Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Meminang Surga

Ya Allah, Sejukkan Hati Kami terhadap Sesama Muslim

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 20 Agustus 2015 14:06 2:06 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 25 Juni 2015 12:29
Bagikan
Semoga pula kita lebih mudah melapangkan hati terhadap sesama Muslim (foto: ilustrasi)
Bagikan

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

BUKANKAH puasa ini diwajibkan bagi orang-orang beriman? Hati tunduk sepenuhnya kepada Allah Ta’ala. Inilah bulan yang penuh kemuliaan, bulan yang Allah Ta’ala bukakan selebar-lebar pintu ampunan.

Ada hasad (dengki) yang perlu kita jauhi dan ada pula ghil yang jauh lebih samar, tetapi amat besar keburukannya. Hasad itu serupa iri, tepatnya perasaan dan keinginan untuk menghilangkan nikmat yang ada pada orang lain. Ia senantiasa gelisah melihat nikmat pada orang lain yang tidak disukainya. Hasrat terbesarnya adalah menghapuskan nikmat tersebut dari orang lain. Inilah keburukan besar yang membuat seseorang menderita tanpa ada yang menyakiti.

Adapun ghil adalah perasaan tidak suka beriring sakit di hati melihat orang lain, tanpa ada hujjah syar’i yang dapat dibenarkan, meskipun seseorang dapat mencari-cari pembenaran. Ini bukan lagi hasad terhadap nikmat yang ada pada seseorang, tetapi perasaan tidak suka kepada orangnya dan atas sebab itu ia bahkan dapat menderita batin. Padahal orang tersebut tidak melakukan keburukan maupun kejahatan kepadanya.

Jika orang memiliki ghil terhadap orang lain yang ia menganggapnya bukan kebencian pribadi melainkan semata karena kerusakan agamanya, maka segala fakta dan hujjah akan kehilangan makna. Yang menyelisihi keinginan merupakan alasan kuat untuk membenci, sementara tatkala didapati sesuai harapan tetap saja tidak memuaskan karena dianggap sebagai upaya mengelak. Ketika ada ghil, maka yang sedikit saja kesalahan akan menjadi cacat yang besar, sementara kebaikan yang besar tak bermakna baginya.

Baca Juga

teman
Membebaskan Anak dari Label Negatif
Lembut Itu Tak Berkata Kasar
Diistimewakan Allah Bersebab Niat Jujur Orangtua
Tanpa Ta`dib dan Pendidikan Adab, Boarding School Ibarat Rumah Kost Belaka
Kreatif Tanpa Musik

Maka alangkah besar pelajaran yang kita dapatkan dari kaum Muhajirin dan Anshar. Mereka saling mencintai karena Allah Ta’ala dan menolong satu sama lain dengan tulus karena ikatan iman. Mereka pun mendo’akan orang-orang yang lebih dulu dalam keimanan  (سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ), yakni para sahabat yang lebih awal dan orang-orang beriman sebelumnya. Begitu penjelasan yang saya dapatkan dari As-Sa’di dalam tafsirnya.

Mari kita renungi sejenak do’a yang Allah Ta’ala abadikan dalam Al-Qur’anul Kariim:

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِ خْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“O Tuhan kami, ampuni dosa kami dan dosa saudara-saudara kami yang mendahului kami dalam iman, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami ghil (perasaan dengki dan dendam) terhadap orang-orang yang beriman. O Tuhan kami, sesungguhnya Engkau amat melimpah belas kasihan dan rahmat-Mu.” (QS. Al-Hasyr, 59: 10).

Salah satu nikmat yang sangat besar di surga adalah dibersihkannya hati para ahli surga sehingga tidak ada ghil sedikit pun di hati mereka. Ghil yang sedikit? Merasa tidak nyaman, kurang terima atau sesak di dada terhadap orang lain. Semisal mendapati orang lain memperoleh lebih banyak kemudahan atau kesuksesan, padahal ia kalah ilmu atau bahkan kita yang mengajari. Tetapi ia lebih dipercaya, lebih dipandang orang. Jika kita merasa kurang nyaman atau agak sesak hati terhadapnya, itulah ghil yang ringan. Jika dibiarkan, akan berubah menjadi hasad yang sesungguhnya atau ghil yang lebih berat.

Kembali pada perbincangan awal. Apakah orang yang mudah memusuhi dan menyebarkan “keburukannya” tanpa dasar yang kuat berarti ada ghil yang berat pada dirinya? Belum tentu. Boleh jadi ia tergesa-gesa saja dalam menyimpulkan kabar.

Apakah orang yang tidak berubah pendapatnya, sikapnya dan keyakinannya tentang keburukan seseorang meskipun ia tak menemukan bukti atau bahkan telah ada padanya bantahan kuat berarti ia memiliki ghil yang sangat serius? Belum tentu juga. Boleh jadi ia dikalahkan oleh persangkaan buruknya. Ia lebih mengikuti persangkaan daripada data.

Ini semua merupakan perintang untuk melakukan kebaikan, penghalang untuk berjalan seiring dengan saudara seiman. Maka, marilah kita kembali mengingat dan menghayati do’a tersebut. Semoga Allah Ta’ala jauhkan kita dari ghil.

Semoga pula kita lebih mudah melapangkan hati terhadap sesama Muslim, terlebih terhadap mereka yang dulu mengajari kita agama ini. Kadang ada yang sangat berjasa menjadikan seseorang bersemangat terhadap agama.

Ilmunya memang tak seberapa, tapi tetaplah ia sangat berjasa mengenalkan seseorang pada agama. Tetapi ada yang lalai. Begitu belajar lebih luas tentang Islam, segera ia mencerca orang yang mengenalkannya pada agama tersebut. Padahal ia sendiri belum sangat mendalam ilmunya, sementara yang mengenalkan agama kepadanya tetap tidak terhapus jasanya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Semoga Allah Ta’ala berikan pula kepada kita hati yang bersih, jauh dari ghil sehingga termasuk orang yang dimaksudkan oleh Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam tatkala bersabda:

أفضل الناس كل مخموم القلب صدوق اللسان ، قالوا : صدوق اللسان نعرفه فما مخموم القلب ؟ قال : التقي النقي ، لا إثم فيه و لا بغي و لا غل و لا حسد

“Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bersih hatinya dan selalu benar atau jujur lisannya.” Kemudian mereka para sahabat berkata, mengenai jujur atau benar lisannya, kami sudah mengetahuinya, tetapi apakah yang dimaksud dengan orang yang bersih hatinya?” Beliau menjawab, “Yaitu seseorang yang bertakwa dan bersih, yang tidak terdapat dosa pada dirinya, tidak dzalim, tidak iri, dan juga tidak dengki.” (HR. Ibnu Majah dan Ibnu ‘Asakir).*

Mohammad Fauzil Adhim adalah penulis buku-buku parenting. Twitter @Kupinang

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:benardengkifitnahghilhasathasutjujurKeluarga Islamilisanmanusiasebaik-baik manusia
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Soal Pengungsi Rohingya, Pakar Hukum UI: Jangan Membuat Myanmar Keenakan Dan Terlena
Tulisan selanjutnya Masyarakat Aceh yang Bantu Pengungsi Rohingya, Seperti Kaum Anshor Membantu Muhajirin

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Iran Lancarkan Serangan Balasan ke Pangkalan Militer AS di Timur Tengah, Ketegangan Regional Memanas

Berita
13 Juli 2026 16:30
Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

perjuangan
Meminang Surga

Matinya Perjuangan

17 Januari 2022 14:00
Meminang Surga

Lembut Itu Ada Takarannya

30 November 2021 15:00
Za'faran Herbal
Meminang Surga

Tiap Obat Ada Dosisnya ⁣

8 Oktober 2021 07:33
Jepang, Negeri Yang menua
Meminang Surga

Keengganan Mengurusi Anak Dan Masa Depan Demografis Jepang. ⁣⁣

13 September 2021 17:28
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?