Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ilahiyah Finance

Wawasan dan Fokus

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 18 September 2012 05:27 5:27 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 18 September 2012 05:27
Bagikan
Bagikan

Oleh: Muhaimin Iqbal

SUATU hari Arjuna ingin mengasah keterampilan memanah dari muridnya – yang kemudian menjadi istrinya – Srikandi. Diajaknya Srikandi ke hutan dan mulai membidik sasaran. Ketika Srikandi mulai menarik busur panah dan hendak melepaskan anak panahnya, sang Arjuna berbisik : “Tungggu dahulu, apa yang kamu lihat istriku?” Sang istripun menjawab: “Aku melihat hutan…”, maka sang suami segera memegang tangan istrinya dan berkata: “Tunggu dahulu, jangan dilepaskan anak panahmu…”.

Setelah beristirahat sejenak, latihan pun dilanjutkan. Ketika Srikandi menarik busur dan siap melepaskan anak panahnya, suaminya kembali bertanya: “Apa yang sekarang kamu lihat istriku?”. Istrinya menjawab: “Aku melihat pohon.” Kembali sang suami memegang tangan istrinya dan berkata: “Tunggu dahulu, belum saatnya…, jangan dilepaskan anak panahmu…”

Pelajaran-pun berlanjut, Ketika Srikandi menarik busur dan merasa siap betul untuk melepaskan anak panahnya, lagi-lagi suaminya kembali bertanya: “Apa yang sekarang kamu lihat istriku?.” Istrinya menjawab, “Aku melihat burung sekarang.” Tetapi suaminya belum merasa puas, sang suami-pun memegang tangan istrinya dan kembali berkata: “Belum cukup istriku, jangan dilepaskan dahulu anak panahmu…”

Setelah istirahat cukup, menenangkan diri dan mengkonsentrasikan pikiran, pelajaran dilanjutkan lagi. Setelah Srikandi dengan tenang dan fokus menarik busurnya, sang suami kembali bertanya: “Apa yang kamu lihat sekarang…?” Sang istri menjawab dengan tenang: “Aku sekarang hanya melihat mata burung…!” Kali ini suaminya memberikan instruksi : “Sekarang lepaskan anak panahmu…”

Baca Juga

Indonesia Masuk Peringkat Dunia dalam Keuangan Syariah, Perlu Pembenahan Kurikulum Lebih Baik
Cashback yang di Tawarkan Go-pay dan OVO, Haramkah?
Industri Pertanian Zaman Nabi
Makanan Yang Membuat Tidak Miskin
Industry 0.0

Srikandi seolah tidak mendengar instruksi sang suami, matanya tetap fokus ke mata burung yang dilihatnya tetapi dia tidak tega untuk memanahnya. Sampai berulang-ulang suaminya memberi instruksi “lepaskan…, lepaskan…, lepaskan…” Anak panah itu tidak dilepaskan oleh Srikandi dari busurnya, sampai sang burung terbang kembali dengan bebasnya.

Penasaran dengan apa yang dilakukan oleh istrinya, sang Arjuna berkata : “Mengapa kamu tidak lepaskan anak panahmu, padahal kalau kamu lepaskan pasti kena bidikanmu…” Istrinya menjawab : “Betul aku tahu, anak panah itu akan tepat mengenai sasaran…tetapi justru karena itu aku tidak mau melepaskannya karena burung yang aku panah itu akan mati sia-sia..”

Sang arjuna-pun mengerti dan menghargai alasan istrinya, maka pada pelajaran berikutnya tidak digunakan benda hidup sebagai sasaran memanah. Dipilihnyalah sawo kecik (sawo yang matangnyapun tetap berukuran kecil) di pohonnya yang tinggi.

Ketika sang istri sudah siap dengan busur yang ditariknya, sang Arjuna hendak bertanya – namun sebelum sempat bertanya istrinya sudah melepaskan anak panahnya dan tepat mengenai tangkai dari sawo kecik yang dibidiknya.

Setelah mengambil sawo yang terjatuh dalam kondisi utuh – karena yang dipanah tangkainya bukan sawonya, dengan penasaran dia kembali bertanya ke istrinya: “Bagaimana kamu bisa memanah tangkai sawo yang hanya sebesar lidi, padahal aku belum memberikan perintahnya untuk melepaskan anak panahmu?”

Sang istri menjawab: “Maafkan aku suamiku, aku tahu itu yang akan engkau perintahkan karena itu yang terbaik. Bila aku panah sawonya, tentu itu lebih mudah – tetapi sawonya akan menjadi hancur dan tidak berguna. Dengan memanah tangkainya – yang lebih sulit, sawo tetap utuh dan masih bisa dimakan oleh manusia atau hewan yang membutuhkannya.”

Dialog dalam pelajaran memanah ini mengandung banyak pelajaran untuk kita yang terjun ke dunia usaha.

Pertama, bagi kita yang pemula di dunia usaha – kita membutuhkan mentor yang berwawasan luas tetapi juga mampu melihat detil. Mentor yang bisa melihat hutan, kayu, burung sampai mata burung.

Kedua, untuk pelaku usaha itu sendiri, dia butuh fokus yang sangat tajam – sebelum dia bener-bener menerjuni usaha yang dipilihnya.

Ketiga, usaha apapun yang kita lakukan – tidak boleh menimbulkan kemubadhiran, membunuh binatang yang tidak perlu, memboroskan hasil alam yang terbatas dlsb.

Keempat, bangun komunikasi yang baik – sehingga perintah tidak selalu harus diucapkan.

Kelima, buka pikiran dan hati…, hargai pendapat dan keputusan mitra Anda kalau memang itu yang terbaik. Wa Allahu A’lam.*

Penulis adalah Direktur Gerai Dinar, kolumnis hidayatullah.com

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Insiden Pemukulan Kapolda, Polisi Salah Tangkap?
Tulisan selanjutnya Pengadilan Gaza Vonis 4 Terdakwa Kasus Pembunuhan Arrigoni

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang

Berita
5 Juni 2026 05:00
‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah

Terbaru

  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Ilahiyah Finance

Probiotic Food dan Prophetic Food

17 Juni 2020 08:00
Ilahiyah Finance

Syirkah “Orang-Orang Miskin”

11 Februari 2019 20:49
Hamas bitcoin
Ilahiyah Finance

Halal Haram Uang Kripto

11 Desember 2018 08:15
Ilahiyah Finance

Golden Balance: Financing the Needy

15 Agustus 2018 13:21
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?