MUSHALLA Madinatul Mujtahidin, seperti biasa, sore di bulan Ramadhan 1438 H itu disemarakkan puluhan jamaah shalat ashar. Suasana ibadah berlangsung penuh kesakralan. Nyaris tak ada suara-suara yang mengganggu ketenangan jamaah. Usai shalat dan berdzikir, jamaah berangsur membubarkan diri.
Dulu tidak setenang demikian. Shalat jamaah di mushalla yang terletak di Jl Buncit Raya Pulo, Pulo Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan ini, beberapa tahun lalu masih sering terganggu oleh keributan suara-suara tertentu.
Karena itulah, pengurus mushalla membuat aturan tertulis dan peringatan secara lisan, agar para jamaah tidak berpartisipasi menyumbang keributan tersebut.
Dipasanglah dua lembar kertas HVS putih di dekat pintu mushalla. Salah satu kertas itu tampak unik. Awak hidayatullah.com langsung tertuju padanya saat pertama kali mendatangi mushalla ini, Selasa, 4 Ramadhan 1438 H (30/05/2017).
Kertas berplastik laminating itu ditempel dengan sejumlah paku payung pada kayu lubang ventilasi, dekat pintu mushalla. Jamaah yang akan ke tempat wudhu bisa dipastikan akan berhadapan dengan kertas itu.
“RENUNGAN.” Judul besar tulisan itu, yang pertama kali mudah terbaca saat dilihat dari agak jauh. Kertas ini memang berisi bahan perenungan bagi para jamaah.
Tanpa pengantar, renungan itu langsung diawali sebuah kalimat panjang di paragraf pertama:
“Jangan sampai kita niat akan shalat berjamaah tapi hasilnya sebaliknya, justru kita dikategorikan/dicap sebagai pengganggu shalat berjamaah, gara-gara HP milik kita berdering saat shalat berjamaah sedang berlangsung. نعوذ بالله من ذلك.”
Baca: Maksimalkan Ramadhan, Penasihat Kedubes Saudi: Balik ke Qur’an, Tinggalkan HP
Ya, kertas itu memang berisi renungan untuk para jamaah, agar jangan sampai telepon seluler (ponsel) atau handphone (HP) yang dibawa jadi pengganggu kekhusyukan shalat.
Salah seorang jamaah mushalla, H Munawar, 57 tahun, mengaku sebagai penulis renungan itu.
“(Itu ditulis) sudah lama,” kata Penasihat Mushalla Madinatul Mujtahidin ini kepada hidayatullah.com, Jumat, 7 Ramadhan 1438 H (02/06/2017) bakda shalat ashar.
Alasannya menulis dan memasang renungan itu, ungkapnya, karena merasa risau dengan seringnya terdengar suara terutama deringan HP jamaah saat shalat di mushalla, beberapa tahun lalu.
“Kalau dulu sebelum ada peringatan, hampir setiap hari ada krang kring tiap shalat,” ungkap pria asal Brebes, Jawa Tengah, yang merantau di Jakarta sejak tahun 1981 ini.
“Sungguh sangat terganggu konsentrasi/kekhusyukan shalat kita saat terdengar dering HP milik jamaah yang lain yang teledor tidak menon-aktifkan HP miliknya.
Untuk itu non-aktifkan segera HP kita saat sampai di mushalla ini, lupakan sejenak relasi bisnis/bos kita, semata Allah.
Sebagai manusia biasa wajar/manusiawi bila merasa marah, kesal, jengkel, gondok, dalam hati saat HP saudara kita yang teledor berdering. Padahal saat itu kita sedang menghadap Dzat Yang Maha Suci, Maha Mulia, Maha Agung, Allah SWT. نعوذ بالله من ذلك.
Sebagai pemilik HP tersebut, dosakah dia???? Berapa orang jamaah yang buyar/rusak konsentrasi/kekhusyukannya gara-gara bunyi dering HP orang tersebut? Sekali lagi نعوذ بالله من ذلك.
Sungguh besar efek negatif dari dering HP tersebut.”
Panjang memang renungannya. Disambung dengan penegasan:
“Untuk itu, mulai sekarang JANGAN LUPA…. MATIKAN HP kita begitu sampai di musholla ini atau di RUMAH ALLAH manapun.”
Pada bagian ujung renungan, jamaah pun kembali diingatkan:
“Sekali lagi dosakah kita jika lalai menon-aktifkan HP kita yang berdering saat shalat berjamaah berlangsung? Ingat!!! Kedatangan kita di mushalla ini semata-mata hanya untuk shalat berjamaah….”
Lalu ditutup dengan pesan, “Maaf bila isinya sedikit menggurui.”
Pada bagian bawahnya, Munawar menulis lafadz Arab “Al-Faqir ila rahmatillah” yang tampaknya ‘identitas’ penulisnya.
Paling bawah, tertulis tanggal kalender Hijriyah dalam lafadz Arab, sebagai keterangan waktu penulisan renungan itu, yaitu 9 Rabiul Akhir 1434, yang berdasarkan penelusuran hidayatullah.com bertepatan dengan tanggal 19 Februari 2013.
Jika umumnya pengumuman atau peringatan di suatu masjid atau mushalla ditulis dengan kalimat singkat dan tulisan besar-besar, di Mushalla Madinatul Mujtahidin dibuat unik. Renungan panjang yang sepenuhnya ditulis tangan itu pun hurufnya cukup kecil, untuk ukuran sebuah pengumuman di tempat umum.
Munawar mengungkapkan, Mushalla Madinatul Mujtahidin didirikan sekitar tahun 1983 oleh seorang tokoh masyarakat setempat, H Abdillah bin H Madinah.
Kompleks mushalla seluas sekitar 400 meter persegi ini antara lain terdiri dari bangunan shalat, tempat wudhu, dan ruang serbaguna yang juga digunakan anak-anak untuk belajar saban sore.
Di kayu-kayu lubang ventilasi ruangan serbaguna itulah, dua kertas tersebut dipajang secara bersamaan, kata Munawar. Di samping kertas renungan itu, ia menempel kertas HVS putih berukuran dan berisikan pesan serupa. Bedanya, kertas kedua pesannya lebih jelas dan singkat:
“Tolong, JANGAN LUPA, HP segera di-NON AKTIFKAN saat tiba di musolla ini.”
“Biar penasaran (orang lihat),” kata dia. Begitu penasaran, orang diharapkan akan tertarik untuk membaca tulisan yang kecil-kecil tapi tetap cukup jelas terlihat dari dekat itu.
Renungan itu pun, imbuhnya, semacam pengingat bagi jamaah. “Itu paling tidak dibaca,” ujarnya. Setelah jamaah membaca pesan renungan itu, diharapkan tersadar dan mengondisikan HP-nya agar tidak mengganggu kekhusyukan ibadah.
“Sebaiknya kalau mau melakukan ibadah apapun, baik sunnah maupun wajib, jangan diembeli (sesuatu), jangan sampai justru membawa kemudaratan atau malah justru berdosa,” pesan Munawar kepada hidayatullah.com.
Sebab, menurutnya, saat jamaah shalat di masjid atau mushalla dengan membawa HP dalam kondisi menyala, tiba-tiba HP itu berbunyi, belum tentu shalatnya diterima. “Dosa sudah jadi,” ujarnya berpendapat.
Selain lewat tulisan, pengurus mushalla pun kerap mengingatkan para jamaah agar terus berupaya menjaga kekhusyukan ibadah, terkhusus dengan mematikan HP saat di tempat shalat. Dan ternyata, upaya tersebut, termasuk lewat pengumuman dan renungan pada dua kertas itu, membuahkan hasil.
Sekarang suasana ibadah di mushalla ini kata Munawar sudah lebih baik dari sebelumnya. Tidak ada lagi bunyi-bunyi HP yang mengganggu kekhusyukan shalat seperti dulu. “Kesadaran masyarakat sekarang sudah tinggi,” ujar Munawar yang beristrikan seorang wanita asli Betawi.*