Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ilahiyah Finance

Industri Pertanian Zaman Nabi

Rofi' Munawwar
Terakhir diupdate: 6 Juli 2020 09:47 9:47 am
Rofi' Munawwar
Dipublikasikan 6 Juli 2020 09:47
Bagikan
Bagikan

Oleh: Muhaimin Iqbal

 

Hidayatullah.com | USWATUN HASANAH – contoh terbaik kita – Nabi akhir zaman sungguh telah memberikan contoh sempurna untuk seluruh bidang kehidupan. Contoh beliau tidak berbatas waktu, relevan saat beliau hidup, relevan saat ini, relevan pula hingga akhir zaman nanti. Di era industri seperti ini – contoh captain of industry – kepemimpinan industri yang sesungguhnya juga tetap bisa mencontoh apa yang beliau lakukan pada zamannya.

Ambil kasus pertanian kita missalnya, mengapa daya beli petani kita sulit sekali didongkrak naik setelah Indonesia menikmati 75 tahun kemerdekaannya? Tidak lain dan tidak bukan karena tidak adanya kepemimpinan industri – atau yang zaman revolusi industri dahulu disebut captain of industry.

Captain of industry inilah yang meng-organize resources untuk menghasilkan nilai tambah, membuka peluang dan menciptakan lapangan kerja yang massif. Sebaliknya tanpa adanya Captain of Industry yang akan tumbuh adalah  para Robber Baron, yaitu para pengusaha yang bekerja sama dengan penguasa untuk mengambil pasar, peluang, sumber daya dan bahkan  menghilangkan lapangan kerja melalui produk-produk yang mereka hasilkan atau datangkan dari negeri lain untuk kepentingan segelintir orang atau kelompok.

Baca Juga

Indonesia Masuk Peringkat Dunia dalam Keuangan Syariah, Perlu Pembenahan Kurikulum Lebih Baik
Cashback yang di Tawarkan Go-pay dan OVO, Haramkah?
Makanan Yang Membuat Tidak Miskin
Industry 0.0
Probiotic Food dan Prophetic Food

Ambil contoh ketika petani tomat harus membuang tomat panenannya atau membiarkan tomat membusuk karena harga terlalu rendah, petani susu yang membuang susunya, peternak ayam yang membagikan bibitnya ke masyarakat karena tidak mampu memberi makan ayamnya dengan tingkat harga jual yang terlalu rendah, peternak sapi lokal yang tidak berdaya di pasar kita sendiri, petani beras yang selalu kawatir akan datangnya beras impor yang bisa datang sewaktu-waktu – dan berbagai kisah sedih petani lainnya yang terlalu banyak untuk disebutkan satu per satu.

Dalam situasi tersebut yang kita alami selama 75 tahun kemerdekaan negeri ini – bisa Anda banyangkan , sesungguhnya yang hadir di negeri ini apakah captain of industry atau robber baron? Maka menjelang satu abad negeri ini, 25 tahun mendatang – mestinya bersama-sama kita bisa mengubah arah kemajuan negeri ini, untuk mengambil alih kepemimpinan industri dengan captain of industry yang sesungguhnya, memimpin dan mengarahkan masyarakat – sehingga tercipta pemerataan pembangunan yang sesungguhnya, dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat negeri ini dari Sabang sampai Merauke.

Bagaimana caranya? Tidak perlu reinvent the wheel, tinggal mencontoh uswatun hasanah kita, insyaAllah kita sudah akan mendapat minimal dua manfaat sekaligus. Pertama keberkahan karena ittiba’ Nabi – yang menunjukkan ketaatan kita yang dari sana insyaAllah akan dibukakan  pintu-pintu keberkahan dari langit dan dari bumi. Dan yang kedua kita akan bisa menyehatkan jiwa raga serta ekonomi kita – yang akan memberikan peluang yang sama bagi siapa saja yang mengikutinya.

Zaman Nabi bukannnya tidak ada excess produksi pertanian, saat itu pun ada. Tetapi ketika sahabat yang sedang mengalami excess produksi anggurnya, dia ada tempat bertanya kepada Nabi – dan Nabi bener-bener memberikan solusinya yang tuntas. Perhatikan contohnya dalam hadits berikut:

Dari Ibnu Al-Dailami dari ayahnya berkata: “Kami bertanya kepada Rasulullah, Wahai Rasulullah, kami memiliki anggur – apa yang harus kami lakukan dengannya?” Beliau menjawab: “Buat kismis”, Kami bertanya: “Apa yang harus kami lakukan dengan kismis?” Beliau menjawab: “Rendam (dengan air) pagi hari dan  minum di sore hari, rendam di sore hari dan minum di pagi hari”, Saya bertanya: “Bolehkan saya rendam lebih lama agar lebih kuat?” beliau menjawab: “Jangah ditaruh dalam wadah yang terbuat dari tanah (keramik) tetapi taruhlah dalam wadah dari kulit,dia akan bertahan lama, dan berubah menjadi cuka” (Sunan An-Nasai, dan Sunan Abu Dawud dengan narasi yang berbeda).

Anda bisa lihat sekarang, industri pertanian berbasis anggur seperti apa yang terbangun saat itu? Petani tidak perlu kawatir excess produksinya tidak laku dijual di pasar atau harus dijual dengan harga rendah. Sesuai arahan Nabi, excess produksi anggur yang tidak terjual atau dikonsumi segar – bisa diolah menjadi kismis, dari kismis terus menjadi minuman yang tidak memabukkan, atau kalau tidak dibuat kismis bisa diolah menjadi cuka – yang bukan hanya lauk kesukaan Nabi hingga dido’akan keberkahannya oleh beliau cuka ini, dia juga lauk para nabi-nabi sebelum beliau.

Nah, apakah hal yang sama tidak bisa kita katkan terhadap produsen petani mangga kita, petani jeruk, petani apel, petani durian dan petani dari berbagai jenis tanaman lainnya yang semuanya tumbuh subur di negeri ini?

Contoh industrialisasi lainnya yang sangat massif saat itu, yang bahkan produknya menjadi salah satu instrumen pembayaran zakat – adalah industri hasil ternak, yaitu pengolahan susu menjadi keju. Keju ini adalah salah satu alat bayar zakat yang umum saat itu, bisa Anda bayangkan betapa memasyarakatnya saat itu – karena yang digunakan untuk membayar zakat umumnya adalah yang sehari-hari digunakan di masyarakat.

Abu Sa’id Al-Khudri meriwayatkan: “Kami biasa membayar zakat dengan keju, kurma dan beras gandum” (Sahih Muslim).

Apa pelajarannya dari sini? Antara lain keju yang memasyarakat saat itu. Lantas produksi siapa keju saat itu? Apakah produksi pabrik-pabrik besar milik para kapitalisme industri? Jelas bukan, membuat keju itu seerhana – bila masyarakat zaman itu saja bisa membuatnya di rumah-rumah, mengapa kita di zaman modern ini justru tidak bisa membuatnya?

Gara-gara kita tidak mengolah susu yang diproduksi petani kita sendiri, kita menjadi tergantung pada industri besar persusuan. Bila industri besar yang main, maka mereka akan berhitung ekonomis, bila lebih  murah mendatangkan susu bubuk dari luar – mengapa harus cape-cape membina petani?

Dari sinilah petani susu kita yang rata-rata kecil harus head to head bersaing melawan industri persusuan global yang masif. Hilannglah kesempatan kita untuk terciptanya lapangan kerja massal untuk produksi makanan sehat dari hasil ternak ini, dan masyarakat umum juga menjadi korban – mereka hanya minum susu olahan industri – yang unsur-unsur labanan qoolishon saaighon-nya (susu yang murni dan mudah dicerna – diserap tubuh – sesuai karakter minuman susus ini yang disebutkan di Surat An-Nahl ayat 66) telah entah bercampur dengan zat apa saja.

Tetapi mengubah satu sisi saja yaitu produksi tanpa perubahan pola konsumsi juga sia-sia, karena apa yang dihasilkan petani tetap tidak terserap pasar kalau toh berhasil mengolah hasil pertanian dan ternaknya menjadi produk bernilai tambah. Itulah maka masyarakat secara luas juga harus belajar ittiba Nabi dalam pola konsumi.

Diajari konglomerat untuk makan mie instant setengah abad terakhir, kita bisa jadi bangsa pengkonsumsi  mie instant. Demikian pula dalam tiga dasawarsa terakhir generasi muda kita bisa kok diarahkan untuk mengkonsumsi fast food secara massif  oleh para retailer fast food global. Masak dengan sekian banyak juru dakwah yang mahir kita tidak bisa mengajak masyarakat untuk makan mengikuti kebiasaan Nabi dan generasi terbaik umat ini yang hidup bersamanya?

Lagian minum susu, makan keju, yogurt dan berlauk dengan cuka selain kebiasaan Nabi-dan para nabi-nabi sebelumnya – juga menjadi trend makanan global yang dianggap dapat memperbaiki microbime perut (ekosistem microba di dalam perut), mengapa tidak bisa kita lakukan massif untuk menyehatkan kita semua sekaligus juga sebagai jalan untuk menuju kedaulatan pangan di negeri kita sendiri.*

Penulis adalah pendiri Geraidinar.com

Redaktur: Rofi' Munawwar
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:BudidayaekonomiindustriIndustri pertanianpertanian
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Disiden Chechnya Ditembak Mati, Austria Tangkap 2 Orang
Tulisan selanjutnya NATO Disorot Berkenaan Pertikaian Turki-Prancis Soal Libya

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Malaysia akan Putus Aliran Listrik dan Air Bangunan Ilegal Termasuk di Penampungan Rohingya

Berita
13 Juni 2026 14:36
Haflah Parade Tasmi’ Al-Qur’an, Momentum Mencetak Generasi Penghafal Al-Qur’an
Santri Tahfidz Ar-Riyadh Tampil pada Pembukaan Rapat Paripurna DPRD Bontang
Aliansi Aktivis dan Umat Muslim Tasikmalaya Desak Polisi Proses Hukum Penghina Sahabat Nabi
Jejak Langkah Wanita Pejuang: Nyonya Hafni Zahra Abu Hanifah

Terbaru

  • Semua Biaya Ditanggung Qatar Kirim 1.000 Pendukung Timnas Jelang Laga Versus Kanada
  • MUI Serukan Masyarakat Lawan Gerakan Normalisasi LGBT
  • AS-Iran Capai Kesepakatan Final, Trump dan Pezeshkian Resmikan Memorandum
  • AI Grok Besutan Elon Musk Dipakai dalam Serangan AS Terhadap Iran
  • Santri Tahfidz Ar-Riyadh Tampil pada Pembukaan Rapat Paripurna DPRD Bontang
  • Hijrah Digital adalah Upaya Memuliakan Waktu di Era Teknologi
  • Tahun Baru Hijriah, Kini Punya Makna Perubahan Orientasi Hidup dan Kepedulian Sosial
  • Wakaf Al-Qur’an, Tumbuhkan Generasi Qurani di Cibuntu
  • Orang Tua Malaysia akan Dijerat Hukum Bila Anaknya Melakukan Perundungan
  • Khalwat Digital, Fenomena Pacaran Era Media Sosial

Mungkin Anda Juga Suka

Ilahiyah Finance

Syirkah “Orang-Orang Miskin”

11 Februari 2019 20:49
Hamas bitcoin
Ilahiyah Finance

Halal Haram Uang Kripto

11 Desember 2018 08:15
Ilahiyah Finance

Golden Balance: Financing the Needy

15 Agustus 2018 13:21
Ilahiyah Finance

Waqaf Mushtarak sebagai Pembiayaan Alternatif

22 Juli 2018 17:12
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?