Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ilahiyah Finance

The White Man

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 12 Mei 2015 08:00 8:00 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 12 Mei 2015 08:00
Bagikan
Bagikan

Oleh: Muhaimin Iqbal

DIKISAHKAN dalam buku The White Man pada suatu masa di awal abad lalu. Seorang kepala suku Tuiavii dari Pacific Selatan berkesempatan jalan-jalan ke Eropa, dia kemudian mencatat dan menceritakan segala macam yang dilihat dan dialami selama di Eropa  kepada masyarakat sukunya. Dia bercerita tentang profesi misalnya, menurut sang kepala suku ini seorang professional adalah orang yang melakukan hal yang sama berulang-ulang sampai dia sendiri bosan melakukannya.

Kemudian ketika dia melihat kebiasaan yang aneh dari masyarakat kulit putih yang selalu membaca surat kabar di pagi hari, apa catatan dia tentang ini ? Dia menggambarkan surat kabar sebagai sekumpulan kertas yang dibaca semua orang di pagi hari – agar semua orang tahu apa yang seharusnya dipikirkan, dan agar semua orang berpikir sama.

Meskipun observasi dari kepala suku tersebut terkesan ndeso, tetapi coba kita pikirkan dalam-dalam. Bukankah dia sebenarnya telah memotret sesuatu yang sebenarnya sangat jelas, tetapi kita malah tidak melihatnya. Tanyakan kepada para professional, apa yang mereka lakukan sepanjang mayoritas usianya – bukankan mereka memang melakukan hal yang sama berulang-ulang sampai (kebanyakan) mereka sendiri bosan melakukannya?

Lantas perhatikan apa yang tersaji di surat kabar sehari-hari, juga dalam jaman sekarang yang terjadi di televisi dan berbagai media lainnya. Bukankan mereka berusaha menggiring opini publik – agar berpikir sama kearah yang mereka kehendaki?

Baca Juga

Indonesia Masuk Peringkat Dunia dalam Keuangan Syariah, Perlu Pembenahan Kurikulum Lebih Baik
Cashback yang di Tawarkan Go-pay dan OVO, Haramkah?
Industri Pertanian Zaman Nabi
Makanan Yang Membuat Tidak Miskin
Industry 0.0

Masih segar di ingatan kita kejadian tahun lalu di negeri ini, bagaimana media televisi bisa memberitakan sesuatu yang bertolak belakang satu sama lain tentang hasil pemilihan umum presiden misalnya. Tidak mungkin keduanya benar, pasti salah satu atau keduanya salah.

Maka barangkali kita juga perlu observasi yang ndeso seperti observasinya kepala suku Tuiavii tersebut untuk perbagai problem masyarakat modern sekarang ini – agar kita lebih mudah memahami duduk persoalannya sekaligus mencari solusinya yang secara fundamental – out of the box. Saya bayangkan misalnya ketika kepala suku tersebut melihat hal-hal yang tidak mudah terpecahkan oleh orang-orang modern penduduk Jabodetabek berikut :

Dia berdiri di pinggir rel kereta komuter Jabodetabek, dia melihat kereta penuh orang menuju Jakarta – dan kereta yang tidak kalah penuh juga meninggalkan Jakarta. Dia berfikir : “Betapa bingungnya manusia Jabodetabek, sebenarnya mereka ingin ke Jakarta atau ingin meninggalkan Jakarta ?”

Dia naik ke gedung tinggi di pusat kota Jakarta kemudian melihat ke bawah, dilihatnya kendaraan penuh dan macet ke segala penjuru. Yang di utara ingin ke selatan, yang di selatan ingin ke utara, yang di barat ingin ke timur dan yang di timur ingin ke barat. Ini menguatkan pendapatnya: “ Orang-orang di kota besar seperti Jakarta memang sudah sangat bingung, mereka bahkan tidak tidak tahu apa yang diingini, mereka sebenarnya ingin di mana ? di barat, di utara,di timur atau di selatan?”

Bayangkan sekarang kalau seandainya semua pihak bisa sejenak berpikir ndeso seperti kepala suku Tuiavii ini, permasalahan kemacetan Jakarta yang kini merambah ke seluruh Jabodetabek  – bisa saja terselesaikan. Yang suka tinggal di utara, tinggal di utara dan bekerja di utara. Yang suka tinggal di selatan, tinggal dan bekerja di selatan – begitu seterusnya.

Bila orang memilih zone tempat tinggal sesuai dengan kebutuhan pekerjaannya, pasti arus lalu lintas turun drastis. Tidak mungkin dilakukan karena sifat pekerjaan? Di jaman teknologi ini hanya sangat sedikit pekerjaan yang sesungguhnya masih memerlukan kehadiran fisik di satu tempat. File dengan mudah dipertukarkan, dan bahkan virtual meeting yang perlu face to face-pun dengan mudah dan murah bisa dilakukan kini dengan teleconference dan sejenisnya.

Memang mungkin perlu sedikit effort untuk bisa membiasakannya, tetapi bayangkan reward-nya. Para pekerja tidak perlu membuang waktu berjam-jam di kendaraan setiap hari di sepanjang usia produktifnya!, bahan bakar tidak perlu terbuang begitu banyak untuk kendaraan-kendaraan yang menyala mesinnya tetapi dalam kondisi nyaris diam dan tidak bergerak. Biaya kesehatan akan turun kerena turunnya exposure kerusakan lingkungan, manusia akan lebih produktif dan akan lebih banyak quality time bagi keluarga-keluarga yang bisa dinikmati.

Barangkali inilah solusinya di semua persoalan yang kita mentok tidak bisa mengatasinya, kita tinggalkan sejenak sudut pandang kita selama ini – kita ‘pinjam’ sudut pandang yang berbeda dari para ‘kepala suku Tuiavii’ – untuk bisa melihat sesuatu yang sebenarnya sangat jelas tetapi kita tidak bisa melihatnya dengan kacamata kita sendiri. Kita juga adalah para professional white man – yang menurut tafsir kepala suku Tuiavii adalah orang-orang yang melakukan sesuatu yang sama berulang-ulang – sampai kita sendiri sebenarnya bosan tetapi tidak menyadarinya!*

Penulis Direktur Gerai Dinar

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Eropamacet
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya 6.000 Anak Jadi Korban Pelecehan Seksual di ‘Israel’ Setiap Tahun
Tulisan selanjutnya Lima Murid SDITH Yogyakarta Raih Juara Al-Quran

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Bendera Palestina dan Bendera Irlandia di Balai Kota Dublin
Berita

Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli

Berita
1 Juni 2026 11:20
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Ilahiyah Finance

Probiotic Food dan Prophetic Food

17 Juni 2020 08:00
Ilahiyah Finance

Syirkah “Orang-Orang Miskin”

11 Februari 2019 20:49
Hamas bitcoin
Ilahiyah Finance

Halal Haram Uang Kripto

11 Desember 2018 08:15
Ilahiyah Finance

Golden Balance: Financing the Needy

15 Agustus 2018 13:21
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?