Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Mutiara Ramadhan

Ramadhan; Sangkala Kematian Posmodernisme [2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 22 Juni 2016 16:49 4:49 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 22 Juni 2016 16:49
Bagikan
Suasana menjelang buka puasa Muslim New Delhi-India
Bagikan

Sambungan artikel PERTAMA

 

Oleh: Andika Saputra

 

Memenangkan pertempuran melawan hasrat memampukan manusia menjaga jarak dari tubuhnya. Hasrat tidak lagi menguasai dirinya, justru kini dirinya yang menguasai hasrat. Pertanda dari orang-orang yang lulus dari pendidikan pertama Ramadhan adalah dapat mengontrol kegiatan konsumsi sekedar untuk memenuhi hak tubuh, tidak berlebih-lebihan dan menaati batas-batas konsumsi yang telah ditetapkan Allah. Contoh saja, saat berbuka puasa ia mampu mengendalikan konsumsi sebatas mengisi perut dan membasahi tenggorokan sekedar untuk menegakkan tubuhnya agar dapat beribadah.

Baca Juga

Makna Shalawat Allah dan Malaikat untuk Orang yang Menjalankan Sunnah Sahur
Kisah Jenaka Bulan Puasa 10: Imam Tarawih Mati Kutu
Kisah Jenaka Bulan Puasa 9: Ngabuburit Akhir Zaman
Kisah Jenaka Bulan Puasa 7: Badui Pamer Puasa
Kisah Jenaka Bulan Puasa 6: Ketika Badui Diajak Membatalkan Puasa

Bagi yang kalah dalam pertempuran, bisa jadi ia tetap berpuasa dan merasa telah menundukkan hasrat, tapi yang terjadi justru hasrat meneguhkan kendali terhadap tubuhnya. Hasrat memiliki mekanisme untuk membuat saluran baru jika saluran yang telah ada ditutup. Puasa menutup saluran konsumsi makan, minum dan hubungan suami istri yang mendorong hasrat membuat saluran baru yang berujung pada kegiatan konsumsi yang lain, seperti berbelanja baju atau pergi ke salon untuk mengalihkan perhatiannya dari menahan lapar dan haus. Hasrat semakin menggedor keras ketika waktu berbuka telah dekat dengan mengendalikan lidah untuk mencicipi berbagai jajanan dan mengendalikan perut untuk memakan seluruh yang dilihatnya. Begitu berbuka, hasrat dipompa mengalir deras yang mendorong munculkan kegiatan konsumsi nir-batas hingga tubuhnya terasa berat untuk sekedar tegak beribadah.

Pendidikan kedua, setelah keluar sebagai pemenang dari pertempuran melawan hasrat dan memegang kembali kendali terhadap tubuhnya, Ramadhan mengajak manusia menemukan kembali hakikat kediriannya dengan menyelami kedalaman jiwa. Tubuh yang absen dari perkara konsumsi memungkinkan manusia mengalihkan perhatiannya dari tubuh kepada jiwa. Menyelami kedalaman jiwa bertujuan untuk menyambung kembali tali ikatan dirinya dengan Allah yang telah mengendor bahkan terputus sebagai akibat dari terhanyut dan tenggelam dalam persoalan tubuh dan kesenangan-permukaan.

Melalui ibadah, yakni ibadah lahir yang diikuti ibadah bathin, tali yang kendor kembali kencang dan tali yang putus kembali tersambung. Ramadhan memungkinkan percepatan bagi umat Islam untuk mengikat-erat kembali dirinya kepada Allah melalui intensitas ibadah yang lebih tinggi daripada bulan-bulan lainnya.

Melalui peningkatan ibadah, Ramadhan mendidik umat Islam untuk menyelaraskan kembali tubuh dan jiwanya. Berpuasanya tubuh untuk membendung hasrat diikuti berpuasanya jiwa untuk membersihkan segala penyakit bathin.

Hasil dari ibadah yang beriringan adalah kesatuan antara jiwa dan tubuh dengan jiwa sebagai hakikat manusia dan tubuh sebagai cermin bagi jiwa, sehingga bersihnya jiwa akan terpancar dari tunduknya tubuh. Lenyap sudah kontradiksi antara tubuh dan jiwa, keduanya berwajah tunggal yang disinari cahaya Allah. Tidak ada lagi pemakai jilbab yang jiwanya ingkar kepada Allah dan tidak ada lagi lidah yang fasih mengutip ayat-ayat Ilahi tapi di dalam jiwanya tersimpan niat merusak agama Allah. Para pemenang dari pendidikan kedua mendapatkan kembali statusnya sebagai manusia-religius yang ditandai dengan berkuasanya kembali jiwa terhadap tubuh dan tersambungnya kembali jiwa kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Pada tingkatan pendidikan yang terakhir, yakni pendidikan ketiga, Ramadhan mendidik manusia untuk menjaga jarak dari dirinya sendiri. Ramadhan tidak lagi mengajak manusia melakukan gerak ke dalam jiwa, tapi gerak ke atas mencapai sumber kehendak jiwa hingga jiwanya lebur di dalam kehendak Ilahi. Bagi orang-orang yang mampu mencapainya, ia melihat jiwa dan tubuhnya sebatas wadah bagi Allah untuk merealisasikan kehendak-Nya di muka bumi. Inilah kondisi ketertundukan total seorang hamba kepada Tuhannya yang ditandai dengan kemampuan menyingkirkan kehendak dirinya yang bersifat personal. Kehendak Allah menjadi kehendak dirinya.

Dalam kondisi ini tidak berarti hasrat hilang, tapi diarahkan semata untuk menuju Allah sebagai satu-satunya Dzat yang patut untuk dihasrati. Kegiatan konsumsi yang dilakukan, begitu juga dengan kegiatan lainnya, memiliki muatan spiritual karena dijadikan sebagai jalan menuju Allah. Dirinya tidak lagi memerlukan kenikmatan-permukaan karena telah digantikan dengan kenikmatan-spiritual sebagai buah kedekatan dirinya dengan Allah.

Luluh lantah sudah Posmodernisme sebab satu persatu pilar penyangganya dirobohkan Ramadhan dengan cara meneguhkan batas, meniadakan kontradiksi, membendung hasrat dan menggali kedalaman.

Inilah solusi konkrit yang dimiliki Islam untuk menjaga fitrah manusia sebagai makhluk-religius; makhluk yang senantiasa terhubung dengan Tuhannya. Perlu dicatat, kemampuan Ramadhan mengakhiri Posmodermisme bersifat potensial. Tinggal dibutuhkan kemampuan dan kesungguhan umat Islam untuk menjadikannya faktual. Kalau saja umat Islam menyambut Ramadhan dengan suka cita, menjalaninya dengan sungguh-sungguh dan menjaga semangatnya pada sebelas bulan setelah Ramadhan, dipastikan mesin budaya Posmodernisme akan terhenti, alam budayanya akan runtuh dan sistem budayanya akan tercecer tak lagi bermakna.

Tidak ada kata penutup yang tepat selain, Ramadhan adalah sangkala kematian bagi Posmodernisme! Mari kita wujudkan! Allahu a’lam bishawab.*

Penulis tinggal  di Kartasura

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:postmodernismePuasaRamadhan
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pendiri HI Bantah Ajarkan Paham Menyimpang dari Islam
Tulisan selanjutnya 19 Pengaruh Maksiat menurut Ibnu Qoyyim

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Trump Bilang 1.000 Rudal akan Memusnahkan Iran Apabila Presiden AS Dibunuh

Berita
12 Juli 2026 11:46
MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
Pejabat Libanon Konfirmasi Keikutsertaan Negaranya dalam Pembicaraan dengan Israel di Roma
Croissant Viral Bergaya Vulgar Tak Penuhi Syarat Sertifikasi Halal, Ini Penjelasan MUI

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Mutiara RamadhanRamadhan

Kisah Jenaka Bulan Puasa 4 : Ghundar dan “Bonus” Puasa Lupa

12 Maret 2026 11:00
Mutiara RamadhanRamadhan

Memantaskan Diri Meraih Lailatul Qadar

11 Maret 2026 16:00
KajianMutiara RamadhanRamadhan

Keutamaan Puasa Ramadhan menurut Al-Ghazali

11 April 2022 17:30
KajianMutiara RamadhanRamadhan

Inilah Syarat dan Rukun Puasa Ramadhan yang Perlu Diketahui

3 April 2022 13:20
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?