Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Catatan Akhir Pekan

Yang Mana Asli Indonesia?

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 10 September 2022 16:55 4:55 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 10 September 2022 17:30
Bagikan
Rimpu tradisi menutup aurat - kebudayan asli warga Bima
Bagikan

Ada yang mengklaim, Pancasila produk asli Indonesia, karena digali dari bumi Indonesia sebelum Hindu, Budha, Islam, Kristen, sementara kata “asli” saja sudah tidak asli, dia berasal dari Bahasa Arab

Oleh: Dr. Adian Husaini

Hidayatullah.com | PENDETA Eka Darmaputera, dalam bukunya, Pancasila: Identitas dan Modernitas (Jakarta: Badan Penerbit Kristen Gunung Mulia, 1997), menyebut ada tiga lapis budaya di Indonesia, yaitu Indonesia asli, India, dan Islam. Tentang lapis budaya asli Indonesia, Eka menyimpulkan;

“Lapisan asli Indonesia merupakan sesuatu yang amat sulit, bila tidak dapat dikatakan mustahil, untuk dijabarkan dengan lengkap dan pasti. Kesepakatan yang ada ialah, bahwa sebelum datangnya peradaban India ke Indonesia, ia telah mencapai tingkat kebudayaan yang relatif tinggi dan berakar cukup dalam. Secara umum, lapisan ini dapat digambarkan sebagai berikut: dasar peradabannya adalah pertanian (sawah dan ladang); struktur sosialnya adalah desa; kepercayaan agamaniahnya adalah animisme; …”

Teori tentang lapis budaya diungkapkan oleh sebagian kalangan untuk mengklaim bahwa ada suatu budaya asli Indonesia yang tinggi, sebelum kedatangan agama-agama ”impor”, seperti Hindu, Budha, Islam, Kristen Protestan, Katolik, dan Konghucu.  Sebagian yang mengaku pengikut agama lokal, menggugat: mengapa yang diakui di Indonesia, adalah agama impor semua!

Baca Juga

Hiruk Pikuk Urusan Pilpres, Jangan Lupakan 5 Adab Bernegara
Selamat, Prof. KH Hamid F Zarkasyi jadi Tokoh Perbukuan Islam
Catatan Akhir Pekan: Jangan Lupakan dan Jangan Hancurkan Peradaban Melayu yang Agung
Jatuh Bangunnya Peradaban
Beginilah Berpolitik yang Cerdas

Ada juga yang mengklaim, bahwa Pancasila adalah produk asli Indonesia, karena digali dari bumi Indonesia sendiri. Sebelum datangnya Hindu, Budha, Islam, Kristen dan lain-lain, katanya, di Indonesia, sudah ada peradaban tersendiri. Apa itu peradaban asli Indonesia? Wallahu a’lam.

Upaya untuk mencari yang asli Indonesia tidaklah mudah. Bahkan, patut dipertanyakan, apakah orang Indonesia itu asli hasil penyempurnaan makhluk sejenis kera asli Indonesia (hominid). Atau,  apakah orang Indonesia juga merupakan keturunan Nabi Adam? 

Yang pasti,  kata “asli” itu pun bukan “asli Indonesia”; melainkan kosa kata impor dari bahasa Arab. Jadi, siapa dan apa yang asli Indonesia?

Pujangga dan filosof Sutan Takdir Alisyahbana (STA), dalam artikelnya yang  bertajuk ”Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru”, di Majalah Pujangga Baru (1935), mengajak masyarakat untuk meninggalkan zaman prae-Indonesia yang disebutnya sebagai ”zaman jahiliyah Indonesia”. 

”Indonesia yang dicita-citakan oleh generasi baru bukan sambungan Mataram, bukan sambungan kerajaan Banten, bukan kerajaan Minangkabau atau Banjarmasin. Menurut susunan pikiran ini, maka kebudayaan Indonesia pun tiadalah mungkin sambungan kebudayaan Jawa, sambungan kebudayaan Melayu, sambungan kebudayaan Sunda atau kebudayaan yang lain. Pekerjaan Indonesia muda bukanlah restaureeren Borobudur dan Prambanan…” (Sutan Takdir Alisyahbana/STA).

Menurut STA, Indonesia baru harus sejajar dengan negeri-negeri terkemuka di dunia. ”Bukan Indonesia musium barang kuno,” tegasnya. Untuk itu ia berseru: ”Dan sekarang ini tiba waktunya kita mengarahkan mata kita ke Barat,” imbau STA. (Lihat buku Polemik Kebudayaan, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1977).

Tentu saja ajakan STA mendapatkan tanggapan kritis dari berbagai pihak. Sebab, peradaban Barat kini terbukti menemui jalan buntu dan menuju pada kematian.

John Mohawk, dalam buku ringkasnya, A Basic Call to Consciousness: Indigenous People’s Address to the Western World, (Penang: Citizens International, 2002), menulis:  “Today the species of Man is facing a question of the very survival of the species. The way of life known as Western Civilization is on a death path on which their own culture has no viable answers.” (Saat ini spesies manusia sedang menghadapi pertanyaan tentang kelangsungan hidup spesies itu sendiri. Cara hidup yang dikenal sebagai Peradaban Barat berada di jalan kematian di mana budaya mereka sendiri tidak memiliki jawaban yang layak).

Tapi, apa pun ceritanya, Indonesia kini menjadi negeri Muslim terbesar di dunia. Pembukaan UUD 1945 menegaskan, Tuhan yang diakui telah menganugerahkan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia adalah Allah, nama Tuhan yang resmi disebut dalam al-Quran (QS 20:14).

Kemanusiaan yang dicitakan adalah yang adil dan beradab; rakyat dipimpin hikmah; bukan dipimpin suara terbanyak. Cita-citanya mulia: terwujudnya keadilan sosial (al-adalah al-ijtima’iyyah).

UUD 1945 pasal 31 mencitakan terwujudnya manusia Indonesia yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia. Dan semua kata penting itu —  rahmat, Allah, adil, adab, hikmah, musyawarah, perwakilan, iman, taqwa, dan akhlak — asli dari Allah, yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Maka, tidak ada pilihan, jika Indonesia mau menjadi negara besar, kuat, dan hebat, jangan tanggung-tanggung jadi orang “Indonesia asli”! Yakni, asli sebagai manusia, sebagai khalifatullah, sebagai hamba Allah, sebagai manusia beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia.

Itulah orang Indonesia asli! Asli hamba Allah, bukan hamba setan.

Dan patutlah kita simak ungkapan indah dari penyair besar Pakistan, Dr. Mohammad Iqbal: “Biarlah cinta membakar semua ragu dan syak wasangka. Hanyalah kepada yang Esa kau tunduk, agar kau menjadi singa.” (Depok, 8-6-2017)

Penulis pendiri dan pengasuh PP Attaqwa – Depok, Jabar. Arsip Catatan Akhir Pekan bisa diklik di SINI

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:asli indonesiabudaya asli indonesia
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Akidah, Syariah dan Akhlak, Sebagai Cara Pandang Kehidupan
Tulisan selanjutnya Ekonomi Halal Global Diperkirakan Mencapai USD 4,96 Triliun Tahun 2030

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis

Berita
2 Juni 2026 17:20
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih karena Alasan Keamanan

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Catatan Akhir Pekan

Peringatan Penting Ulama India

26 Desember 2022 14:45
Catatan Akhir Pekan

Teokrasi dan Demokrasi

17 Desember 2022 17:10
Catatan Akhir Pekan

Beginilah Terjadinya Liberalisasi Politik

5 Desember 2022 11:45
Catatan Akhir Pekan

Menjaga Pikiran di Era Kebohongan

26 November 2022 14:10
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?