SESEORANG harus memenuhi kebutuhan biologis pasangannya semampunya, sebagaimana istri juga harus pandai berdandan dan melayani suaminya. Telah disebutkan bahwa Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alahi Wasallam ditanya tentang perempuan terbaik, beliau pun menjawab,
“Yaitu, perempuan yang jika dilihat suaminya maka suami akan bahagia; menaati suaminya jika disuruh, dan tidak menentang suaminya pada dirinya dan hartanya dengan tindakan yang dibencinya.” (HR Nasa’i).
Nabi juga bersabda,
“Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. ” (HR Muslim).
Di antara faktor pemicu kebahagiaan adalah saat seorang laki-laki menemui istrinya, ia mendapatinya dalam keadaan cantik dan wangi serta mengenakan pakaian terindah yang dimilikinya sehingga ia akan menjauhkan dirinya dari memandang perempuan-perempuan asing. Demikian pula suami, ia harus berhias dan memperindah penampilan dirinya karena istri juga akan menyukai hal-hal yang disukai suaminya dari dirinya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“… dan (para perempuan) mempunyai hak seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut …” (al-Baqarah: 228).
Diriwayatkan dari sebagian ulama salaf bahwa mereka suka berhias untuk istrinya, sebagaimana mereka juga suka jika istrinya berhias untuk mereka.
Inilah sebab-sebab yang dapat membuat mata suami berbinar saat melihat istrinya dan mata istri juga berbinar saat melihat suaminya. Mata suami istri itu terjauhkan dari hal-hal yang diharamkan. Oleh karena itu, Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam menganjurkan untuk berjima’, bahkan menetapkan pahala untuk perbuatan itu. Sebab, jima’ bisa menyucikan diri, mendatangkan rasa cinta, dan kasih sayang antara suami dan istri, serta rasa saling mendekatkan diri.
Banyak sekali masalah yang terjadi di dalam rumah, baik disebabkan oleh suami maupun oleh istri, salah satu faktor penyebabnya adalah keengganan untuk bersenggama. Namun, jika keinginan senggama itu terpenuhi, jiwa akan tenang, emosi mereda, dan hati akan damai.
Diriwayatkan dari Abu Dzar r.a., ia berkata, “Para sahabat bertanya kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, orang-orang kaya banyak mendapatkan pahala, padahal mereka shalat seperti kita shalat dan puasa seperti kita berpuasa, tetapi mereka bisa bersedekah dengan sisa harta mereka.’ Kemudian Rasulullah bersabda, ‘Bukankah Allah juga telah memberikan kalian sesuatu yang biasa kalian sedekahkan: di setiap tasbih yang kalian ucapkan terkandung sedekah, setiap takbir mengandung sedekah, setiap tahmid mengandung sedekah, setiap tahlil mengandung sedekah. Amar makruf mengandung sedekah, nahi munkar juga mengandung sedekah, dan di setiap kelamin kalian terdapat sedekah.’
Mereka kembali bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah jika seorang dari kami mendatangi istri akan mendapatkan pahala?’ Beliau menjawab, ‘Tidakkah kalian lihat, sekiranya kelamin itu disalurkan di tempat yang haram, kalian akan mendapatkan dosa? Demikian pula jika kalian tempatkan ia di tempat yang halal maka hal itu akan mendatangkan pahala’.” (HR Muslim).
Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Jabir ibnu Abdullah r.a., ia berkata, “Aku bersama Nabi dalam sebuah peperangan. Tiba-tiba untaku melambat dan merasa keletihan. Nabi pun mendatangiku seraya memanggilku, “Wahai Jabir!” Aku menjawab, “Ya.” Beliau bertanya lagi, “Ada apa denganmu?” Aku menjawab, “Untaku melambat dan keletihan sehingga aku terlambat dari barisan.” Kemudian, Rasulullah turun dan mengikat unta itu dengan tali. Setelah itu beliau bersabda, “Naiklah!” Aku pun naik ke punggung untaku. Sungguh, aku ingin menahan untaku itu dari Rasulullah. Kemudian, Rasulullah bersabda, “Apa kamu sudah menikah?” Aku menjawab, “Ya.”
“Janda atau perawan?” tanya beliau. “Janda,” jawabku.
Beliau lantas bersabda, “Mengapa kamu tidak menikahi perawan agar kamu bisa bercumbu mesra dengannya dan ia bisa bersenda gurau bersamamu?” Aku lalu menjawab, “Abdullah, ayahku, gugur dan meninggalkan beberapa anak perempuan. Aku khawatir jika membawakan untuk mereka seorang perempuan yang setara dengan mereka. Oleh karena itu, aku menikahi perempuan yang dapat merawat dan memelihara mereka.”
Kemudian, Rasulullah bersabda, “Jika kamu tiba di rumahmu, datangilah istrimu dan lakukanlah ini dan itu.” Lalu, beliau bersabda, “Apa kamu mau menjual untamu?” Aku menjawab, “Ya,” Beliau pun membeli untaku seharga satu uqiyah (satu ons perak).
Rasulullah pun tiba di Madinah sebelumku, sedangkan aku sampai di pagi hari. Ketika kami datang ke masjid, aku menjumpai beliau di depan pintu masjid. Beliau bertanya, “Apakah sekarang kamu telah tiba?” Aku menjawab, “Ya.” Beliau lalu bersabda, “Tinggalkanlah untamu, lalu masuklah ke masjid, kerjakan shalat dua rakaat.”
Kemudian aku masuk, lalu melaksanakan shalat. Setelah itu beliau memerintahkan Bilal agar membawakan satu uqiyah kepada beliau. Lalu, Bilal menimbangnya dengan tepat dalam timbangan. Ketika aku pergi, beliau berseru, “Panggilah Jabir kepadaku.” Aku bergumam, “Sekarang untuk itu akan dikembalikan kepadaku, padahal tidak ada sesuatu pun yang lebih aku benci dari unta ini.” Beliau lalu bersabda, “Ambillah untamu, dan harganya untukmu.”*/Dr. Mustafa Al-Adawi, dari bukunya Fikih Suami Istri. [Tulisan selanjutnya]