Logisnya, tujuan, program “universitas Islam” atau perguruan tinggi Islam berbeda secara dengan “universitas sekuler”, karena itulah perlu Islamisasi ilmu-ilmu kontemporer untuk membawa manusia beradab
Oleh: Dr. Adian Husaini
Hidayatullah.com | PENDIDIKAN Tinggi adalah jenjang pendidikan terpenting. Sebab, pada tahapan inilah dicetak para pemimpin, guru, profesional, dan pemuka masyarakat.
Para lulusan Perguruan Tinggilah yang merumuskan konsep dan menentukan arah pendidikan di bawahnya. Karena itu, umat Islam diharapkan bersungguh-sungguh dalam mewujudkan Perguruan Tinggi ideal, yang mampu melahirkan kader-kader umat terbaik.
Itulah salah satu gagasan penting yang diangkat oleh Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud, dalam pidato professorialnya di Universiti Teknologi Malaysia (UTM), 26 Juni 2013. Pidato bersejarah Prof Wan Mohd Nor di UTM itu berjudul: “Islamization Of Contemporary Knowledge And The Role of The University In The Context Of De-Westernization And Decolonization.”
Pidato itu dihadiri oleh lebih dari 550 akademisi dari berbagai negara dan universitas serta disebut-sebut sebagai pidato ilmiah yang paling banyak menarik perhatian dalam sejarah universitas tersebut.
Wan Mohd Nor adalah doktor lulusan Chicago University yang pernah dikenal sebagai “Trio Chicago” bersama M. Amien Rais, dan M. Syafii Ma’arif. Sejumlah bukunya tentang ilmu dan pendidikan telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa: Arab, Indonesia, Persia, Turki, Bosnia, dan China.
Menurut Prof. Wan Mohd Nor, Pendidikan Tinggi adalah institusi paling strategis dalam menentukan perkembangan suatu bangsa. Mengutip pendapat sejumlah akademisi terkemuka, seperti Clerk Kerr, guru besar di UTM Malaysia ini mengimbau, bahwa bangsa-bangsa yang bermaksud meraih pengaruh intenasional seyogyanya mendirikan pusat-pusat studi yang unggul (excellent) pada level tertinggi. (Clerk Kerr, “The Frantic Rush to Remain Contemporary” Deadalus. Journal of the American Academy of Arts and Sciences. Volume 94, No. 4 Fall 1964).
Philip Coombs, mantan Undersecretary of State AS semasa pemerintahan John F Kennedy, menyatakan, bahwa pendidikan dan budaya adalah “aspek keempat” dari politik luar negeri, disamping ekonomi, diplomasi dan aspek militer. Babak Perang Dingin telah meningkatkan kepentingan strategis dari Pendidikan Tinggi. Kini, persenjataan modern lebih bergantung pada ilmu pengetahuan ilmiah dibandingkan dengan hitungan tradisional jumlah tentara dan banyaknya perlengkapan militer. (Philip Coombs, The Fourth Dimension of Foreign Policy: Education and Cultural Affairs (New York: Harper and Row, 1964).
Dalam pidatonya, Prof Wan Mohd Nor menggambarkan fenomena global munculnya kesadaran kritis terhadap dampak buruk peradaban Barat bagi kemanusiaan. Menurut Prof. Wan Mohd Nor, kolonisasi memainkan peran penting dalam konsepsi dan sifat Perguruan Tinggi di semua negara yang baru merdeka.
Meskipun sejumlah Perguruan Tinggi didirikan sebelum kemerdekaan, namun keberadaan mereka hingga kini dibuat untuk melayani kepentingan modernisasi bangsa dan negara yang baru merdeka itu, sesuai dengan pola yang dianggap benar versi Barat.
Perkembangan ekonomi negara-negara “belum berkembang” ini dipaksa untuk mengikuti dengan ketat semua tahapan Rostowian yang memungkinkan modernisasi termasuk penerapan semua lembaga yang memungkinkan pencapaian tersebut di Barat, termasuk perguruan tinggi-perguruan tingginya.
Tapi, konsep-konsep kehidupan model Barat yang dirumuskan dan diajarkan di Perguruan Tinggi itu, kini mulai disadari telah memunculkan dampak buruk yang tak terselesaikan. Ulrich Beck, seorang sosiolog di University of Munich dan London School of Economics, menyebutkan, bahwa “…modernitas Eropa adalah proyek bunuh diri … Menciptakan modernitas kembali bisa menjadi tujuan khusus untuk Eropa.”
Karena itulah, kata Prof. Wan Mohd Nor, kini terjadi gelombang dewesternisasi, dekolonisasi, dan juga Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer secara besar-besaran di berbagai negara. Proyek de-kolonisasi, de-westernisasi, dan Islamisasi bukan sekedar reaksi untuk kondisi eksternal yang tidak Islami belaka.
Islamisasi ilmu-ilmu kontemporer adalah konsep yang mendasar, bukan reaksioner. Islamisasi ilmu bertujuan membawa manusia ke sifat fitrinya, yakni terbentuknya manusia yang baik, manusia yang beradab.
Islamisasi ilmu bukan hanya merupakan usaha yang sah untuk mempertahankan identitas agama dan budaya umat Islam. Tapi, usaha ini juga menawarkan alternatif yang lebih baik dari modernitas Barat. Karena itulah, penting menelaah dan merenungkan hakekat dan tujuan pendidikan Islam untuk mencetak manusia yang baik.
Itulah yang ditegaskan Prof. Naquib al-Attas dalam bukunya, Islam and Secularism: “The purpose for seeking knowledge in Islam is to inculcate goodness or justice in man as man and individual self. The aim of education in Islam is therefore to produce a good man… the fundamental element inherent in the Islamic concept of education is the inculcation of adab…”
Manusia-manusia yang dihasilkan dari lembaga pendidikan Islam– khususnya Pendidikan Tinggi — adalah manusia yang baik; manusia yang bermanfaat bagi sesama. Di buku yang sama, Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas mengingatkan, bahwa Perguruan Tinggi saat ini – yang menjiplak model Perguruan Tinggi sekuler di Barat – adalah satu simbol ‘kezaliman’: “The modern university is the epitome of man in a condition of zulm.”
Banyak pemimpin muslim di Indonesia sebenarnya sudah menyadari hal ini. Karena itulah mereka telah mendirikan berbagai universitas dengan tambahan identitas “Islam” dan sejenisnya setelah kata “Universitas”. Maka, logisnya, tujuan, program, dan evaluasi pendidikan “universitas Islam” berbeda secara mendasar dengan “universitas sekuler”!
“Kemerdekaan adalah hak segala bangsa!” tegas UUD 1945. Umat Islam dan bangsa Indonesia pasti cinta “kemerdekaan”; enggan dijajah, baik secara politik, militer, ekononi, budaya, apalagi pendidikan! Umat mulia berani berpikir merdeka; berani merumuskan “konsep keunggulan” universitasnya sendiri. (Depok, 7 Januari 2020).*
Direktur Attaqwa College, Depok