SAHABATKU, betapa pentingnya kesabaran dalam hidup kita. Sampai-sampai seorang sahabat pernah bertanya, “Ya Rasulullah, amal apakah yang paling utama?” Maka beliau menjawab, “Jangan marah!” Dan jawaban itu beliau ulangi hingga tiga kali.
Iblis berkata, “Tiga perempat yang paling membantu usahaku ialah sifat marah. Sebab apabila orang sudah marah, ia dapat aku bolak-balikkan, sebagaimana anak-anak membolak- balikkan bola.”
Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda, “Apakah yang kamu anggap sebagai orang yang kuat bergulat?” Para sahabat menjawab, “Yaitu orang yang tidak dikalahkan oleh orang lain dalam pergulatan.” Rasulullah kemudian bersabda, “Bukan itu, yang disebut orang yang kuat bergulat ialah orang yang dapat menahan hatinya di waktu marah.” (HR Bukhari dan Muslim).
Suatu peristiwa ada seorang muda pergi mengendarai mobil. Di tengah jalan ternyata ban mobilnya kempes. Kemudian dengan marah-marah, ia mencari tukang tambal ban. Setelah ban selesai ditambal, ujian belum berhenti sampai di situ. Di perempatan jalan, ia hampir menabrak sebuah gerobak sayur. Lantas saja mulutnya berkomat-kamit membaca mantra, mengeluarkan kata-kata cacian kepada si pendorong gerobak tersebut.
Ujian lainnya datang menghadang. Kali ini mobilnya terjebak macet. Lagi-lagi, kemarahan meledak pada diri orang muda ini. Setiap yang dilihatnya dicaci, setiap yang menghalangi dimaki. Baru setelah kurang lebih satu jam lamanya, mobilnya terlepas dari jebakan macet.
Sahabatku, betapa sesungguhnya orang muda tadi telah mengalami banyak kerugian. Pada saat ban kempes, tidak perlu disikapi dengan kemarahan. Sebab, kemarahannya tidak akan mengubah keadaan, tidak akan membuat bannya batal menjadi kempes. Tetapi, berbeda dengan orang yang sabar. Dia akan menyikapi kempesnya ban dengan hal yang sama, yaitu mencari tukang tambal ban. Hanya bedanya, yang satu mencari dengan kemarahan, yang satu lagi mencari dengan kesabaran. Ban boleh kempes, tapi hati jangan ikut-ikutan kempes.
Ketika hampir menabrak gerobak sayur juga bisa disikapi dengan sabar. Toh tabrakan tersebut tidak terjadi, untuk apa kita menyiksa diri dengan kemarahan? Kalau pun tabrakan itu terjadi, juga tidak perlu disikapi dengan kemarahan. Ketika marah menabrak dan ketika tidak marah pun menabrak. Maka, lebih baik tidak marah dan nabrak, daripada marah dan nabrak. Tetapi lebih baik lagi adalah tidak nabrak dan tidak marah.
Terakhir, cara menyikapi kemacetan dengan kesabaran pun sama ilmunya. Jalan tidak akan jadi lancar, ketika kita mencaci maki orang lain, dan tidak akan membuat mobil kita terbebas dari kemacetan. Jalanan boleh macet, tapi hati kita harus tetap lancar menjalankan kesabaran.
Ada pepatah yang sangat bagus,
“Barangsiapa yang tidak bisa marah, dia adalah orang yang bodoh. Tapi barangsiapa yang tidak mau marah, dia adalah orang yang bijaksana.”
Marah itu perlu, agar kita bisa membela diri kita dari perbuatan orang lain yang menyulitkan kita. Tetapi pertanyaannya adalah, apakah dengan kita marah itu menjadi solusi, menjadi menyelesaikan masalah, ataukah malahan semakin membuat masalah bertambah rumit?
Rasul, manusia yang mulia, tidak pernah marah. Tetapi sekali marah, marahnya menjadi solusi bagi para sahabatnya. Ketika Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam membagikan harta rampasan perang (ghanimah) kepada kaum Muslimin, ada sebagian sahabat yang mengeluh dan kecewa dengan keputusan ini. Maka, Rasulullah menyampaikan kemarahan yang menjadi solusi, “Kalau bukan Allah dan Rasul-Nya yang kamu anggap adil, lalu siapa lagi yang adil?” Ternyata marahnya Rasul lewat kata-kata yang demikian tidak menimbulkan masalah baru, melainkan menimbulkan kesadaran di antara para sahabatnya bahwa hanya Allah dan Rasul-Nya yang adil.
Bahkan mengenai marah, Rasululah bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian marah, maka hendaklah ia diam.” Diam pada saat marah ini adalah untuk menghindari keluarnya kata-kata celaan kepada orang lain. “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia mengucapkan kata-kata yang baik atau diam!” (HR Bukhari dan Muslim).
Demikianlah ujian itu senantiasa menghiasi perjalanan kehidupan kita, senantiasa hadir untuk mencobai iman kita.
Rasulullah pernah bersabda, “Sesungguhnya bagi tiap umat ada ujian, dan ujian untuk umatku adalah harta. Aku tidak meninggalkan cobaan (ujian) setelahku yang lebih berbahaya bagi pria daripada godaan wanita. Barangsiapa dikehendaki oleb Allah untuk mendapat kebaikan, maka dia akan diuji. Barangsiapa diberi nikmat oleh Allah lalu ia bersyukur, diuji dengan cobaan lalu dia bersabar, dan berbuat salah lalu ia memohon ampun, maka dia akan masuk surga dari pintu manapun yang dia kehendaki.”
Sahabatku, orang berakal memiliki tiga ciri, yaitu memanfaatkan dunia untuk akhirat, tabah menghadapi kebencian, dan sabar menghadapi cobaan.
Jadi sabar itu ada tiga bagiannya, pertama, sabar dalam kegembiraan. Kedua, sabar dalam kesedihan, dan ketiga, sabar dalam ketaatan kepada Allah. Barangsiapa yang bersabar dalam menghadapi cobaan, maka ia akan merasakan manisnya iman.*/H.M Komarudin Chalil, dari bukunya Beranda Bahagia.