Oleh: Alwi Alatas
KITA baru saja memasuki tahun baru 1435 Hijriah. Kini kita berada pada bulan Muharram yang merupakan bulan pertama dari Tahun Baru Islam. Tulisan kali ini akan mengangkat tentang dihapuskannya pemerintahan Dinasti Fatimiyah yang juga terjadi pada bulan Muharram, lebih dari delapan setengah abad yang lalu.
Dinasti Fatimiyah didirikan pada tahun 909 Masehi oleh Ubaydillah al-Mahdi (w. 934). Ia mengaku sebagai keturunan Ismail bin Ja’far al-Shadiq yang nasabnya bersambung pada Ali bin Abi Thalib dan Fatimah ra., walaupun kebanyakan ulama tidak mengakui nasabnya. Ubaydillah dan para pengikutnya menyebarkan ajaran Syiah Ismailiyah dan menjadikan ajaran ini sebagai dasar pemerintahan pada dinasti yang didirikannya. Gerakan dakwah Ismailiyah sendiri telah berjalan secara rahasia sejak masa-masa sebelumnya, oleh para pendahulu Ubaydillah.
Pada awal masa pemerintahannya, wilayah kekuasaan Dinasti Fatimiyah hanya mencakup wilayah Tunisia dan sekitarnya. Namun enam dekade kemudian, yaitu pada tahun 969 M, wilayah kekuasaannya meluas hingga ke Mesir dan dinasti ini menjadikan Kairo sebagai ibu kota pemerintahannya yang baru. Dalam kebijakan luar negerinya, Dinasti Fatimiyah menjadikan pemerintahan Abbasiyah sebagai rival utama pemerintahannya. Para pemimpin Fatimiyah tidak mengakui Kekhalifahan Abbasiyah dan menyebut diri mereka sendiri sebagai Khalifah yang sah. Hal itu mendorong pemerintahan Fatimiyah melakukan ekspansi ke arah Timur, mendekat ke pusat pemerintahan Abbasiyah, bukannya ke Eropa yang berada di bagian utaranya, atau melintasi Sahara Afrika di bagian selatannya.
Sifatpermusuhan ini tergambar pada sebuah kisah yang dituturkan oleh seorang dai Syiah Ismailiyah pada masa itu, yaitu al-Muayyad fil Din al-Shirazi (w. 1078). Kisahtersebut sebenarnya ditujukan untuk menyindir seorang tokoh Syiah Zaidiyah yang berpihak pada kalangan Ahlu Sunnah, tapi pada saat yang sama juga memperlihatkan hakikat dan sasaran permusuhan kaum yang mengklaim kecintaan terhadap Ahlul Bait ini.
Al-Mu’ayyad bercerita bahwa pada suatu masa ada satu orang Syiah yang menyertai sekumpulan Sunni berjihad melawan Byzantium. Mereka kemudian tertangkap dan dipenjarakan. Belakangan, satu persatu rekannya dibebaskan hingga tinggal orang Syiah ini yang masih tersisa. Ia kemudian dihadapkan ke depan Kaisar Byzantium dan ditanya, “Siapa orang ini?” Ia menjawab bahwa ia merupakan seorang Syiah.
Kaisar kemudian bertanya lagi, “Apa maknanya ini – Syiah?”
“Saya adalah pengikut Ali bin Abi Thalib,” jawabnya.
“Dan siapakah Ali bin Abi Thalib?”
“Keluarga Muhammad, Utusan Tuhan, dan yang merupakan wakil (penerima wasiat) yang sah darinya.”
“Apa yang terjadi pada Ali selepas wafatnya Muhammad?”
“Ia dibunuh.”
“Apakah kami yang membunuhnya?” tanya Kaisar Byzantium.
“Tidak,” jawabnya.
“Kalau begitu siapa?”
“Kaum Muslimin.”
“Apakah ia memiliki anak-anak dan keturunan?”
“Ya, dan yang tertinggi di antara mereka adalah al-Hasan dan al-Husain, putera-putera dari puteri Rasulullah, semoga keberkahan dan kedamaian selalu terlimpah atasnya.”
“Apa yang terjadi pada mereka?”
“Al-Hasan diracun dan al-Husain dibunuh, dan keluarganya ditawan.”
“Apakah kami yang melakukan hal itu terhadap mereka?”
“Tidak.”
“Kalau begitu siapa?”
“Kaum Muslimin.”
“Jadi musuh-musuh kamu adalah dari kalangan Muslim, dan bapak serta orang-orangmu membunuh mereka (tokoh-tokoh yang dijadikan imam oleh kalangan Syiah), dan kamu datang ke sini untuk memerangi Byzantium yang tidak melakukan kejahatan apa-apa terhadapmu? Mengapa?”
Melalui kisah ini, secara tidak langsung al-Mu’ayyad menjelaskan bahwa musuh mereka yang sesungguhnya adalah dari kalangan Muslim sendiri, dalam hal ini Ahlu Sunnah. Hal ini menjelaskan mengapa Fatimiyah melakukan ekspansi ke arah pusat pemerintahan Abbasiyah dan bukannya ke negeri-negeri non-Muslim.
Wilayah kekuasaan Dinasti Fatimiyah mencapai puncaknya pada paruh pertama abad ke-11, yang mencakup Afrika Utara, Mesir, Suriah, Hijaz (Makkah-Madinah), dan Yaman. Ekspansi secara militer bukan satu-satunya metode yang digunakan oleh Fatimiyah. Selain cara-cara militer, dinasti ini juga mengembangkan pendekatan dakwah untuk mengajak masyarakat kepada ajaran Ismailiyah. Para juru dakwah Ismailiyah bergerak secara terorganisasi dan dikendalikan oleh semacam kementerian khusus yang dipimpin oleh seorang pimpinan tertinggi juru dakwah (da’i al-du’at) di Kairo. Para dai Ismailiyah menyusup ke berbagai wilayah Sunni ataupun non-Ismailiyah lainnyauntuk mengajak masyarakat kepada ajaran Syiah Ismailiyah. Mereka merahasiakan keyakinan dan dakwah mereka di wilayah yang mayoritasnya menganut Sunni sehingga yang terakhir ini menyebut kalangan Syiah Ismailiyah sebagai kaum Batiniyah. Kombinasi dakwah dan militer ini membawa pemerintahan Fatimiyah ke puncak kekuatannya dan menjadi ancaman yang sangat berbahaya bagi pemerintahan Abbasiyah.
Pada akhir tahun 1050-an, Dinasti Fatimiyah menjadi pendukung utama – dengan memberikan dana dan persenjataan – bagi pemberontakan yang dilakukan oleh Abul Harith al-Basasiri di Baghdad. Misi untuk menguasai Baghdad melalui peranan al-Basasiri (w. 1059) dan beberapa pihak lainnya dipimpin oleh seorang petinggi pemerintahan Fatimiyah ketika itu, yaitu al-Muayyad al-Shirazi. Ia nantinya diangkat menjadi kepala dai (da’i al-du’at) Ismailiyah setelah kembali dari menjalankan tugas tersebut. Pemberontakan al-Basasiri berhasil dan selama satu tahun lamanya, yaitu pada tahun 1058-1059, nama Khalifah Fatimiyah disebut sebagai pengganti Khalifah Abbasiyah dalam khutbah-khutbah Jum’at di pusat pemerintahan Sunni itu. Al-Muayyad menyambut berita itu dengan syair: “(Itu adalah) sebuah hari yang muram bagi putera Abbas, yang di dalamnya ia menyaksikan kematian pada tubuhnya di depan matanya. Ia menghabiskan malamnya tersandung pada ekor-ekor kehinaan, menukar ruang pertemuannya yang besar dengan kurungan penjara yang sempit.”Bagaimanapun, pemberontakan ini pada akhirnya dapat ditumpas oleh Dinasti Turki Saljuk yang masuk ke pusat pemerintahan di Baghdad dan Kekhalifahan Abbasiyah bangkit kembali setelah itu.
Selepas kejadian di atas, terjadi titik balik di kedua pemerintahan. Dinasti Abbasiyah mengalami penguatan bersama dengan masuknya Dinasti Saljuk ke Baghdad dan dengan terjadinya kebangkitan Ahlu Sunnah di pemerintahan tersebut. Sementara itu, Dinasti Fatimiyah mulai mengalami kemunduran secara gradual. Wilayah Suriah, Hijaz, dan Yaman kembali menjadi bagian dari Kekhalifahan Abbasiyah, dan Fatimiyah terdesak ke Mesir dan Afrika Utara. Walaupun Dinasti Saljuk mengalami perpecahan pada akhir abad ke-11 dan diikuti dengan terjadinya perang salib di wilayah Suriah, tren kebangkitan Ahlu Sunnah dan kemunduran Syiah Ismailiyah sendiri tidak mengalami perubahan.*/bersambung ARTIKEL Kedua, bagian Era Shalahuddin al-Ayyubi dan Kemunduran Syiah
Penulis adalah penulis buku “Nuruddin Zanki dan Perang Salib” kolumnis hidayatullah.com, kini sedang mengambil program doktoral bidang sejarah di Universiti Islam Antarabangsa, Malaysia