Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Analisis

Erdogan dan Politik Persenjataan [2]

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 18 Desember 2016 19:07 7:07 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 18 Desember 2016 19:07
Bagikan
Satelit Göktürk I
Bagikan

Sambungan artikel PERTAMA

 

Hidayatullah.com–Bagi Turki  negara-negara Asia, khususnya Pakistan, merupakan pasar  penting bagi produk-produk senjata Turki. Begitu juga dengan Azerbaijan, Bahrain, Bangladesh, Oman, Arab Saudi dan  Uni Emirat Arab sebagai pasar potensial Turki untuk menjual senjata-senjata kelautan dan non-laut.

Disamping terus mengembangkan persenjataan angkatan lautnya, pemerintahan Erdogan juga terus mengembangkan  persenjataan angkatan daratnya. Dan dengan menggunakan stok senjata militer Turki yang dibeli dari negara-negara Barat sebagai model atau acuan, maka para Insinyur Turki berhasil  mengembangkan senjata asli mereka.

Sebagai contoh Turki berhasil menciptakan senapan nasional  MPT-76 dengan gaya senapan M-16. Dan pada bulan Mei 2016 yang lalu Turki mulai melakukan produksi besar-besaran pada senjata ini. Militer Turki juga membuat Meriam Howitzer “Firtina” yang sering digunakan untuk perang melawan Partai Persatuan Demokrat Kurdi di perbatasan Suriah. Hingga saat ini meriam-meriam Turki terus mendongkrak kekuatan militer Turki dan meningkatkan jangkauan mereka, sehingga kebutuhan militer untuk memproduksi peluru kendali semakin terlihat jelas di hadapan mata.

Baca Juga

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Sidang Umum PBB UNGA
Mimpi Buruk Israel: Turki Bangkit Jadi Kekuatan Baru Timur Tengah
Strategi Ibrahim Traoré: Tinggalkan Penjajah Prancis, Dekati Rusia
“Gubernur Konten”,  Antara Pencitraan, dan Polarisasi Digital
Kampanye Digital Masif dari Arab Diluncurkan untuk Menjatuhkan Sinwar dan Hamas
NAS Daily Terima Penghargaan dari Lobi ‘Israel’

Mendapati kemampuan peluru kendali Iran “Shahab 3” membuat Turki termotivasi untuk mengembangkan jarak tempuh Peluru Kendali Balistik Yildirim. Jika jarak jangkau Yildirim I milik Turki ini dapat mencapai 150 KM, maka peluru kendali Yildirim II mampu menempuh sampai 300 KM, dan Turki terus berusaha  mengembangkan Yildirim III dengan hasil jangkauan sampai kepada 900 KM. Terakhir Turki sukses menciptakan Yildirim IV dengan jangkauan sepanjang 2500 KM.

Angkatan Bersenjata Turki juga sukses membangun proyek nasional “Tank Altay“. Meskipun proyek ini digambarkan sebagai kontribusi eksklusif Turki, tetapi harus ditunjukkan juga kontribusi Jerman dan Korea Selatan pada mesin tank dan meriam. Produksi massal Tank Altay dimulai pada bulan Agustus lalu, dengan demikian tentara Turki akan menhasilkan 250 tank jenis ini dalam  lima tahun ke depan.

Demikian pula Angkatan Udara Turki juga  terlibat dalam proses pengembangan senjata, dan pada tahun 2011 tentara Turki telah mengembangkan sistem identifikasi elektronik sendiri untuk mengidentifikasi antara pesawat kawan dan lawan, sebagai jawaban agar tidak terjadinya pengulangan bentrokan dengan pesawat tempur Yunani seperti yang terjadi pada  pada Maret dan Desember 2015 di laut Aegean, setelah insiden armada Mavi Marmara, dimana Israel telah menjadi musuh potensial.

Sampai pada tahun 2011, Turki masih menggunakan sistem Identifikasi Elektronik milik NATO, dimana sistem milik NATO tersebut tidak memperbolehkan Turki untuk menentukan sendiri negara-negara mana saja yang menjadi teman dan lawannya. Namun setelah sukses menciptakan sistem identifikasi elektronik sendiri, Ankara sekarang memiliki kemampuan untuk mengenali pesawat-pesawat tempur milik negara-negara teman atau negara lawan.

Terkait pesawat tanpa awak, perseteruan yang terjadi antara Ankara-Tel Aviv telah membuat para “Decition Maker” di Turki untuk menghentikan ketergantungan mereka kepada Israel.

Pada tahun 2008 Turki sempat membeli 10 unit pesawat tanpa awak jenis “Heron” dari Israel sebesar 183 juta dolar. Namun Turki dengan kemampuannya mengembangkan pesawat drone “Baykaktar” pada tahun 2014 membuat negara Erdogan itu sudah mandiri dalam menciptakan jenis pesawat ini. Selain itu, dengan dikembangkannya helikopter tempur nasional Turki Yang bernama “Atak” maka kekuatan militer Turki sekarang semakin kuat dan bukanlah lawan yang seimbang bagi Partai Buruh Kurdi.

Erdogan dan Politik Persenjataan [1]

Dalam perangnya melawan Partai Buruh Kurdi, selain menggunakan helikopter dan drone  sendiri, Turki juga melakukan penguasaan dan  pengawasan  wilayah-wilayah perbatasan pegunungannya dengan menggunakan satelit militernya yang berakurasi tinggi. Pada tahun 2012 Turki meluncurkan Satelit Göktürk II ke luar angkasa. Selanjutnya, melalui  perusahaan jasa spaceflight Eropa “Telespazio” yang bermarkas di Italia, Turki meluncurkan Satelit Göktürk I yang lebih canggih dan lebih kompleks lagi. Meskipun perusahaan jasa Italia sukses meluncurkan satelit untuk kepentingan Turki, namun Presiden Recep Tayyip Erdogan masih berkeinginan keras untuk terus memangkas ketergantungan Turki kepada negara-negara asing.

Disamping memproduksi senjata secara mandiri, Turki juga terus memperkaya gudang senjatanya dengan berbagai ragam persenjataan yang dibelinya dari negara-negara yang tidak tergabung dengan NATO dan terus berusaha untuk melepaskan diri dari senjata-senjata NATO. Langkah ini, dalam jangka panjang akan melemahkan pengaruh NATO di Turki, dan memberi  kesempatan kepada Turki untuk bermanuver lebih jauh lagi pada politik luar negerinya. Katanya, upaya Ankara untuk memperoleh sistem pertahanan anti rudal balistik dari China telah terhenti disebabkan tekanan kuat dari NATO.

Terkait ketegangan yang terjadi antara Turki vs UNI Eropa Dan Amerika Serikat, maka itikad Ankara untuk memperkuat hubungan dengan Moskow dan Beijing adalah ancaman nyata bagi Eropa.

Usaha Turki yang sangat ambisius untuk membangun proyek-proyek persenjataannya memberikan gambaran bahwa Turki tidak lagi boleh dipandang sebagai sekutu tradisional barat yang ompong sejak perang dingin yang senantiasa membutuhkan perlindungan dunia internasional.

Seiring dengan Ankara mulai mendefenisikan kembali maksud dan tujuan hubungannya dengan Barat, maka keamanan bukanlah faktor penentu hubungan ini, melainkan Turki akan sangat strik untuk menjalin hubungan atas dasar ekonomi dan perdagangan, karena dari sisi keamanan Turki sudah menentukan jalurnya sendiri dengan cara yang lebih independen tanpa harus memerlukan Barat lagi.*/Syafruddin Ramly, diambil dari laman Journal The Moese Dayan Centre, dayan.org, Desember 2016

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ErdoganHeybeliadaPersenjataan TurkiRecep Tayyip ErdoganSatelit Göktürk
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Ahli Hukum MUI: Majelis Hakim akan Tolak Eksepsi Ahok
Tulisan selanjutnya Gambar Milisi Syiah Hizbullah Bunuh Masyarakat Awam yang Tinggalkan Aleppo jadi Viral

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara

Berita
31 Mei 2026 05:45
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Mundurnya 'Israel' dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?
Analisis

Mundurnya ‘Israel’ dari Gaza Utara, Awal dari Perang Penghabisan?

5 Januari 2024 07:00
Analisis

Analisa Mantan Intel AS: Hamas Memenangkan Perang di Gaza

24 November 2023 13:00
Invasi Darat Israel ke Gaza
AnalisisArtikel

3 Skenario Invasi Darat Israel Menurut Pakar Keamanan Internasional

1 November 2023 06:10
Analisis

Serangan Pejuang Kemerdekaan Palestina  terhadap ‘Israel’ Makin Menampakkan Kemunafikan Barat

11 Oktober 2023 21:55
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?