Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ilahiyah Finance

Senjata Melawan Riba

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 4 Februari 2013 04:15 4:15 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 4 Februari 2013 04:15
Bagikan
Bagikan

Oleh: Muhaimin Iqbal

MENURUT laporan McKinsey, hanya 12 % usaha Indonesia saat ini yang menggunakan pembiayaan kredit dari Bank. Lantas kemana uang masyarakat yang begitu banyak ditabung di bank-bank?, menurut laporan yang sama pula antara lain uang tersebut tersimpan dalam apa yang mereka sebut high-yield, low risk Bank Indonesia Certificates (SBIs). Laporan ini seolah menguatkan alasan mengapa riba dilarang dalam Islam, karena uang tidak perlu bekerja produktif sudah menjadi investasi dengan hasil tinggi dan resiko rendah. Lantas mau digerakkan dengan apa ekonomi kalau demikian?

Ketika ekonomi tidak berputar secara merata, Indonesia bisa saja menjadi kekuatan ekonomi besar – ke 7 di dunia pada tahun 2030 berdasarkan scenario di laporan McKinsey tersebut. Tetapi ketimpangan juga semakin luas, saat itu diprediksi ada 55 juta orang tidak memiliki akses sanitasi dan 25 juta orang tidak memiliki akses air bersih.

Itulah pertumbuhan ekonomi yang antara lain mengandalkan sektor finansial ribawi itu – seolah sah-sah saja kita membuat skenario ekonomi yang akan memiskinkan sekian puluh juta orang tersebut.

Bahwa hasil itu ada di tangan Allah semata, setidaknya bila kita merencanakan dan berupaya membangun ekonomi untuk negeri ini – targetnya harus meng-eliminasi kemiskinan atau meminimisasinya.

Baca Juga

Indonesia Masuk Peringkat Dunia dalam Keuangan Syariah, Perlu Pembenahan Kurikulum Lebih Baik
Cashback yang di Tawarkan Go-pay dan OVO, Haramkah?
Industri Pertanian Zaman Nabi
Makanan Yang Membuat Tidak Miskin
Industry 0.0

Lantas dengan apa kita akan mengeliminasi kemiskinan itu? Secara umum kita bisa mengeliminasi kemiskinan dengan “7 Sumber Pengentasan Kemiskinan” yang telah saya muat di situs ini pada tanggal 7-September 2012 lalu.

Untuk kemiskinan yang ditimbulkan oleh praktek-praktek ribawi, kitapun telah dibekali oleh Allah antara lain dengan dua senjata utama yaitu perdagangan dan sedekah sebagaimana tercantum di penggalan dua ayat yang berurutan berikut :

“… Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba… Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah…” (QS al_Baqarah [2]:275-276).

Jadi lawan riba itu dua – yaitu yang pertama perdagangan atau jual-beli dan yang kedua sedekah. Dua lawan riba ini secara umum tercover dalam tulisan saya tersebut di atas, hanya pada tulisan ini akan saya elaborasi salah satunya yaitu perdagangannya.

Bila perdagangan itu hanya mengandalkan permodalan – maka kita akan terjebak pada kapitalisme ribawi sebagaimana terungkap oleh data McKinsey tersebut – dimana hanya segelintir pengusaha saja (12%) yang memiliki akses pembiayaan kredit bank. Mayoritasnya tidak punya modal dan tidak bisa mengakses modal perbankan.

Lantas dengan apa kita bisa berdagang bila tanpa modal? Ingat pelajaran yang sangat berharga dari jaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam – salah satu orang terkaya di jaman itu adalah Abdurrahman bin ‘Auf – dia memulai perdagangannya tanpa modal, dia memulai perdagangannya hanya dengan tahu di mana pasar!

Kemudian di pasar dia bertemu orang-orang yang membutuhkan barang apa, di pasar pula dia ketemu orang-orang yang memiliki barang dagangan apa. Dengan mempertemukan demand dengan supply-nya, dengan itulah Abdurrahman bin ‘Auf mulai berdagang.

Cara perdagangan saat itu juga tergambar dengan jelas melalui hadits sahih yang sangat sering saya sajikan di situs ini.

“(Juallah) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, beras gandum dengan beras gandum, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (dengan syarat harus) sama dan sejenis serta secara tunai. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai.” (HR. Muslim).

Ketika barang atau kebutuhan kita ditukarnya dengan emas atau perak – itulah jual beli dengan uang yang kita kenal sampai sekarang. Ketika ditukar antar jenis barang yang berbeda – misalnya gandum ditukar dengan kurma – maka itulah jual beli dengan barter yang telah sekian lama ditinggalkan.

Dalam era perdagangan atau jual beli yang mengandalkan uang atau modal, umat yang mayoritas di negeri ini terperdaya oleh segelintir minoritas yang menguasai perdagangan hampir di seluruh aspek kehidupan kita. Dari perdagangan mie sampai mobil dikuasai mereka.

Lantas bagaimana kita merebut kembali dominasi perdagangan ini untuk kembali berada di tangan umat – sebagaimana umat ini dahulu perkasa di perdagangan? Salah satu caranya ya meng-eksplorasi cara-cara perdagangan yang tersirat dalam hadits tersebut di atas.

Mayoritas umat ini tidak memiliki akses modal untuk berdagang, maka ayolah kita mulai belajar berdagang a la Abdurrahman bin ‘Auf – berangkat ke pasar tanpa modal. Dengan barter yang dijaman modern ini saya sebut barter modern atau perdagangan kreatif – Anda bisa berangkat ke pasar untuk mulai berdagang tanpa modal (uang).

Maka bagi Anda yang sudah confirm hadir untuk acara besuk di Rumah Hikmah, bayangkan diri Anda besuk adalah seperti hari pertamanya Abdurrahman bin Auf berangkat ke pasar.

Di sana Anda akan ketemu seratusan lebih orang-orang yang membutuhkan barang atau jasa ini dan itu, dan sejumlah orang yang sama yang menawarkan barang atau jasa ini dan itu. Challenge Anda adalah bagaimana mempertemukannya tanpa harus dengan uang atau modal.

Dengan cara inilah umat ini dahulu diunggulkan dalam perdagangan, maka insyaAllah dengan cara ini pula kita akan bisa mengulangi keunggulan itu. Bila kita bisa unggul dalam perdagangan, otomatis lawan dari perdagangan – yaitu riba akan melemah.

Bila riba melemah syukur-syukur menghilang dari umat ini, insyaAllah negeri ini akan bisa kembali hidup dalam keberkahanNya. Amin.*

Penulis Direktur Gerai Dinar, kolumnis hidayatullah.com

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Iyad Madani Calon Sekjen OKI Pengganti Ihsanoglu
Tulisan selanjutnya Bekerja Keras untuk Membangun Rumah Di Surga (2)

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Berita
3 Juni 2026 09:20
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Ilahiyah Finance

Probiotic Food dan Prophetic Food

17 Juni 2020 08:00
Ilahiyah Finance

Syirkah “Orang-Orang Miskin”

11 Februari 2019 20:49
Hamas bitcoin
Ilahiyah Finance

Halal Haram Uang Kripto

11 Desember 2018 08:15
Ilahiyah Finance

Golden Balance: Financing the Needy

15 Agustus 2018 13:21
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?