BAGAIMANA rasanya dituduh melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak dilakukan? Tentu tidak menyenangkan dan bisa bikin galau, bukan! Lantas bagaimana jika yang menuduh adalah stasiun televisi berskala nasional dengan tuduhan sebagai teroris?
Silakan tanyakan kepada Zaitun Rasmin. Ketua Umum Wahdah Islamiyah ini mengawali tahun 2016 dengan ujian yang tidak ringan. Pada 3 Januari lalu, lembaga yang dipimpinnya itu disebut oleh Metro TV sebagai jaringan terorisme di Indonesia sebelum pengaruh ISIS (tahun 2013).
Singkatnya, Zaitun pun menuntut Metro TV untuk meminta maaf. Digelarlah jumpa pers di Rumah Makan Pulau Dua, Senayan, Jakarta, Senin, 1 Rabiuts Tsani 1437 H (11/01/2016). [Baca: Zaitun Rasmin Mengaku Sedih Harus Menuntut Metro TV]
Acara ini diliput puluhan awak berbagai media massa termasuk televisi. Usai jumpa pers, tahu-tahu Zaitun kedapatan oleh fotografer hidayatullah.com tengah berakrab ria dengan Edi, yang tampaknya sebagai koordinator liputan Metro TV saat itu.
Dalam gambar terlihat, ustadz lulusan Madinah itu tersenyum lepas sambil menepuk pundak Edi yang juga tersenyum.
Sebelumnya, keduanya berbincang santai sambil bersalaman. Sekilas terdengar, mereka membicarakan hal teknis mengenai tindak lanjut upaya yang akan diambil Wahdah Islamiyah terhadap Metro TV.
Memang, menghadapi media massa tak harus marah-marah. Dalam UU Pers telah diatur mengenai hak jawab dan hak koreksi suatu kelompok atau orang terhadap suatu pemberitaan. Hak itulah yang tengah ditempuh Zaitun dan lembaganya.
Selain itu, jamak dipahami para Muslim bahwa adab dan akhlak dengan bersikap santun dan ramah memang harus selalu dijaga.
Walau tersenyum demikian, bukan berarti Zaitun menganggap masalah itu sepele. Usai melaksanakan shalat Zhuhur sesaat sebelum jumpa pers, ia terpantau oleh awak hidayatullah.com sedang berdoa cukup lama bersama Ustadz Yusuf Mansur.
Di samping keduanya tampak seorang kameramen Metro TV –dan jamaah lain- yang sedang shalat Zhuhur sebagai rombongan kedua. Zaitun mengaku, berdoa kepada Allah adalah salah satu usahanya agar keluar dari masalah tersebut. [Baca juga: *
