Hidayatullah.com–Di akhir-akhir bulan Sa’ban, seluruh umat Muslim di dunia bersiap menanti datangnya bulan Ramadhan. Bulan ini memang perlu disambut karena keistimewaannya dari bulan-bulan lainnya. Belum tiba saja, kegiatan dan simbol-simbol penyambutan bulan suci ini sudah mulai mewarnai masyarakat. Hal ini juga yang terjadi di Mesir, kota yang dijuluki Seribu Menara.
Matahari sudah mulai tergelincir dan kembali ke peraduannya. Ketika itu umat Islam di Indonesia tengah diramaikan perbedaan pendapat soal awal bulan Ramadhan. Antara organisasi masyarakat ada yang berbeda dalam penentuan tanggal 1 Ramadhan dari pemerintahnya. Perbedaan ini memang bukan terjadi kali ini saja.
Sementara itu di waktu yang sama, umat Islam di Mesir masih menunggu pengumuman awal bulan Ramadhan secara resmi dari pemerintah. Sore itu, hiruk-pikuk di jalan raya masih tetap dirasakan layaknya kota metropolitan. Jalan-jalan utama masih dipadati kemacetan, layaknya jam-jam pulang kantor.
Tepat usai shalat Magrib, sejumlah ulama-ulama, para tokoh masyarakat, dan jajaran pemerintah mengadakan pertemuan yang bertempat di Azhar Confrension Center (ACC). Acara itu disiarkan secara langsung oleh televisi Mesir al-Masriya. Usai pembacaan ayat suci al-Qur’an, pembawa acara langsung memberikan waktu kepada Mufti Mesir, Syeikh Ali Jumah untuk mengumumkan 1 Ramadhan yang jatuh pada hari Jum’at, tanggal 20 Juli 2012.
Seluruh rakyat Mesir pun satu kata mengikuti ketetapan Mufti soal awal Ramadhan. Usai pengumuman itu, masjid-masjid langsung mengadakan shalat Taraweh berjamaah setelah shalat Isa. Jalan-jalan raya ketika malam pertama menyambut Ramadhan itu masih diwarnai dengan kemacetan.
Ini sangat jauh berbeda dengan malam berikutnya setelah Magrib, dimana jalan-jalan begitu sepi. Semua orang fokus pada buka puasa pertama di bulan Ramadhan tahun ini. Suasana kota ketika itu hening menyambut hari pertama Ramadhan.
Masyarakat Muslim di Mesir memang terkenal dengan kemajemukannya, termasuk soal kelompok-kelompok agama. Madzhab Fikih yang dianut oleh masyarakat Mesir juga beragam, tidak fokus pada satu madzhab. Toleransi dan saling menghargai pendapat masing-masing sangat dijunjung tinggi. Namun meski demikian beragamnya, ternyata umat Islam di Negeri Kinanah ini mampu satu kata untuk mentaati pemerintah yang dalam hal ini otoritatif Mufti, soal penetapan 1 Ramadhan.
Alhasil, Ramadhan pun menjadi semakin indah dengan persatuan. Tidak ada pertentangan pendapat dalam tubuh umat. Tidak ada yang merasa paling benar dari yang lainnya. Semuanya satu suara mentaati Ulil Amry (pemerintahnya).*