Sambungan artikel KEDUA
Meskipun begitu, Shabana mengatakan bagi dia “permasalahan seperti itu semakin rumit” dan dia meninggalkan pekerjaannya. Saat ini dia memberi pelayanan anak di rumahnya bagi anak-anak pelajar Muslim.
Dia agak segan membicarakan tentang apa yang terjadi di pekerjaan lamanya “Itu hanya tidak kepedulian,” kata dia.
Shabana, seperti sejumlah Muslim Kuba, merasa harus ada peran aktif para Muslim yang dapat dimainkan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat Kuba tentang apa itu Islam.
“Ketika saya keluar hal itu juga baik, mereka selalu bertanya tentang jilbab dan dengan menjawab pertanyaan mereka, mereka belajar sesuatu tentang Islam dan dengan cara itu mereka mulai beradaptasi. Sehingga mereka mengetahui apa Islam itu, tidak seperti yang mereka dengan dari orang-orang,” katanya.
Bisnis-bisnis kecil yang memberi pelayanan pada masyarakat setempat memainkan peran dalam menghasilkan diskusi tentang Islam di Kuba.
Jorge Miguel Garcia, yang nama Muslimnya Khaled, merupakan seorang pemilik Kafe di Santiago yang menjadi tempat bertemu baik bagi masyarakat Muslim ataupun bagi penduduk non Muslim Kuba.
Khaled berpindah dari Baptisme ke Islam, dan istrinya selama 20 tahun masih tetap seorang Baptis.
Dia dulunya bekerja di obat-obatan forensik, tetapi ketika pemerintah mengizinkan penduduk Kuba untuk membangun bisnis kecil dia mengambil kesempatan itu.
“Tidak seperti Kafe lain, kami tidak menjual alkohol dan hal itu tidak pernah menjadi masalah.”
Jorge Miguel Garcia, yang juga dikenal dengan nama Khaled, pemilik kafe.
Dia awalnya memiliki ide untuk mengimpor peralatan motor, tetapi bisnis import saat ini bukan bisnis yang diperbolehkan di Kuba, dia lebih memilih membangun Kafe Sport dengan teman non-Muslimnya.
Mereka menjual makanan termasuk juga daging babi, tetapi Khaled berharap suatu hari dia dapat menjalankan Kafe yang sepenuhnya berdasarkan ajaran Islam. Dia percaya hal itu masih dapat menjadi bisnis yang menguntungkan.
“Memang benar bahwa masyarakat Kuba sangat menyukai makanan berbahan daging babi,” katanya, “tetapi keadaan sedang berubah dan orang-orang lebih menginginkan mencoba makanan-makanan baru. Saya sudah menjual pizza vegetarian, yang tidak kalian temukan dimanapun, dan tidak seperti kafe lain, kami tidak menjual alkohol dan itu tidak pernah menjadi masalah.”
Bagi dia, kafe berpengaruh, meskipun tidak secara sengaja, menjadi cara meningkatkan pemahaman masyarakat Kuban tentang Islam.
“Orang-orang yang datang pertama kalinya selalu menanyakanku tentang Islam dan saya menyukai itu, bahwa mereka tertarik. Banyak yang kembali khususnya karena mereka melihat kafe ini sebagai tempat yang menyehatkan di mana semua orang dilayani dengan hormat. Itu merupakan prinsip Islam: damai, cinta dan berserah diri pada Allah.”
Sebuah komunitas yang sedang dibangun
Pada 2015, sebuah museum di Calle Oficios di Old Havana diubah menjadi tempat ibadah dengan dukungan dari Office of the Historian, badan yang bertanggung jawab atas pembangunan di Havana pusat.
Tempat itu merupakan tempat yang paling mendekati sebuah masjid yang saat ini dimiliki Kuba dan merupakan tempat di mana Muslim Havana dapat melaksanakan sholat Jumat.
Di kota lain, solusinya lebih informal, orang-orang membangun sebuah tempat ibadah di rumah mereka sendiri.
Hassan dan Shabana memiliki ruangan kecil yang dipasangi karpet di rumah mereka di mana Muslim lain di wilayah itu dapat datang untuk beribadah.
“Kami tidak punya hal lain untuk ditawarkan pada mereka,” kata Shabana, “tetapi saudara dan saudari selalu diterima.”
Jamal mengatakan ruang ibadah umum bagi Muslim di Santiago merupakan sebuah prioritas.
Belum ada persetujuan, atau pendanaan, bagi masjid.
“Kami sedang membangun sebuah ruangan kecil, sekitar 12 meter persegi, untuk beribadah. Harapannya di masa depan – Insya Allah – mereka akan membolehkan kami membangun sebuah masjid yang layak. Dengan cara itu kami dapat berinteraksi sebagai sebuah masyarakat, saling mempelajari satu sama lain – selalu menyenangkan bertemu dan mempelajari orang-orang dari negara lain.”
Beberapa dukungan datang dari luar. Arab Saudi telah mendanai laboratorium bahasa baik di Havan dan Santiago dan pada 2014 telah mempunyai stan di Havana Book Fair di mana literatur tentang Islam dan al-Quran berbahasa Spanyol dibagikan. Raja Abdullah dari Arab Saudi, yang meninggal pada Januari tahun lalu, mendanai lima penduduk Kuba untuk melakukan ibadah Haji pada 2014. Mimpi yang hampir mustahil bagi kebanyakan Muslim Kuba, yang pendapatan pekerja pemerintah hanya sekitar $20 setiap bulannya.
Jamal dan Isa termasuk dalam lima orang yang beruntung itu.
“Saya tidak pernah berharap akan berangkat Haji secepat itu,” kata Jamal.
“Ketika saya tiba di Jeddah, di bandara, hal pertama yang saya dengar merupakan panggilan adzan, dan saya mulai menangis,” kenangnya.
“Kuba pastinya telah berubah,” kata Jamal. “Tetapi bagiku hal-hal akan benar-benar berubah ketika kami diperbolehkan membangun masjid kami sendiri, pusat belajar kami sendiri – untuk mempunyai hak-hak yang dimiliki agama lain. Ketika para wanita dapat menggenakan hijab mereka tanpa adanya masalah. Hal itu akan menjadi perubahan yang sesungguhnya.”/sambung Nashirul Haq AR