oleh. Dr Adian Husaini
PADA 21 September 2018, usai penentuan nomor urut pasangan capres-cawapres 2019-2024, dua pasangan capres-cawapres dipersilakan menyampaikan pidatonya. Capres Haji Joko Widodo memulai pidatonya dengan mengucapkan salam sebagai berikut: Bismillahirrahmanirrahiim, assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat malam, salam sejahtera bagi kita semuanya, om swastyastu, namo buddhaya, salam kebajikan!
Lalu, setelah itu, giliran Capres Haji Prabowo Subianto membuka pidatonya dengan salam: Bismillahirrahmanirrahiim, warahmatullahi wabarakatuh, salam sejahtera bagi kita sekalian, syalom, om swastyastu, namo buddhaya, selamat malam saudara sekalian.
Bagi seorang muslim, mengucapkan salam termasuk bagian dari ibadah yang dicontohkan tata caranya oleh Nabi Muhammad ﷺ. Salam khas Islam itu adalah “Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Redaksinya pun diajarkan oleh Nabi ﷺ.
Dalam sebuah hadits riwayat Imam Ahmad, disebutkan, bahwa beberapa sahabat pernah memberi salam kepada Rasulullah ﷺ dengan ucapan: ‘‘Alaika as-salaam ya Rasulallah” sampai tiga kali. Mendengar itu, Rasulullah ﷺ meluruskan salam mereka: ‘Jangan kalian berkata seperti itu. Sesungguhnya ‘alaika as-salaam itu adalah salam kepada orang mati.”
Jadi, meskipun makna salam itu sama-sama baik, tetapi setiap bentuk redaksi salam, ada tempatnya masing-masing. Inilah salah satu kenuikan ajaran Islam yang memiliki “uswah hasanan” (suri tauladan) yang lengkap, sampai hal yang sekecil-kecilnya.
Baca: “Sang Hyang Yesus?”
Kita patut syukuri, kedua kedua capres – Jokowi dan Prabowo — mengucapkan salam Islam tersebut. Apalagi, kedua capres mendahuluinya dengan ucapan bismillahirrahmaanirrahiim. Perlu diingat, dalam sejarah politik Indonesia, di era 1970-an, pernah ada kejadian aneh, seorang menteri beragama Islam tidak mau mengucapkan salam Islam. Alasannya, ia bukan menterinya orang Islam.
Nama menteri itu ialah Dr. Saoed Joesoef. Ketika menjabat sebagai menteri Pendidikan dan Kebudayaam, Daoed Joesoef menyatakan secara terbuka, bahwa ia tidak mau mengucapkan salam secara Islam. Ketika dikritik, dia memberikan bantahannya: ”Aku katakan, bahwa aku berpidato sebagai Menteri dari Negara Republik Indonesia yang adalah Negara Kebangsaan yang serba majemuk, multikultural, multiagama dan kepercayaan, multi suku dan asal-usul, dan lain-lain, bukan Negara Agama dan pasti bukan Negara Islam.” (Daoed Joesoef, Dia dan Aku: Memoar Pencari Kebenaran, Jakarta: Kompas, 2006, hlm. 532).
Om Swastyastu
Yang menjadi pertanyaan – dan mungkin keheranan — banyak orang muslim adalah: mengapa kedua capres yang sudah sama-sama muslim dan sudah haji itu mengucapkan salam yang redaksinya diambil dari beberapa agama? Apa dasar dan tujuannya para capres kita itu mengucapkan salam ‘sinkretis’ dari berbagai agama tersebut? Entahlah!
Marilah kita telusuri makna beberapa redaksi salam tersebut. Bagi orang Hindu, “Om Swastyastu” memang ucapan ibadah dalam agama Hindu. Seorang Hindu menjelaskan tentang makna Om Swastyastu sebagai berikut: “Salam Om Swastyastu yang ditampilkan dalam bahasa Sansekerta dipadukan dari tiga kata yaitu: Om, swasti dan astu. Istilah Om ini merupakan istilah sakral sebagai sebutan atau seruan pada Tuhan Yang Mahaesa. Om adalah seruan yang tertua kepada Tuhan dalam Hindu…. Mengucapkan Om itu artinya seruan untuk memanjatkan doa atau puja dan puji pada Tuhan.” (http://www.mail-archive.com/[email protected]/msg07018.html).
Jadi, ungkapan Om Swastyastu adalah satu bentuk ibadah dalam agama Hindu. Dari penjelasan itu tampak, bahwa ungkapan salam Hindu itu sangat terkait erat dengan konsep Tuhan dan sembahyang dalam agama Hindu. Jadi, kata “Om” dalam agama Hindu berarti “Ya Tuhan”. Dalam buku kecil berjudul “Sembahyang, Tuntunan Bagi Umat Hindu” karya Jro Mangku I Wayan Sumerta (Denpasar: CV Dharma Duta, 2007), disebutkan sejumlah contoh doa dalam agama Hindu yang diawali dengan kata “Om”, seperti doa sebelum mandi: “OM, gangga di gangga prama gangga suke ya namah swaha”.
Meskipun sama-sama menyatakan bertuhan SATU, agama-agama memiliki konsep Tuhan yang berbeda-beda tentang “Yang Satu” itu. Kaum Hindu, misalnya, mempunyai konsep dan juga sebutan-sebutan untuk Tuhan mereka secara khas. Dalam buku karya Ngakan Made Madrasuta berjudul “Tuhan, Agama dan Negara” (Media Hindu, 2010), dijelaskan perbedaan konsep Tuhan antara Hindu, Kristen, Yahudi, dan Islam. Tentu saja penjelasan itu dalam perspektif Hindu. Menurut penulis buku ini, Tuhan dalam agama Hindu, yakni Sang Hyang Widhi tidak dapat disebut “Allah”.
Disimpulkan oleh penulis buku ini: “Membangun toleransi bukan dengan mencampuradukkan pemahaman tentang Tuhan, tetapi sebaliknya justru dengan mengakui perbedaan itu. Dalam pengertian ini, Krishna bukan Kristus, Sang Hyang Widhi bukan Allah!” (hal. 33).
Itulah sikap orang Hindu. Hindu punya pemahaman terhadap Tuhan mereka. Kita pun, sebagai muslim, memiliki konsep Tuhan sendiri. Maka, sebagai muslim, kita patut bertanya, patutkah seorang muslim melakukan jenis ritual (mengucapkan salam) secara Hindu? Tentu kita sudah paham jawabannya!
Salam Katolik
Dalam sebuah situs Katolik disebutkan, bahwa setiap orang Katolik diwajibkan memberi salam yang berupa doa ketika memasuki rumah orang atau berjumpa dengan orang lain, tanpa memandang suku, agama, dan golongan. Dan kata-kata salam itu adalah “Damai Sejahtera bagi rumah ini” atau “Damai sejahtera bagi kamu”. (Luk. 24:36) “Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: “Damai sejahtera bagi kamu!”
Dalam perkembangannya secara tradisi, Gereja Katolik telah mengambil kata salam secara khas yang diucapkan dalam ritus pembuka Tata Perayaan Ekaristi, dan perayaan sabda, yakni: “Rahmat Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus bersamamu” (Gratia Domini nostri Iesu Christi, et caritas Dei, et communicatio Sancti Spiritus sit cum omnibus vobis.). Salam itu dijawab: “Dan bersama rohmu” (et cum spiritu tuo). (https://gapurawahyu.wordpress.com/2013/09/04/salam-khas-kristiani/).
Namo Buddhaya
Dalam sebuah situs agama Budha ditulis: “Namo Buddhaya” bukanlah salam, tetapi ungkapan penghormatan seseorang kepada Buddha. Artinya adalah Terpujilah Buddha (yang telah merealisasi pencerahan Agung). Ungkapan ini amat umumnya diucapkan sebelum membabarkan Dhamma atau tulisan Dhamma. Di Indonesia, umat Buddha sering mengucapkannya sebagai salam Buddhis. Jadi sungguh sangat salah kaprah dan keluar dari makna sesungguhnya. Saya pun seringkali memulai tulisan kepada teman Buddhist, dengan kata “Namo Buddhaya”, tapi bukan sebagai salam, melainkan sebagai ungkapan penghormatan kepada Buddha, dan diharapkan menginspirasikan kualitas Buddha kepada teman yang saya tulisi.” (http://buddhistonline.com/sejarah/sejarah2.shtml).
Jadi, menurut pemeluk Budha, ungkapan ‘namo buddhaya’ adalah satu bentuk pujian kepada Tuhan-nya orang Budha. Dengan demikian, sepatutnya orang muslim tidak melaksanakan ritual ini.
Siapakah Buddha menurut orang Budha? Dalam sebuah buku bertajuk Kumpulan Ceramah Bhikkhu Uttamo Thera (Buku 5), Buddha Dhamma dalam Kehidupan Sehari-Hari, dijelaskan mengapa para dewa tidak mau turun dari sorga dan menemui manusia: ”Sang Buddha yang telah wafat hampir 3000 tahun lamanya itu sebenarnya baru sekejap saja untuk alam dewa. Hanya saja, diceritakan dalam Dhamma, alam manusia ini sungguh kotor dan busuk bagi para dewa. Para dewa tidak berminat mendekati manusia. Dari jarak jauh pun mereka sudah terganggu dengan bau manusia.” (hal. 21). <<< (BERSAMBUNG)>>> Tuhan Muslim Allah, bukan ‘Tuyul’