Hidayatullah.com | HARI ini mentari pagi begitu cerah. Ibu pun mengajak kami untuk jalan-jalan pagi sekaligus menengok sebuah kebun milik julag Seriam. ‘Julag adalah istilah kakak saudara laki-laki dan perempuan dalam adat Paser’. Tidak menunggu waktu yang lama, cukup beberapa menit saja kami sudah sampai di pematang sawah.
Sawah ini adalah satu-satunya kebun padi yang ada di desa kami. Biasanya kebiasaan di kampung ini mayoritas menanam padi di atas gunung. Untuk membedakan, biasanya warga menyebutnya padi sawah atau padi gunung.
Setelah sampai, kami berbincang-bincang bagaimana bisa memanen padi di bulan Ramadhan seperti ini. Apalagi beberapa hari ini matahari sangat terik. Belum lagi usia julag Seriam yang sudah berumur 75 tahun. Untungnya beliau tidak memanennya seorang diri. Sebut saja nama ibu rumah tangga itu ibu Janariah. Sudah tiga hari beliau membantu julag Seriam untuk panen padi, bertiga dengan teman satunya lagi.
Aku pun menanyakan perihal puasa dan bagaimana keadaan saat panen padi dengan kondisi sedang berpuasa. “Alhamdulillah selama panen padi tersebut, puasa tetap dilakukan. Meskipun lidah sudah terasa sangat pahit akibat panas dan teriknya mentari,” pungkas ibu Janariah kepadaku.
Tidak tanggung-tanggung, panen di sawah yang luasnya kurang lebih dua hektar lebih bisa selesai dalam tiga hari. Luar biasa pikirku. Meskipun sudah lanjut usia. Namun semangat mereka masih seperti kaum muda. Inilah totalitas dalam menyambut ramadhan. Puasa ramadhan bukanlah penghalang untuk melakukan aktivitas bahkan panen sekali pun.
Dewasa ini mungkin saja masih banyak yang meremehkan amalan di bulan Ramadhan. Masih saja ada yang tidak berpuasa. Apalagi semangat dalam melakukan ibadah lainnya. Namun apa alasan tidak mau berpuasa? Apalagi jika kita bukan termasuk orang-orang yang diberikan rukhsah atau keringanan oleh Allah untuk tidak berpuasa. Ditambah lagi dengan badan yang masih segar bugar, sehat, kuat dan masih bertenaga.
Bercermin darinya membuat kita sebagai kaum muda seharusnya tak boleh kalah. Bilamana ramadhan adalah lautan pahala. Tak bosannya kita harus lebih produktif dan lebih aktif. Beribadah, bekerja dan beramal harus menjadi hal yang paling disemangati. Sebab Allah sudah menjanjikan padanya Ramadan itu untuk meraih ketakwaan.
Yakinilah bahwa kecil besarnya ibadah, pekerjaan, dan amal yang dilakukan akan bernilai. Tidak perlu bersusah mencarinya, lakukanlah hal bermanfaat atau hal apa saja. Selama hal itu adalah kebaikan maka bernilailah dia. Ada mujahadah yang kita bisa perjuangkan untuk benar-benar dapatkan yang namanya ketakwaan.
Sebagaimana julag Seriam, tidak patah semangat walau sudah tua renta. Lihat saja tidak hanya memanen padinya untuk diri sendiri. Separuh hasil panen kemudian dibagikan kepada para anak dan cucunya. Jujur kami sebagai kaum muda cukup merasa malu tidak bisa membantu.
Apalagi kami juga mendapatkan hasil panen itu dengan sekantong keong emas. Sungguh mengharukan dan penuh kesyukuran, apalagi pemberian itu ditutup dengan senyuman, dari wajah renta, peluh yang penuh pelajaran.*/Meliana Kusuma