Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mutiara Ramadhan

Ramadhan untuk Selamanya

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 29 Mei 2017 10:39 10:39 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 29 Mei 2017 10:39
Bagikan
Ketika semua sibuk buka WhatsApp, wanita ini tampil beda dengan para penumpang lain
Bagikan

SEBAGAI nama bulan, Ramadhan memang hanya ada satu. Namun, untuk kesadaran nilai, Ramadhan akan senantiasa relevan spiritnya untuk ditularkan pada bulan-bulan lainnya. Bukankah amalan seperti puasa, shalat malam, sedekah, iktikaf dan membaca al-Qur`an –dalam porsi tertentu- juga dipraktikkan pada bulan-bulan yang lain? Terlebih, jika puasa di bulan Ramadhan adalah sarana membentuk insan takwa, maka semakin mengukuhkan bahwa nilai-nilai di dalamnya tak kan pernah lekang sepanjang hayat.

Terkait masalah ini, ada cerita menarik yang menunjukkan bahwa Ramadhan menjadi kesadaran nilai untuk bulan-bulan lainnya.

Suatu hari, Muhammad bin Abi al-Faraj hendak mencari pelayan untuk membantunya menyiapkan makanan pada bulan Ramadhan. Untuk memenuhi keinginannya, ia beranjak ke pasar. Sesampainya di lokasi, ia menemukan seorang budak wanita yang berkulit kuning, berbadan kurus, dan berkulit kering. Lantarahn kasihan melihat kondisinya, akhirnya pilihan pun jatuh kepada budak wanita ini. Kemudian, dibawalah ia ke rumah Muhammad.

Sesampainya di rumah, Muhammad memberi instruksi, “Bawalah keranjang belanja ini, ikutlah bersamaku ke pasar untuk menyiapkan kebutuhan Ramadhan.” Rupanya perintah Ibnu Abu Al-Faraj membuat budak wanita ini heran sembari berkomentar, “Wahai tuanku! Dulu aku bersama tuan yang semua harinya adalah Ramadhan.”

Jawaban dahsyat ini membuat Muhammad memberi penilaian khusus bahwa perempuan ini adalah bagian dari wanita salehah.

Baca Juga

Makna Shalawat Allah dan Malaikat untuk Orang yang Menjalankan Sunnah Sahur
Kisah Jenaka Bulan Puasa 10: Imam Tarawih Mati Kutu
Kisah Jenaka Bulan Puasa 9: Ngabuburit Akhir Zaman
Kisah Jenaka Bulan Puasa 7: Badui Pamer Puasa
Kisah Jenaka Bulan Puasa 6: Ketika Badui Diajak Membatalkan Puasa

Perkiraannya terbukti. Selama bersama Muhammad di bulan Ramadhan, wanita tersebut menghidupkan malam-malamnya untuk qiyâmul lail (shalat malam) sepanjang 30 hari. Saat malam Idul Fitri tiba, Muhammad mengajaknya, “Ayo ikut aku pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan Idul Fitri.” Ia menjawab dengan pertanyaan balik, “Memang kebutuhan apa yang hendak kita beli untuk Idul Fitri? Kebutuhan orang awam atau orang khusus (istimewa)?”.

Baca:  Ramadhan untuk Kita yang ‘Bosan’

Mendengar pertanyaan demikian, Muhammad mempersilakannya memberi penjelasan satu persatu mengenai kebutuhan dua tipikal tersebut.  “Tuanku,” jawabnya dengan mantap, “kebutuhan orang awam pada umumnya adalah makanan seperti lazimnya terjadi pada Idul Fitri. Adapun kebutuhan orang istimewa pada Idul Fitri ialah menjauh dari orang, ia lebih memilih untuk menyendiri, meluangkan waktu untuk berkhidmat kepada Allah Subhanahu Wata’ala dengan ketaatan serta merendahkan diri sebagai hamba-Nya.”

Seketika itu juga Muhammad pun menimpali, “Aku ingin memenuhi kebutuhan makan.” Hamba sahaya cerdas ini berbalik tanya, “Makanan apa yang Anda maksud? Makanan jasad atau makanan hati?” Seperti semula, Muhammad memintanya agar menjelaskan karakteristik masing-masing makanan.

“Adapun makanan jasad,” jawabnya, “adalah kebutuhan makanan pokok yang biasa dibutuhkan orang pada umumnya. Sedangkan makanan hati adalah dengan meninggalkan dosa, memperbaiki kesalahan, bersenang-senang menikmati, menyaksikan yang dicintai, rida dengan hasil yang diperoleh,” selain itu menurut hamba yang cerdas ini, “kebutuhan-kebutuhan hati adalah khusyuk dan takwa, meninggalkan kesombongan dan propaganda, serta kembali kepada Allah Subhanahu Wata’ala, bertawakal kepada-Nya dalam hal rahasia ataupun ketika berbisik-bisik dengan orang, kemudian shalat dalam keadaan khusyuk dan tunduk. Ketika shalat belum usai, ajal tiba  menjemputnya, ia pun mati dalam rahmat Allah.” (Hâni al-Hâj,  Alfu Qhishshah wa Qishshah min Qashashi al-Shâlihîn wa al-Shâlihât wa Nawâdiru al-Zâhidîn wa al-Zâhidât, 452).

Baca:  Apa Hajatmu, Mohonkanlah di Bulan Ramadhan!

Kisah singkat dari hamba sahaya cerdas ini stidaknya memberikan beberapa pelajaran berharga.

Pertama, Ramadhan sebagai kesadaran nilai yang bisa diterapkan pada bulan-bulan lainnya. Dengan demikian, ibadah tidak menunggu Ramadhan dan ia tidak sekadar menjadi tradisi tahunan.

Kedua, nilai utama manusia adalah takwa bukan status dan rupa.

Ketiga, konsisten beramal shaleh baik di dalam maupun di luar bulan Ramadhan.

Keempat, sebagaimana Ramadhan, Idul Fitri juga mengandung kesadaran nilai yang bukan sekadar memuaskan kebutuhan fisik tapi lebih tinggi dari itu adalah kebutuhan spiritual yang mendekatkan hamba kepada Allah.

Kelima, orang yang sukses menggapai fitri adalah mereka yang bisa memuaskan kebutuhan hati. Wallâhu a’lam.*/Mahmud Budi Setiawan                       

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Bulan RamadhanIktikafmembaca al-Qur'anPuasaQiyamul LailRamadhanSedekahshalat malam
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Anggota DPR Minta Usut Tuntas Kasus Penerbitan Al-Quran Tanpa Surah Al-Maidah 51-57
Tulisan selanjutnya Diskon Tilang 50 Persen Selama Ramadhan di Abu Dhabi

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Berita
31 Mei 2026 05:00
MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Masjid Al Aqsha BSD Sembelih 198 Hewan Qurban, Distribusi hingga Aceh dan NTT

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

Mutiara RamadhanRamadhan

Kisah Jenaka Bulan Puasa 4 : Ghundar dan “Bonus” Puasa Lupa

12 Maret 2026 11:00
Mutiara RamadhanRamadhan

Memantaskan Diri Meraih Lailatul Qadar

11 Maret 2026 16:00
KajianMutiara RamadhanRamadhan

Keutamaan Puasa Ramadhan menurut Al-Ghazali

11 April 2022 17:30
KajianMutiara RamadhanRamadhan

Inilah Syarat dan Rukun Puasa Ramadhan yang Perlu Diketahui

3 April 2022 13:20
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?