Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Inspirasi Ramadhan

Ketika Metropolitan Menerkam Ramadhan

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 29 Juli 2013 20:09 8:09 pm
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 29 Juli 2013 20:09
Bagikan
Tol Dalam Kota Jakarta dan baliho bergambar wanita seksi (disensor)
Bagikan

MUSIK mengalun lembut dari pengeras suara. Lagu pop berjudul “Jomblo Ditinggal Mati” menari-nari di telinga sekelompok orang dewasa. Di depan mereka, perempuan-perempuan pengumbar aurat menghiasi tatapan mata. Begitulah suasana Ramadhan di ibukota negara berpenduduk Muslim terbesar se-dunia.

Judul demi judul lagu berganti. Saya tak tenang menikmati perjalanan ini. Bukan perkara mudah menjalani Ramadhan di Jakarta. Apalagi ketika berbaur dengan kehidupan masyarakat metropolitan. Butuh kesabaran dan ketahanan militan.

Seperti saat itu, dalam perjalanan menuju Bandara Internasional Soekarno Hatta. Berangkat dari Cawang, Jakarta Timur menuju Cengkareng, Tangerang, Banten, kami menumpang sebuah kendaraan pribadi.

Sudah biasa jika pada hari-hari kerja di waktu pagi, jalur Tol Dalam Kota macet ke arah pusat Jakarta. Walau terbiasa, tetap saja tidak menyenangkan. Ditambah situasi dalam mobil yang membuat saya semakin tak tenang.

Sang supir menyetel musik bertema “cinta monyet”. Bagi saya, sungguh tidak elok mendengarkannya apalagi di bulan suci Ramadhan. Aplikasi Quran Reader di smartphone pun saya buka guna mengalihkan perhatian. Penumpang lain tampak menikmati musik alunan demi alunan.

Baca Juga

Jubah 1.000 Dirham: Totalitas Tamim Ad-Dary Menjemput Lailatul Qadar
Bulan Puasa Melatih Pola Hidup Sederhana
Dapur Ramadhan Hammad: 500 Ifthar Harian Plus 50.000 Dirham Lebaran
Kisah Jenaka Bulan Puasa 5 : Cara Unik Membangunkan Warga untuk Sahur
Teladan Keteguhan Imam Ahmad dan Kasman Singodimedjo pada Bulan Ramadhan

Situasi lain yang kontras dengan kesakralan Ramadhan adalah pemandangan di luar mobil. Di kanan-kiri sepanjang Jalan MT. Haryono – Jalan Gatot Subroto hingga masuk Tangerang, berdiri baliho-baliho iklan raksasa dihiasi gambar model-model wanita berpakaian seronok.

Mau tidak mau, baliho itu terlihat saat para penumpang menatap ke luar jendela. Sungguh mata ini tersiksa. Sedikit “terhibur” saat melihat baliho iklan bertema “sahur” dan “buka puasa”. Selebihnya, Jumat (26/7/2013) pagi itu seakan bukan bulan Ramadhan.

Jauh Yaman dari Busway

Selepas Shalat Jumat di salah satu masjid kompleks bandara, saya bergegas menuju Terminal 2D Soekarno Hatta International Airport. Di sana telah menunggu Ivan, seorang sahabat yang baru saja tiba dari Yaman. Tujuan saya ke sini memang hendak menemuinya. Apa katanya begitu melihat pemandangan di bandara?

“Di Yaman sudah ‘syukur’ kalau bisa lihat muka perempuan, pakai cadar semua. Di sini (Jakarta) berhamburan, terbuka-terbuka lagi (pakaiannya),” ketus bujang ini setengah berguyon, ketika dihadapkan banyaknya wanita berpakaian tak Islami di bandara.

Ivan sudah empat tahun meninggalkan Indonesia. Kebiasaan menjalani Ramadhan di Timur Tengah tentu berbeda dengan negeri sendiri. Butuh waktu baginya untuk beradaptasi kembali dengan “budaya” nusantara.

Dia bercerita, jangankan di bulan Ramadhan, di hari-hari biasa pun Yaman sudah terasa begitu kondusif dalam berpuasa. Pandangan mata jauh lebih terjaga dibanding di Tanah Air.

Bagi saya, Indonesia dalam hal ini memang tak sebanding dengan negara-negara Jazirah Arab. Kepada Ivan saya bilang, menjalani Ramadhan di Indonesia lebih berat ujiannya.

Teringat sebuah perjalanan selepas liputan di Masjid Istiqlal pada Ramadhan 1433 H silam. Dari Istiqlal saya menumpang bis TransJakarta (TransJ) jurusan Harmoni-PGC. Seperti biasa pada sore hari, bis gandeng ini penuh muatan.

Para penumpang himpit-himpitan di dalam bis. Walau petugas TransJ sudah berusaha memisahkan, tetap saja pria-wanita bercampur-baur. Berdiri di lambung tengah bis, saya tak berkutik ketika semakin banyak penumpang naik.

Makin lama, makin banyak penumpang yang merapati tubuh ringkih saya. Termasuk para wanita dengan aurat terbuka. Dempet-dempetan pun tak terhindarkan.

Dalam kondisi begitu, istighfar kepada Allah adalah pelarian pertama. Parahnya kemacetan memperlama waktu tempuh TransJ. Jalur busway tak lagi steril, disesaki kendaraan-kendaraan lain.

Sungguh suasana Ramadhan yang ironis. Ketika setiap Muslim dituntut mempuasakan diri dari berbagai hawa nafsu, justru para penumpang –yang tentu mayoritas Muslim– terpaksa “bermaksiat” dalam kondisi darurat.

Kondisi ini kerap menimbulkan pelecehan seksual. Kondisi ini pula yang menjadi salah satu penyebab saya, dan banyak penghuni Jakarta lainnya, berpaling ke angkutan pribadi.

Teman saya lainnya yang pernah tinggal di Yaman bercerita pada suatu kesempatan. Di Negeri Saba itu, pantangan bagi seorang pria masuk ke angkutan umum jika di dalamnya terdapat seorang saja wanita. Yaman memang bukan Indonesia, batin saya.

Hilang…

Jumat pagi di hari ke-17 Ramadhan 1434 H itu, saya masih di atas Tol Dalam Kota. Ditemani 6 pria dan seorang wanita berjilbab yang tak satu pun saya kenal. Selain supir, kami bertujuh memang menumpang sebuah angkutan pribadi berbayar. Saya memilihnya saat “darurat”.

Mobil kami melewati Jembatan Semanggi, Jakarta Pusat. Di sini kemacetan mulai terurai. Semakin dekat ke bandara semakin lancar. Selancar pergantian lagu yang entah sudah berapa judul berlalu. Kali ini supir memutar lirik milik grup band “Wali”.

Nada-nada religi mengalun lembut dari loudspeaker mobil. Shalawat kepada Rasulullah menari-nari di telinga para penumpang. Diiringi lentingan musik pengundang syahwat berjoget.

Dari Quran Reader, saya mengarahkan pandangan kembali ke luar jendela. Di jalur tol arah berlawanan, terlihat beberapa reklame bermuatan religi.

“Marhaban Yaa Ramadhan!” bunyi pesan pada reklame itu.

Tulisannya besar, berwarna putih dengan latar hijau. Menempel di belakang gerbang-gerbang tol. Saat melintasinya, saya memutar kepala ke samping kanan, lalu menahan putaran leher untuk tetap melihatnya.

Pesan itu perlahan menjauh, seiring kendaraan yang terus melaju. Menghilang ditelan padatnya perkotaan. Ayat-ayat al-Qur’an pada layar smartphone masih tergenggam di tangan. Segera saya balikkan kepala perlahan. Sebelum Ramadhan benar-benar hilang diterkam metropolitan.*

Baca juga Catatan Ramadhan (1) “Bukan Senja Biasa di Selatan Jakarta”

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:BudayaDKI Jakartahikmah RamadhanPotret RamadhanTata kotaWartawan dan Ramadhan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Menkominfo Harapkan Informasi Mudik Bersifat Edukatif
Tulisan selanjutnya MIUMI Akan Kirim Delegasi ke Mesir

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026

Berita
13 Juli 2026 06:00
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Inspirasi RamadhanRamadhan

Seribu Dirham Ramadhan dan Ujian Keikhlasan

8 Maret 2026 17:00
5 Tips Mendidik Anak agar Cinta Ramadhan
Inspirasi Ramadhan

5 Tips Mendidik Anak agar Mencintai bulan Ramadhan

25 Maret 2022 06:00
Sejarah perang di bulan ramadhan
Inspirasi Ramadhan

9 Perang Kaum Muslimin di Bulan Ramadhan

16 April 2021 07:00
Takjil Sehat Kacang Hijau Almond
Inspirasi Ramadhan

5 Resep Takjil Sehat Untuk Berbuka Puasa

14 April 2021 14:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?