Sambungan artikel PERTAMA
Oleh: Muhaimin Iqbal
Sebagaimana pangkal dari problemnya yang bermuara di riba – demikian pula solusinya harus bermuara pada dihilangkannya riba. Kita harus bisa membangun ekosistem bebas riba, yang meng-encourage para innovator untuk terjun memberikan solusi, dan mendorong para pemilik dana menggunakan dananya untuk menggerakkan sektor riil.
Kembali untuk contoh kasus harga daging di atas misalnya, Riba-free Ekosistem yang kita bangun bisa seperti ilustasi berikut :
Ada sistem pakan ternak yang sudah banyak diteliti yang disebut Fodder System. Yaitu biji-bijian tidak diproses melalui pabrik untuk menjadi pakan ternak, tetapi ditumbuhkan hanya dengan bermodalkan air. Setiap kilogram biji-bijian, menjadi fodder sekitar 6 kali berat biji-bijian tersebut setelah ditumbuhkan dalam periode 7-10 hari.
Sistem ini membuat bahan baku pakan ternak menjadi tinggal 1/6-nya, berarti jauh menjadi lebih murah. Tidak perlu diproses di pabrik-pula, maka satu unsur riba tersebut di atas sudah kita hilangkan. Bukan hanya menghilangkan riba, peran memproduksi pakan ternak juga pindah dari pabrikan besar ke para peternak langsung – artinya industri peternakan menjadi lebih menyebar, tidak terkonsentrasi pada pemilik modal besar.
Karena kebutuhan biji-bijian menjadi menyebar langsung ke peternak, harga jagung, sorghum dlsb juga bisa menjadi lebih stabil. Akan menarik bagi petani untuk mulai menanam biji-bijian karena mereka akan memiliki pasar yang luas, bukan pasar yang dikendalikan segelintir pemain.
Ketika petani tidak memiliki modal untuk menanam, para peternak atau pedagang biji-bijian dapat memesan biji-bijian ke petani langsung atau via koperasi/kelompok tani dengan akad salam. Petani mendapatkan modal untuk menanam, peternak mendapatkan jaminan ketersediaan bahan pakan dan tanpa riba – satu lagi unsur riba kita hilangkan dalam suplay daging.
Katika beternak menjadi menarik, pakannya mudah dan murah – tidak tergantung pabrik pakan ternak, tidak tergantung padang rumput – yang memang sudah tidak lagi tersedia cukup di negeri ini, maka akan lahir peluang baru bagi yang mau mengkhususkan pembibitan ternaknya, baik unggas maupun binatang besar.
Para pembibit yang tidak punya modal juga bisa didanai dengan akad salam untuk mulai melakukan pembibitannya. Karena semua diproduksi local, tidak lagi perlu L/C untuk membiayai impor bibit ternak atau bahkan dagingnya – satu lagi unsur riba dihilangkan. Maka begitu seterusnya setiap unsur riba di mata rantai daging bisa kita hilangkan dengan akad salam atau akad lain yang sesuai dengan syariah.
Baca: Senjata Melawan Riba
Tentu ini tidak semudah membalik telapak tangan, tetapi bila pekerjaan besar ini dlakukan dengan keroyokan – dalam satu ekosistem bebas riba yang saling menunjang satu sama lain, maka inilah yang insyaAllah nantinya bisa membebaskan kita dari ekosistem riba yang membelenggu kita seperti gelapnya malam selama ini.
Namun sebagus-bagus ide, juga tetap tidak akan berdampak kecuali dia dieksekusi di lapangan. Maka yang dijanjikan Allah memimpin dunia bukan yang punya ide, tetapi yang beriman dan beramal shaleh (QS 24:55) – dia yakin dengan petunjuk Allah dan mengeksekusinya di lapangan.
Inisiasi untuk eksekusi ini telah kita mulai, Sabtu dan Ahad kemarin di Startup Center Depok kami menjelaskan konsep ini ke seitar 250-an peserta Mastering Salam Sale Workshop. InsyaAllah Sabtu 11/3/17 depan akan diadakan juga di Jogja. Bagi yang tertarik untuk ikut berperan dalam membangun Raba-free Ekosistem ini – namun karena satu dan lain hal belum bisa bergabung di workshop-workshop tersebut, insyaAllah kita jadwalkan lagi yang di Startup Center Depok khususnya. Atau bisa juga mendaftar langsung dalam sistem yang sudah kami siapkan di www.salamsale.com.
Sebagaimana sebuah ide atau pemikiran, ide bebas riba juga hanya memiliki peluang sukses 20% – sedangkan yang 80 %-nya adalah execution! InsyaAllah.*
Penulis adalah Direktur Gerai Dinar