Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Hidcompedia

Akal

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 16 Juli 2015 11:37 11:37 am
Admin Hidcom
Dipublikasikan 16 Juli 2015 11:36
Bagikan
Bagikan

KATA akal sering kita dengar bersama dan menjadi bagian kata yang kita ucapkan sehari-hari. Tahukah Anda? kata akal berasal dalam bahasa Arab, al-‘aql. Kata al-‘aql merupakan mashdar kata ‘aqola – ya’qilu – ‘aqlan artinya “paham (tahu/mengerti) dan memikirkan (menimbang)“.

Dalam al-Mu’jam al-Wasith (p. 616-617), kata akal disebutkan dengan istilah al-‘Aql. Kata tersebut merupakan salah satu bentuk derivasi dari akar kata “aqala’ yang berarti “memikirkan hakekat di balik suatu kejadian” atau rabatha (mengikat).

Dalam tradisi Arab Jahiliyyah, kata ‘aqala seringkali digunakan untuk menunjuk suatu “pengikat unta” (‘aql al-ibil). Selain itu, kata ‘aql juga memiliki makna al-karam (kemuliaan), maksudnya adalah orang yang menggunakan akalnya sesuai petunjuk Allah Subhanahu Wata’ala sebagai orang yang berakal (‘aqil).

Kata ’aql disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak 49 kali. Kata kerja ta’qilun diulang sebanyak 24 kali dan kata kerja ya’qilun sebanyak 22 kali. Sedangkan, kata kerja ’aqala, na’qilu, dan ya’qilu masing-masing terdapat satu kali.

Yang menarik, peng-gunaan bentuk pertanyan negatif (istifham inkari’) yang bertujuan memberikan dorongan dan membangkitkan semangat seperti kata “afala ta’qilun” diulang sebanyak 13 kali dalam Al-Qur’an. Diantaranya adalah firman Allah kepada Bani Israel sekaligus kecaman dalam QS. 2: 44;

Baca Juga

Makna Ijma’ dan Fatwa dalam Hukum Islam: Asal Kata, Definisi, dan Fungsinya
Makna “Dzalim”  
Makna “Bid’ah” dalam Pemahaman Keagamaan
Ribath di Jalan Jihad
Dua Kalimah Syahadat

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?

Ar-Raghib Al-Ashfahany dalam Al-Mufradat fii Gharib al-Qur’an (p. 346) mengungkapkan bahwa akal merupakan daya atau kekuatan yang berfungsi untuk menerima dan mengikat ilmu.Atas dasar itulah orang yang mampu menggunakan fungsi akalnya dengan benar disebut juga dengan alim (al-‘alim). Sebagaimana digambarkan dalam surat al-Ankabut : 43 bahwa orang yang alim ialah manusia yang mampu mengambil hakekat atau manfaat dari perumpamaan yang telah disampaikan Allah Subhanahu Wata’ala.

Abd Ar-Rahman Hasan dalam karyanya Al-Akhlak Al-Islamiyyah wa Asasuha (p. 317) menjabarkan proses berpikir manusia. Menurutnya, berpikir berawal dari proses mengikat makna suatu pengetahuan, proses ini terdapat dalam konsep akal atau disebut juga dengan ta’aqqul yaitu proses mengikat makna suatu pengetahuan. Setelah seseorang mengikat pengetahuan maka ia dapat dikatakan sebagai orang yang mengetahui (al-‘alim) suatu objek atau tanda-tanda (ayat), esensi ini terkandung dalam konsep ilmu (al’-ilm).

Dalam Kitab Al-Furuq Al-Lughawiyyah Baina Alfadz Al-‘Ilm Fi Al-Qur’an ditegaskan bahwa akal adalah daya atau kekuatan untuk menerima ilmu. Maksudnya, ilmu merupakan buah dari berpikir dengan hati. Adapun orang yang berpikir atau manusia yang telah menggunakan akalnya secara benar bisa dikatakan sebagai orang yang alim. Sebab dengan proses berpikir yang benar itulah ia akan sampai pada derajat orang yang tahu (alim). Maka, bisa dikatakan bahwa orang yang berpikir dengan benar ialah orang yang ‘alim. (Lihat: Q.S. Al-Ankabut : 43).

Dengan demikian,aktifitas berpikir manusia harus bersifat terus-menerus. Dan setelah seseorang mengetahui suatu tanda (ayat) maka ia selanjutnya harus memikirkan hakekat yang terkandung di balik tanda tersebut, proses ini disebut dengan tafakkur. Dan ketika seseorang telah mendapatkan pelajaran dari aktifitas berpikir tersebut maka yang harus dilakukan ialah memahaminya secara benar dan mendalam, proses memahami hasil (natijah) proses berpikir itu disebut dengan tafaqquh. Setelah seseorang memahami suatu ilmu maka yang harus dilakukan selanjutnya ialah mengingat apa yang telah ia pahami dari hakekat tersebut. Proses seperti ini disebut dengan tadzakkur. Dan ketika manusia selalu mengingat ilmu yang telah ia pahami maka upaya terakhir yang seharusnya dilakukan oleh orang yang berpikir ialah tadabbur atau melihat kembali hakekat dari suatu peristiwa atau ilmu yang telah dipelajari sebelumnya.

Jadi, konsep akal sangat sarat akan nilai-nilai ilmu pengetahuan. Dengan akal, manusia diarahkan untuk memikirkan hal-hal yang bisa dijangkau untuk menangkap esensi di balik suatu tanda. Sehingga, ketika manusia mampu memahami hakekat suatu ilmu maka akan bertambah pula keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Hal inilah yang membedakan cara pandang Islam terhadap cara pandang Barat yang lebih menitikberatkan akal pada aspek rasional semata.

Dalam Oxford, Advanced Learner’s Dictionary (1995, p. 970), akal (reason) seringkali diartikan dengan “the power of the mind to think, understand” (kemampuan otak untuk berpikir).

Dalam perspektif ini terlihat ada perbedaan secara konseptual antara pengertian umum (Barat) dan pengertian al-Qur’an yang mendefiniskan akal sebagai kemampuan hati untuk berpikir.

Pemahaman seperti inilah yang tersebar saat ini sehingga muncullah berbagai paham Barat seperti sekularisme, dualisme, humanisme, dan rasionalisme. Semua bermuara pada pemahaman terhadap pikiran yang khas cara pandang Barat yang mengabaikan kehadiran wahyu sedang Islam tidak.

Akal dalam Islam mencakup dimensi intelektual, emosional, dan spiritual yang sesuai fitrah manusia dengan tanpa meninggalkan bantuan wahyu. Pemahaman di atas berimplikasi pada perkembangan ilmu, iman dan amal seseorang  serta mampu menjadikannya pribadi yang beradab.*/Mohammad Ismail

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:akalbaratberfikirhatiislammindotaksekularismetafakkurwahyu
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Elemen Umat Bahas Upaya Kebangkitan Peradaban Aceh
Tulisan selanjutnya Parade Tauhid Indonesia di Jakarta Akan Libatkan Berbagai Tokoh Islam

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia

Berita
1 September 2026 12:00
Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
Komandan Tentara Suriah Era Assad Tewas Saat akan Ditangkap
Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
Buka Muktamar NU ke-35, Presiden Prabowo: Jangan Sekali-Kali Lupakan Jasa Ulama

Terbaru

  • AS Hantam 100 Target di Iran, Dua Tanker Minyak Ikut Diserang
  • Jelang Wajib Halal Oktober 2026, LPPOM Dorong Konsumen Ikut Mengawal Kehalalan Produk
  • Tinggal Sebulan Lebih, MUI Tegaskan Tak Ada Lagi Alasan Tunda Wajib Halal
  • Wajib Halal Oktober 2026 Menghitung Hari, BPJPH Ungkap Kesiapan Ekosistem Sertifikasi
  • Menembus Gelap, Mengantar Cahaya Al-Qur’an ke Pelosok Pandeglang
  • Aktivis Pro-Demokrawi Hong Kong Joshua Wong Mengaku Berkolusi dengan Pihak Asing
  • Studi: Kokain Lampaui Minyak, Jadi Sektor Ekspor Terbesar Kolombia
  • Trump Mengklaim ‘Israel’ Tak Akan Bertahan Tanpa Dirinya
  • Erdogan: Militer Turki Sedang Berada pada Periode Terkuat dalam Sejarahnya
  • Komandan ‘Israel’ Tak Menyesal Perintahkan Serangan yang Tewaskan 7 Relawan WCK

Mungkin Anda Juga Suka

Hidcompedia

Hisab, Muhasabah dan Yaumul Hisab

14 Maret 2024 03:25
Hidcompedia

Asal Usul Kata “Tarhib Ramadhan”

13 Maret 2024 00:30
Hidcompedia

Istilah Makar dalam Al-Quran

1 Maret 2024 14:00
Hidcompedia

Sarir dan Rahasia Ranjang

26 Januari 2024 11:09
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?