Oleh: Hisyam Basabah
KEHADIRAN Perdana Menteri Tun Dr. Mahathir Mohamad untuk menyampaikan ceramah di sebuah forum yang diselenggarakan oleh Union of Cambridge University menerima banyak perhatian dan protes oleh komunitas Yahudi di London baru-baru ini.
Tidak mengherankan, keberatan itu dibuat oleh komunitas Yahudi sebagai Tun Dr. Mahathir adalah seorang pemimpin Islam yang kuat dan konsisten yang mengkritik tindakan rezim Zionis yang tidak berperikemanusiaan terhadap komunitas Muslim Palestina dan kebijakan non-demokratis Barat ketika dihadapkan pada masalah yang melibatkan komunitas Muslim.
Konsistensi Tun Mahathir Mohamad telah lama membuat ‘dendam’ orang-orang Yahudi yang mendukung rezim Zionis terbakar karena dipastikan kuliah yang diberikan oleh Tun Dr. Mahathir berputar sekitar kekejaman rezim Zionis terhadap Palestina sekaligus mengkritik demokrasi yang selalu didengungkan mereka seolah sebagai sistem yang paling baik.
Pertanyaan tentang demokrasi bagaimana etika oleh mereka sementara arti dari demokrasi itu sendiri secara umum berarti setiap orang memiliki hak yang sama tetapi seperti yang terjadi di Palestina, rezim Zionis ilegal telah menyangkal hak rakyat Palestina terhadap tanah mereka sendiri dan dengan merampas dan mewujudkan sebuah negara haram hasil Perjanjian Balfour pada tahun 1947.
Kuliah yang disampaikan oleh Tun Dr. Mahathir bertajuk Demokrasi di Malaysia dan Asia Tenggara secara keseluruhannya dilihat memfokuskan kepada makna demokrasi itu sendiri.
Baca: Malaysia Diboikot Yahudi
Bagi Barat, negara yang mempraktikkan demokrasi adalah negara yang menerima pengaruh dan nilai Barat sebagai ideologi dan memegang negara, sementara demokrasi itu sendiri sangat luas, yang tunduk pada demografi dan sosiologi dari negara itu sendiri.
Tentu saja, demokrasi yang dipraktikkan oleh Malaysia jauh berbeda dari negara-negara di Barat karena Islam adalah dasar dari pembentukan Malaysia sementara Barat tidak menjadikan dasar Islam sebagai ideologi negara mereka.
Demokrasi juga mengacu pada kebebasan dalam berpikir dan bertindak.
Sebagai negara yang menganut prinsip-prinsip Islam, Malaysia juga bebas untuk menolak nilai-nilai dan desakan Barat.
Menurut Tun Dr. Mahathir, Malaysia memiliki budaya sendiri dan tidak dapat menerima apa pun yang bertentangan dengan kebiasaan dan agama.
Lebih jauh, Barat selalu berbicara tentang kebebasan, yang berarti Malaysia juga bebas untuk menolak praktik kehidupan yang tidak sesuai dengan negara tersebut, termasuk nilai-nilai Barat itu sendiri.
Dia menambahkan bahwa salah satu manifestasi kebebasan yang sejalan dengan Barat adalah kebebasan hak untuk menerima apa yang dilakukan di Barat dan itu tidak benar dan tidak boleh diterima.
Namun, menurut pandangan penulis tentang hak dan kebebasan komunitas Muslim yang tertindas di beberapa negara, Barat justru diam dan tidak berbicara menentang para penindasan karena itu dilakukan sendiri oleh sekutu dekat mereka seperti rezim Zionis terhadap komunitas Muslim di Palestina.
Selain itu, penindasan oleh pemerintah Myanmar terhadap etnis minoritas Muslim Rohingya juga tidak mendapatkan perhatian yang tepat meskipun penindasan itu tidak dapat diterima oleh pikiran beradab dan masyarakat intelektual.
Penghancuran suara-suara Barat pada penindasan pemerintah Myanmar pada etnis minoritas di Myanmar terkait erat dengan kepentingan strategis dan ekonomi Barat, terutama kepentingan Amerika Serikat di Myanmar sendiri karena posisi Myanmar di tengah rute perdagangan internasional dan memiliki nilai strategis pada mereka.
Baca: Keberanian Malaysia Menolak Atlet ‘Israel’ Dapat Pujian Masyarakat
Tentu saja, jika Barat secara agresif mengkritik penindasan Myanmar terhadap etnis minoritas Rohingya, kepentingan mereka akan disaingi oleh China sebagai pesaing Barat di kawasan Asia Pasifik.
Selain itu, pembelaan terhadap komunitas etnik minoritas Rohingya juga tidak memberi manfaat.
Demokrasi yang sebenarnya adalah utopis, karena tidak mudah untuk menerjemahkan idealisme menjadi sosok yang realistis.
Orang-orang yang membuat hukum sering melanggar hukum itu sendiri, serta demokrasi, orang-orang yang menguraikan gagasan demokrasi tetapi praktis demokrasi tidak ada ketika bertentangan dengan keinginan dan kepentingan manusia itu sendiri.
Oleh karena itu, bukan sesuatu yang aneh ketika Barat sendiri menjadi tidak demokratis ketika suatu isu yang tidak membawa minat atau mengancam kepentingan mereka sebagai sikap yang ditekankan terhadap dunia Islam.
Dengan demikian, kehadiran Tun Dr. Mahathir di forum Union Cambridge baru-baru ini sebagaimana kehadirannya di forum Oxford Union Januari lalu tidak jauh berbeda.
Dia masih mempertahankan konsistensinya dalam mengkritik ketidaktahuan Barat tentang penindasan dan ketidakadilan dunia, yang sebagian besar dilakukan pihak Barat sendiri.
Ironisnya, pengkritik keras dunia Barat itu justru mengkritik Barat di dunia Barat sendiri!
Jadi sudah pasti para pendukung rezim Zionis tidak akan dapat duduk tenang dalam pandangan mereka bahwa martabat mereka ditantang oleh seorang kepala pemerintahan yang berasal dari Negara Islam dengan status dunia ketiga.
Tun Dr. Mahathir di panggung internasional tidak hanya mewakili Malaysia tetapi juga mewakili dunia Islam secara umum setelah dunia Islam kehilangan pemimpinnya yang berwibawa dan vokal membela kepentingan umat Islam.
Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa banyak komunitas di negara-negara Islam memuji Tun Mahathir atas kemauan dan keberaniannya terhadap Barat, terutama Amerika Serikat dan sekutunya.
Ceramah Tun Dr. Mahathir Mohamad dalam forum Union Cambridge baru-baru ini dan sebuah forum yang diselenggarakan oleh Oxford bulan Januari lalu memiliki dampak besar serta meningkatkan kesadaran kepada masyarakat internasional bahwa demokrasi adalah bentuk pemikiran yang hanya bisa diwujudkan melalui tindakan, bukan hanya dalam ukiran yang indah, di selembar kertas.*
Penulis kandidat Doktor Filsafat Studi Etnis di Universitas Nasional Malaysia. Artikel diambil dari Astro AWANI