Oleh: RizqoKamil Ibrahim
SEBELUM Sebelum menjadi dewasa, kupu-kupu adalah ulat yang tak seindah dirinya ketika menjadi dewasa ,bahkan terkesan menjijikkan bagi banyak orang. Kupu-kupu memiliki siklus hidup yang unik, yang terdiri dari empat tahap yaitu : Telur , ulat(larva),pupa, dan imago (dewasa).Perubahan ini yang kita kenal sebagai metamorfosis .
Lain hal nya kupu-kupu manusia terlahir dengan sempurna, tanpa perantara kepompong atau pun menjadi ulat untuk menemukan bentuk sempurnanya. Tidak terbatas pada kesempurnaan eksoteris (lahiriyah) melainkan mencakup aspek esoteris (batin) alias “tanpa dosa”.
Namun seiring dengan bertambahnya tinggi dan usia, terkadang manusia menjadi “ulat-ulat” kehidupan yang terkesan menjijikkan. Premanisme, korupsi, dusta, ghibah dan perbuatan dzalim lainnya, serta ibadah-ibadah kita yang belum sempurna nan keropos nampaknya sudah cukup untuk menunjukkan diri yang kian “mengulat”.
Lantas bagaimanakah nasib kita yang telah menjelma menjadi “ulat-ulat” kehidupan?
Maha suci Allah yang maha pengasih yang membuka pintu taubat selebar lebarnya bagi ummat Muslim. Shalat lima waktu, umrah, haji, meupakan beberapa sarana untuk menghapus dosa, begitu pula ibadah puasa Ramadhan yang sedang menghampiri kita.
Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dalam keadaan iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR.Bukhari)
Bulan Ramadhan atawa meminjam istilah masyarakat “bulan Puasa” tak ubahnya kepompong bagi kehidupan manusia. Yang gemar menggunjing setelah keluar dari kepompong sejatinya gunjingannya berkurang bahkan menghilang, yang sering berdusta begitu selesai Ramadhan menjadi insan yang jujur, begitu pula yang jarang menjamah masjid keluar dari kepompong menjadi “penunggu” shaf pertama yang setia. Si “bakhil” tiba-tiba menjadi pemurah keluar dari Ramadhan, perangai buruk menjadi baik.
Inilah yang dimaksud dengan “agar kamu bertakwa”, sebagaimana firman Allah azzawajalla:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (Al-Baqarah : 183) .
Taqwa dalam artian yang umum adalah melakukan apa apa yang diperintahkan Allah dan rasulnya dan meninggalkan apa apa yang dilarang oleh Allah dan rasulnya shallallahu ‘alaihiwasallam .
Taqwa merupakan manifestasi dari berhasilnya puasa. Manusia yang sudah terlanjur menjadi “ulat -ulat” kehidupan memasuki kepompong Ramadhan sudah selayaknya keluar menjadi kupu-kupu, bukan kembali menjadi ulat.
Padahal hal ini sudah diwanti – wanti dari empat belas abad yang lalu oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam, dalam sabdanya:
“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya melainkan hanya rasa lapar dan dahaga.” (HR.Ath-Thabrani)
Lantas, akankah ulat yang masuk kedalam kepompong keluar menjadi kupu-kupu? insyaAllah. Semoga Allah memberikan kita kemudahan dalam menjalankan ibadah puasa.*
Penulis mahasiswa di Universitas Madinah