Hidayatullah.com- Pengamat Kontra Terorisme Harits Abu Ulya mengatakan jika melihat modus maupun motif yang dilakukan pelaku teror bom di Sarinah, target sasaran sebenarnya ialah Warga Negara Asing (WNA).
“Masyarakat tidak perlu panik sebab apa yang dilakukan para pelaku teror ini sebenarnya kalkulatif. Artinya yaitu dengan target sasaran tertentu, tidak random dan sembarangan orang. Jadi, itu yang penting,” kata Harits kepada hidayatullah.com, Jum’at (15/01/2016).
Selain itu, Harits mengatakan, sejauh ini memang ada klaim atau pernyataan dari pihak ISIS bahwa yang melakukan teror pengeboman di kawasan Thamrin Sarinah merupakan kelompok mereka yaitu sebanyak 4 orang.
“Saya pikir ini adalah konfirmasi awal dari apa yang disampaikan oleh pihak kepolisian. Dan jika kepolisian selama ini mengklaim ISIS sebagai pelakunya, tentu kepolisian juga harus menerima pengakuan dari ISIS yang menyatakan diri sebagai pelakunya,” kata Harits.
Harits menegaskan dari situlah berawal munculnya asusmsi bahwa pelakunya adalah dari kelompok Daulah Islamiyah (ISIS). Kendati demikian, orang-orang juga bisa berasumsi bahwa pelakunya bukanlah dari kelompok ISIS.
“Jadi, semua orang itu bisa berasumsi. Tetapi, sejauh ini indikasi-indikasi yang terbuka di media maupun publik dan sejauh pengamatan yang saya lakukan memang pelakunya adalah pendukung ISIS,” kata Harits.
Tetapi, lanjut Harits, ada beberapa hal yang harus diketahui oleh masyarakat mengapa mereka melakukan tindakan aksi teror bom tersebut. Menurutnya, pertama mungkin karena menyangkut persoalan dinamika politik, di mana ketika mereka di Indonesia dan mau pindah ke luar negeri itu dipersulit dan bahkan ditekan.
Kedua mereka merasa menjadi bulan-bulanan pihak aparat sehingga merasa itu merupakan jalan buntu. Dan ketiga sebagai bentuk komitmen mereka kepada pimpinan daulah yakni dengan melakukan apa yang bisa dilakukan sebagai sebuah bentuk perlawanan.
“Dan saya lihat mereka mulai belajar, tidak kemudian aksi dilakukan pada malam tahun baru atau malam natal tetapi justru menunggu calling down dulu. Kemudian melakukan aksinya dengan sistem sel komando putus yakni cukup efektif dilakukan dengan 4 sampai 7 orang,” jelas Harits.
Harits menambahkan bahwa mereka melakukan tindakan teror itu dengan targetnya yang tidak terlalu besar, dan dilakukan di siang bolong dan tempat keramaian. Tentu, menurutnya, teror seperti itu targetnya lebih showwing (menunjukkan eksistensi). Meski dari sisi dampak opini, propaganda sangat sukses bagi mereka dan itu dilakukan dengan dorongan keyakinan militansi mereka.
Sebab, menurut Harits, tidak semua orang yang menjadi pendukung ISIS ini mau melakukan tindakan seperti itu. Jadi, tegasnya, tidak bisa digeneralisir bahwa orang-orang yang mendukung ISIS akan melakukan hal seperti itu.
“Itu tidak bisa digeneralisir begitu. Jadi, kasus per kasus, atau orang per orang itu pasti berbeda-beda,” tandasnya.
Terakhir, Harits pun meminta kepada seluruh masyarakat supaya menunggu hasil penyelidikan dari pihak kepolisian yang berwenang dan profesional untuk mengungkap siapa pelakunya.*