Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
NoneOpini

Falsafah Isra Mi‘raj pada Peletakan Batu Pertama di ISTAC Jalan Damansara

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 3 Maret 2022 20:46 8:46 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 3 Maret 2022 20:45
Bagikan
Bagikan

Oleh: Daru Nur Dianna

Hidayatullah.com | PERGURUAN TINGGI sebagai organisasi memerlukan kepemimpinan dan manajemen yang baik agar menjadi lembaga pendidikan yang bermutu. Tanpa kepemimpinan dan manajemen yang berkualitas, tujuan institusi tidak akan bisa tercapai.

Di Malaysia, ada sebuah institusi pendidikan tinggi yang telah dipimpin dan dimanajemeni dengan baik. Institusi ini bernama ISTAC (International Institut of Islamic Thought and Civilization) yang beralamat di 205A Jalan Damansara.

Institusi ini tercatat menjadi sebuah institusi yang unik dan melegenda di dunia Islam, terkhusus Dunia Melayu. Perintis dan direktur institusi ini adalah seorang tokoh besar kontemporer bernama Syed Muhammad Naquib al-Attas—selanjutnya disebut Naquib al-Attas.

Maka, sebab inilah juga, salah satu keunikan dan kelebihan Naquib al-Attas sebagai seorang pemikir, adalah pengalamannya menjadi Founder-Director ISTAC dari tahun 1987 sampai tahun 2002.

Baca Juga

Ketika Ilmu Pengetahuan Berpihak pada Kuasa, Bukan Kebenaran
Pelajaran dari Kejatuhan Keir Starmer: Belum Sampai ke Pantai
Tahun Baru Hijriah, Kini Punya Makna Perubahan Orientasi Hidup dan Kepedulian Sosial
Mendudukkan Kasus Kejahatan Seksual di FHUI
Cegah Anak Obesitas, Inggris Larang Makanan Manis dan Gorengan di Sekolah

Tidak seperti pemikir lainnya yang hanya memiliki karya besar berupa buku, Naquib al-Attas memiliki karya lain berupa sebuah intitusi pendidikan tinggi yang berkualitas.

Maka, ini menegaskan bahwa Naquib al-Attas bukanlah seorang pemikir saja, namun juga seorang praktisi. Lebih unik lagi, ISTAC tersebut adalah tempat di mana pemikiran dari falsafahnya diturunkan kepada level praksis.

Sehingga, apa yang ada di ISTAC, pada hakikatnya, adalah bentuk implementasi ide dan gagasan-gagasan Naquib al-Attas sendiri.  Gagasan-gagasannya mengenai pendidikan dan pemikiran, terefleksikan dengan jelas di dalam visi-misi, kurikulum, manajemen sumber daya manusia, serta sarana dan prasarananya.

Wan Daud menguraikan dengan komprehensif dalam karya “The Beacon on the Crest of a Hill: A Brief History and Philosophy of the International Institute of Islamic Thought and Civilization”, bahwa intinya Naquib al-Attas telah berusaha berperan secara totalitas dalam perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan dalam proses pendirian ISTAC.

Jika dilihat dari keberhasilan Naquib al-Attas dalam mengimplementasikan ide dan gagasannya di dalam unsur-unsur pendidikan, maka ini adalah tanda bahwa Naquib al-Attas telah berhasil menjalankan peran dan fungsi sebagai pemimpin dan manajer yang baik.

Misalnya, disebutkan, bahwa Naquib al-Attas menghendaki semua dalam konstruksi bangunan besarnya secara sempurna signifikan dan bermakna, mulai dari lansekap area, untuk menggambar rencana bangunan, sekaligus seluruh komposisi strukturnya meliputi jendela yang bagus, lengkungan (arches), pintu, pagar besi (grills), plafon, birai (balustrades), kepala tiang (capitals), hiasan atas dinding (cornices), konsol penyangga (corbels), tangga, gerbang, halaman gedung yang dikelilingi tembok (courtyard), dan air mancur (fountains)—dan juga kepada furnitur dan dekorasi interior.

Aspek fisik ISTAC, didesain untuk menagkap dimensi intelektual dan spiritual yang berakar pada tradisi Islam, tanpa menolak pengaruh Barat yang baik. Pada data-data fakta yang telah ditulis di berbagai sumber dan kenyataan sekarang, bangunan ISTAC mendapatkan banyak pujian dari berbagai kalangan, termasuk Gulzar Haider (Profesor Arsitektur Carleton University) dan Seyyeid Hossen Nasr.

Dari keberhasilan dan keunikan inilah, tak heran ISTAC juga terkenal sebagai sebuah tempat bertemunya antara ide dan seni, antara teori dan realiti, dan antara tradisi dan misi.  Salah satu ide dan gagasan Naquib al-Attas, adalah sengaja melakukan prosesi simbolik peletakan batu pertama dalam membangun bangunan tetap ISTAC bertepatan pada 27 Rajab 1420 H yang hari itu adalah hari peringatan penting umat Islam dengan adanya peristiwa Isrā’ wa’l-Mi‘rāj.

Dalam naskah khutbah peresmian yang tidak diterbitkan, yang dijelaskan ulang oleh Wan Daud dalam karya “The Educational Philosophy and Practices of Syed Muhammad Naquib al-Attas”, Naquib al-Attas mengatakan bahwa ia sengaja berusaha mengekspresikan kehadiran Islam yang memiliki atmosfer ketenangan yang di dalamnya melahirkan pemikiran-pemikiran brilian dan mulia. Ia berusaha memunculkan budaya Islam yang bebas dari kekejian dan tradisi sekular.

Dengan bangunan dan budaya yang indah itu, ia menginginkan pekerjaan intelektual dan penelitian dilakukan. Kemudian, agar nuansa spiritual dan intelektual itu muncul, ISTAC sengaja dibuat menghadap kiblat dan upacara peletakan batu pertamanya, adalah saat peringatan Isrā’ wa’l-Mi‘rāj.

Lanjut cerita Wan Daud dalam “The Beacon on the Crest of a Hill”, peristiwa peletakan batu pertama itu ditandai dengan upacara kecil di mana menempatkan sebuah pasak di tengah kompleks tempat air mancur itu sekarang berdiri. Kemudian dibacakan doa singkat agar Allah Swt. melimpahkan berkah-Nya di ISTAC, dan berdoa agar diberikan beberapa pengetahuan (al-‘ilm) dan kebijaksanaan (al-ḥikmāh) yang dianugerahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ ketika singgah ke Sidrat al-Muntahā (tempat tertinggi), bagi mereka yang mencarinya. Selain itu air mancur itu sebagai simbol pengetahuan, dan sekaligus makna besar Allah Swt. menjadikan dari air segala sesuatu yang hidup.

Hal ini sengaja dilakukan oleh Naquib al-Attas dengan maksud melakukan desekularisasi. Keputusannya ini dibuat sesuai berdasarkan apa yang dipahami dalam weltanschauung atau worldview Islam yang telah diaplikasikan dalam sejarah Islam, termasuk Dunia Melayu.

Sehingga, jika aspek fisikal sebuah bangunan ataupun nilai dari sebuah momentum dikaitkan dengan nilai-nilai religius, maka akan menjadi tradisi yang tidak sekuler. Prinsip ini juga sama dengan setting bangunan ISTAC yang sengaja dihadapkan kiblat.

Konsep dan praktik tersebut dapat menjadi inspirasi bagi para pemimpin dan manajer institusi pendidikan, bahwa dalam memutuskan dan melakukan kegiatan ataupun momentum penting pada desain dan pengaturan unsur-unsur pendidikannya, perlu memperhitungkan aspek spiritual.

Cerita ISTAC dan peletakan batu pertama pada momentum Isrā’ wa’l-Mi‘rāj ini adalah salah satu contoh. Sudah seyogyanya, umat Islam tidak terlarut dalam budaya sekuler yang memisahkan kehidupannya dengan nilai-nilai spiritual.

Maka, dapat disimpulkan, bahwa dengan adanya hubungan antara ruh spiritual dan bangunan fisik, adalah sesuatu yang penting dalam membangun sebuah lembaga pendidikan yang adil dan beradab.*

Alumnus PKU UNIDA Gontor XII

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:isra' Mi'rajISTACSyed Muhammad Naquib al-Attas
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Banjir Serang, BMH Kirim Relawan Bantu Evakuasi Warga
Tulisan selanjutnya Khutbah Jumat: Adzan, Suara Panggilan Menuju Allah yang Maha Rahman

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak

Berita
17 Juli 2026 14:04
INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia
Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Opini

Flotilla Indonesia to Gaza 2.0: Peluang, Tantangan, Transparansi

13 April 2026 18:00
Rudal Balistik Iran menarget Israel
None

Iran Hujani Israel dengan Rudal Usai Trump Klaim Kemampuannya Melemah

2 April 2026 23:03
None

200 Tentara AS Terluka, Iran Nyatakan Siap Perang Panjang

18 Maret 2026 15:25
ArtikelOpini

Menyikapi Fenomena ‘Cocoklogi’: Mengaitkan Peristiwa Kontemporer dengan Nubuat Akhir Zaman

18 Maret 2026 09:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?