PASCA pelatinkan presiden terpilih Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara, puluhan tokoh dan pemimpin luar negeri menyampaikan ucapan dan mendatangi presiden RI ketujuh ini. Di antaranya Di antaranya Perdana Menteri Malaysia Najib Razak, Menteri Luar Negeri AS John Kerry, Perdana Menteri Australia Tony Abbott, dan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong.
Hari Selasa, (21/10/2014), Wakil Ketua Komisi Tetap Kongres Rakyat China (Tiongkok) Yan Junqi menyambangi Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka sekitar pukul 14.00 WIB didampingi beberapa stafnya.
Pertemuan yang dilakukan di ruang tamu Istana Merdeka itu tidak berlangsung lama. Pada pukul 14.19 WIB, keduanya tampak keluar dari ruangan pertemuan tanpa memberikan komentar apapun kepada awak media. (CNN Indonesia, Selasa, 21/10/2014 14).
Di bawah kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Tiongkok menjadi mitra dagang terbesar kedua Indonesia dengan volume perdagangan mencapai US$66,2 miliar tahun lalu, empat kali lipat lebih besar ketimbang tahun 2005.
Dikendalikan Taipan?
Bulan Maret, tepatnya Kamis (13/3/2014) malam sebelum dimulai pencalonan Jokowi, sekitar 60 pengusaha menemui Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri akan menerima kedatangan sekitar 60 pengusaha di Kantor DPP PDIP di Lenteng Agung, Jakarta Selatan.
Acara ini digelar berdasarkan permintaan para pengusaha yang bergerak di berbagai bidang tersebut. Awalnya ada sekitar 75 orang, namun belakangan yang datang sekitar 60 orang.
“Kalau mau nyumbang, kita sampaikan aturannya, batas maksimalnya, nomor rekening partai juga diberikan. Kami berpikir positif saja, kalau mau datang kan mau membantu,” ujar Sekretaris Jenderal DPP PDI-P Tjahjo Kumolo.
Ratna Sarumpaet bahkan pernah mengatakan, biaya blusukan dan kampanye yang dilakukan Gubernur DKI Joko Widodo atau Jokowi dipengaruhi oleh konglomerat Indonesia yang pernah dekat mantan presiden AS, Bill Clinton, James Riady. [Baca: Ratna Sarumpaet menilai biaya Blusukan dan Kampanye Jokowi dibiayai James Riyadi]
Bahkan secara mengejutkan, Ketua Balitbang PDI-P, Kwik Kian Gie mengungkap dengan terang-terangan agar PDI menjawab hubungannya dengan 9 Taipan China.
“Mumpung ada Tim Rumah Transisi, saya benar-benar prihatin dengan kabar-kabar bahwa Pak Jokowi dikepung 9 Taipan.Orang-orang kaya yang mengendalikan. Dan kabar ini menyebar sangat luas. cuma tidak ada yang mengatakan, biarlah saya yang mengatakan.Bukan karena apa-apa,karena kecintaan saya. Tolong dijawab dengan fakta-fakta bahwa itu tidak betul. Karena kabar ini meluas,” ujarnya dalam acara Indonesia Laywer Club (ILC) di TVOne 21 Oktober 2014 bertema “Jokowi JK Mencari Menteri Yang Bersih”.
Kwik bahkan mengutip keterlibatan pengusaha Grup Gemala, Sofjan Wanandi dengan Jokowi. Pengusaha bernama asli Liem Bian Koen ini pernah tercatat sebagai status tersangka pada tanggal 15 Februari 1999 berkaitan dengan kasus kredit macet senilai 26 juta dollar AS dari Bank Negara Indonesia (BNI) 1946, Bank Rakyat Indonesia (BRI), dan Bank Bumi daya (BBD).
“Lalu apa peran Sofyan Wanandi? Memang dia Ketua APINDO. Mengapa harus muncul di mana-mana? Justru itulah para Taipan ini mempunyai pengaruh besar.Karena itu saat ini orang mulai was-was, akan jadi apa kabinet ini. Apa betul seprerti dijanjikan akan jujur dan memberantas korupsi,” tambahnya Kwik.
Seperti diketahui, Liem Bian Koen atau Sofyan Wanandi dari Jusuf Wanandi (politisi senior dan pendiri CSIS (The Centre for Strategic and International Studies) yang pada tahun 1970-an dikenal dekat pemerintah Orde Baru dan ditengarai kajiannya menjadi rujukan untuk meminggirkan umat Islam di pentas kekuasaan dan politik.
Menjelah Pemilu presiden, hari Sofjan termasuk orang yang sibuk mendukung Jokowi.
“Kita melihatnya optimistis, pengusaha optimistis jika beliau memimpin,” kata Sofjan di sela-sela acara “Pemaparan Platform Ekonomi Jokowi-JK” yang diselenggarakan oleh Kelompok Profesional Pendukung (KKP) Jokowi-JK di Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Rabu (4/6/2014).
Pada hari Kamis (26/6/2014) Sofjan Wanandi dan para pengusaha menyatakan bergabung dengan Relawan Harmoni mendeklarasikan dukungan untuk Jokowi-Jusuf Kalla di Hotel Sahid Jaya.
Meski Indonesia adalah negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, tak ada tanda-tanda Jokowi mendekatkan atau menunjukkan kedekatan pada pengusaha Muslim atau Timur Tengah. Sebaliknya, justru lebih mendekat ke Tiongkok.
Ketika pertama kali Indonesia merdeka. Negara asing pertama kali yang mendukung dan mensupport justru Palestina dan Mesir. Sekarang nampaknya terbalik.
Apa benar ini tanda Indonesia ke depan lebih dengan dengan China dan para Taipan?
Umi Maulana
Sidoarjo Jawa Timur