
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاء وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلاَ يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إَلاَّ خَسَاراً
“Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (Al Isra (17) : 82).
Kesembilan, menyadari terutusnya Rasulullah SAW adalah semata-mata kebijaksanaan-Nya.
“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Al Jumuah (62) : 2).
Sepuluh, menyadari penciptaan manusia, bumi dan seisinya dengan kebijaksanaan, bukan sekedar permainan.
“Maka Apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami ? Maka Maha Tinggi Allah, raja yang sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia.” (Al-Mukminun (23) : 115-116).
Banggga akan Islam
Dahulu para sahabat sangat bangga menjadi muslim. Mereka mengatakan, ”Ayahku adalah Islam. Tiada lagi yang aku banggakan selain Islam. Apabila orang bangga dengan suku, bangsa, kelompok, marga, perkumpulan, paham mereka, tapi aku bangga nasabku adalah Islam. Suatu ketika Salman Al-Farisi radhiyallahu anhu ditanya, ”Keturunan siapa Kamu?” Salman yang membanggakan keislamannya, tidak mengatakan dirinya keturunan Persia, tapi ia mengatakan dengan lantang,
”Saya putera Islam.” inilah sebabnya Rasulullah saw mendeklarasikan bahwa, ”Salman adalah bagian dari keluarga kami –ahlul bait-, bagian dari keluarga Muhammad saw.”
Karenanya, marilah kita menjadikan diri sebagai orang yang meyakini al-Quran dan Islam ini sebagai ketetapan yang tidak ada perselisihan. Marilah kita menjadi orang yang mampu berserah diri kepada Allah dan sosok Muslim bijak yang bangga akan Islam.*
Penulis kolumnis hidayatullah.com, tinggal di Kudus, Jawa Tengah