Kalimat tahmid (alhamdulillah) terkandung dua makna sekaligus; terima kasih dan pujian, yang berarti menetapkan sifat-sifat terpuji untuk Allah
Hidayatullah.com | DZIKIR adalah adalah amalan yang senantiasa dilakukan oleh seorang mukmin. Bacaan dalam dzikir –yang mengandung bacaan tasbih, tahmid (alhamdulillah) dan takbir— selain bentuk ibadah kita kepada Allah, juga sebagai sarana untuk mencari ketenagan bagi setiap orang beriman.
Karena dengan berdzikir kepada Allah, maka hati menjadi tenang.
ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.” (QS. Ar-Ra’du; 28).
Ada satu kalimat dzikir yang sering terucap dan terdengar di telinga seorang muslim. Kalimat itu adalah kalimat tahmid (alhamdulillah) sebuah kalimat yang sederhana dan ringkas, namun memiliki makna yang mendalam.
Tapi, pernahkah kita berusaha untuk merenungi, memikirkan dan mencari tahu makna dibalik kalimat tahmid tersebut? Usaha untuk memahami kalimat dzikir ini, dapat mejadikan kita lebih menghargai kalimat dzikir ini dan menambah kualitas kekhusukkan dzikir kepada Allah.
Tahmid adalah seseorang mengucapkan “alhamdulillah” sebagai bentuk pujian, sanjungan dan terimakasih kepada Allah secara berkali-kali (Tahdzib Al-Lughah, Abu Manshur, 4/252), hamdu secara bahasa bermakna lawan kata dari “dzam” yaitu tercela.
Kalimat hamdu sebagai kata yang dipakai disini adalah bentuk pujian yang maknanya lebih umum daripada syukru (ucapan terima kasih). Karena syukru adalah pujian atas kebaikan atau pertolongan yang mendahului. Artinya orang akan berterimakasih atas perbuatan baik atau pertolongan yang dia terima (Tafsir Al-Quran Al-Adhim, Ibnu Katsir, 1/129).
Sedangkan kata hamdu adalah pujian yang diucapkan setiap saat, tidak hanya tidak berkaitan dengan pertologan yang mendahuluinya (Mausuah Tafsir Al-Maudhui, 15/115) Kalimat Alhamdulillah adalah juga sebagai ayat permulaan dari surat Al-Fatihah.
Ada beberapa makna yang menarik yang seharusnya dipahami oleh seorang muslim, sehingga dapat lebih menghargai kalimat yang singkat lagi padat, tapi penuh dengan makna dan arti. Sebagai berikut:
Pertama, penyebutan kata alhamdu dalam Al-Qur’an itu sebanyak lebih 40 kali penyebutan. Di antaranya Allah memulai Surat Al-fatihah dengan kalimat tahmid, begitu pula surat lainnya. Surat Al-an’am, Al-Kahfi, saba’, Fatir.
Dalam kata al–hamdu terkandung makna pujian yang berarti menetapkan sifat-sifat terpuji untuk Allah dan menafikan segala kekurangan dan kecacatan dari Allah (Mausuah Tafsir Al-Maudhui, 15/115).
Sebagaimana kita ketahui Al-Quran dimulai dengan surat Al-Fatihah dan ini merupakan kesepakatan para sahabat tentang urutan penempatan surat dalam Al-Qur’an. Surat tersebut dikenal dengan Fatihatul kitab (surat pembuka) yang Allah memulai firman-Nya dengan kalimat tahmid.
Rasulullah ﷺ pun juga mengajarkan kepada para sahabatnya untuk memulai khutbahnya dengan kalimat tahmid. Maka dari sini para ulama juga mengikuti Beliau dengan memulai dan memberikan pendahuluan pada kitab-kitab karya mereka dengan kalimat tahmid. (Fath Dzil Al-Jalal Wa Al-Ikram, Utsaimin, 1/43).
kalimat alhamdulillah itu dimulai dengan alif dan lam. Bahwa (ال) pada kata alhamdu itu mempunyai makna الجنس (jenis) yaitu bermakna segala bentuk jenis pujian serta sanjungan kepada Allah dalam sifat-sifat-Nya serta kehendak-Nya terangkum dan masuk dalam satu kata saja yaitu alhamdu.
Di antara hikmahnya adalah, ketika seorang hamba itu sangat ingin untuk memuji Allah dengan sebenar-benarnya dan pada saat yang sama ia tidak mampu memberikan hak atau porsi yang sesuai dan layak kepada-Nya.
Maka Allah memberkan solusinya, yaitu dengan mengkhabarkan kepada para hambanya atas pujian tersebut yaitu dengan kalimat الحمد لله . Sebab, niscaya apabila seorang hamba mengitung-hitung kenikmatan yang Allah berikan kepadanya, maka ia tidak akan mampu.(Mausuah Tafsir Al-Maudhui, 15/116).
Allah berfirman:
وَإِن تَعُدُّواْ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ لَا تُحۡصُوهَآۗ
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnnya.” (QS. An-Nahl; 18).
Kedua, kalimat tahmid di dalamnya terkandung dua makna sekaligus. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Akhfasy, bahwa dalam kalimat tahmid ada ungkapan (الشكر) terima kasih dan ungkapan (الثناء) pujian dan sanjungan. (Lisan Al-Arab, Ibnu Mandzur,3/155).
Kalimat alhamdu mampu menggabungkan dua arti sekaligus. Karena pujian dan terima kasih itu berbeda.
Terkadang seseorang bisa memuji tanpa harus berterima kasih dan terkadang seseorang bisa berterimakasih tanpa memuji. Untuk memahaminya, gambarannnya kurang lebih seperti ini; Ketika seseorang bertemu dengan kawannya yang mengenakan pakaian baru. Maka ia berkata kepada kawannya, “Wah, keren tuh bajunya, baju baru ya…beli dimana?” apa yang dikatakan oleh seseorang tersebut kepada kawanya, apakah kalimat pujian atau terimakasih?. Jelas itu adalah kalimat pujian bukan terimakasih.
Contoh lain, seperti seseorang yang melihat talenta dari seorang atlet olahraga. Maka ia akan berkata, “Hebat bener tuh atletnya.” Kalimat pujian yang terlontar tapi bukan ucapan terima kasih. Maka ketika seseorang melihat sesuatu yang indah, menarik, menawan, dan mempesona ia akan memujinya.
Adapun contoh dari seseorang yang berterima kasih tanpa harus memuji. Yaitu kisahnya nabi Musa ketika mendapat perintah untuk berdakwah kepada Fir’aun yang telah melampaui batas.
Ketika Nabi Musa telah sampai ke hadapan Fir’aun dan mendakwahkan bahwa tuhan yang sesungguhnya yang berhak disembah adalah Allah semata. Maka Fir’aun sangat geram dan berkata dengan sombongnya menentang dakwah tersebut.
Sehingga Allah abadikan dalam firman-Nya;
أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينا وَلِيداً، وَلَبِثْتَ فِينا مِنْ عُمُرِكَ سِنِينَ
“Dia (Fir’aun) menjawab, “Bukankah kami telah mengasuhmu dalam lingkungan (keluarga) kami, waktu engkau masih kanak-kanak dan engkau tinggal Bersama kami beberapa tahun dari umurmu.” (QS. Asy-Syuara; 18).
Muhammad Ali Thaha dalam tafsirnya mejelaskan bahwa Fir’aun mengingatkan jasanya ketika Nabi musa masih kanak-kanak. Merekalah yang mengasuhnya, tidak membunuhnya, memberinya penghidupan di kerajaan yang dipenuhi kemewahan dan kemuliaan. (Tafsir Al-Qur’an al-Karim Wa I’rabuhu, Muhammad Ali Thaha, 6/548).
Setelah Fir’aun menolak dakwah tersebut dengan mengingatkan jasanya kepada nabi musa dimasa kecilnya. Lalu apa yang akan dikatakan nabi musa?, Nabi Musa tidak mengingkari kebaikan yang dilakukan Fir’aun kepadanya, justru mengakui kebaikan tersebut.
Sedangkan mengakui bantuan seseorang itu adalah bentuk dari terima kasih. Tapi apakah nabi Musa membenarkan tidakan melampaui batasnya fir’aun?
Apakah Nabi musa lantas memuji tindakan kufurnya Fir’aun?, tidak, jawabannya. Nabi tidak pernah membenarkan, memuji, setuju atas kesesatan ini semua.
Sebagaimana Allah berfirman;
وَتِلْكَ نِعْمَةٌ تَمُنُّها عَلَيَّ أَنْ عَبَّدْتَ بَنِي إِسْرائِيلَ
“Dan itulah kebaikan yang telah engkau berikan kepadaku, (sementara) itu engkau telah memperbudak Bani Israil.” (QS. Asy-Syua’ra; 22)
As-Sudi, Ath-Thabari, dan Al-Fara’ menjelasakan bahwa jawaban Nabi Musa atas hal tersebut menunjukan bahwa Nabi Musa mengakui kebaikan Fir’aun. Atau dalam ungkapan lain, benar, pengasuhanmu kepadaku itu adalah kebaikanmu terhadapku. Sedangkan engkau masih memperbudak kaumku, sehingga bagaimana pun juga ini tidak dapat menghalagiku untuk menyampaikan kebenaran ajaran ini. (At-Tafsir Al-Munir, Wahbah Az-Zuhaili, 19/135).
Kesimpulannya seseorang bisa memuji tanpa harus berterimakasih dan sebaliknya seseorang bisa saja berterimakasih tanpa harus memuji. Sedangkan pujian dalam kalimat الحمد الله itu menggabungkan dua makna sekaligus yaitu pujian terhadap Allah dan ucapan terimakasih hanya untuk Allah.
Satu kata yaitu alhamdu yang mempunyai dua makna sekaligus. Sehingga arti mendalam dari alhamdulillah adalah segala puji dan dan segala ucapan terima kasih hanya milik Allah, dan ini menjadi keunikan Bahasa Arab dari bahasa lainnya.
Karena terkadang mengandalkan terjemahan saja belum mewakili secara utuh dari makna yang terkandung dari kosa kata Bahasa Arab. Sebagai contoh kata memuji dalam bahasa Arab itu ada beberapa versi.
Di antara nya alhamdu dan alamadhu, yang masing-masing kata ini mempunyai rasa yang berbeda. Tapi dalam terjemahannya alhamdu dan al-madhu itu sama-sama diterjemahkan dengan pujian dan sanjungan.
Alhamdu adalah pujian yang sungguh-sungguh berangkat dari hati disertai rasa cinta, penghormatan dan pengagungan terhadap sesuatu yang dipuji. Sedangkan al-madhu itu hanya sekedar pujian yang tidak berkaitan dengan rasa cinta dan penghormatan terhadap sesuatu.
Maka hendaknya seorang muslim untuk memperbanyak mengucapkan kalimat alhamdulillah, sebagai bukti rasa syukur kita kepada Allah melalui lisan. Di dalamnya terkandung pujian serta ucapan terima kasih yang tulus dilantunkan seorang hamba.
Ketiga, kalimat alhamdulillah yang diucapkan seseorang itu akan mendorong untuk berpikir positif dimanapun dan kapanpun. Bahkan, dalam keadaan yang terkadang sukar untuk bersyukur. Misalnya, seseorang yang spion motornya rusak, karena motornya terjatuh. Ketika seorang tersebut mengucapkan alhamdulillah maka ia pertama memuji Allah.
Keempat, apabila kita cermati dalam kata Alhamdulillah, di situ menggunakan kata benda (ism) bukan kata kerja (fi’il). Ini bukan kebetulan yang tanpa makna, tapi merupakan pilihan kata yang tepat dan menyimpan makna yang luar biasa.
Karena kata kerja itu suatu kata yang berkaitan dengan waktu tertentu, alias menggambarkan perkerjaan disuatu waktu. Seperti contoh, saya telah memuji Allah (حَمِدتُ الله ) maka ini kata kerja yang menunjukan waktu yang telah lampau (fi’il madhi).
Contoh lain, saya sedang memuji Allah (أَحْمَدُ اللهَ) maka ini kata kerja yang menunjukan waktu sekarang atau yang akan datang (fi’il mudhari’). (Jami’ Ad-Durus Al-Arabiyyah, Musthafa bin Muhammad, 1/33)
Dalam kata lain, kata kerja itu adalah kata yang menunjukan makna yang terbatas dengan waktu tertentu. Sedangkan kata benda itu kata yang menunjukan sesuatu yang tidak terbatas atau tidak berkaitan dengan waktu.
Seperti dikatakan, “ini bola” maka ini lafadz yang menunjukan sesuatu benda tersebut, tidak ada hubungannya dengan waktu. Dalam kata lain, tidak terikat dan tidak terbatas dengan waktu.
Di sini Allah tidak menggunakan kata kerja seperti (أُحْمَدُ اللهَ) tapi menggunakan kata benda (الحمد لله) yang maknanya adalah pujian dan terimakasih kepada Allah itu selalu ada dan tidak terbatas oleh waktu. Karena mungkin saja seseorang itu memuji Allah pada saat ini saja, tapi pujian dan sanjungan kepada Allah akan senantiasa ada dan melekat kepada Allah.
Kata benda tersebut tidak membutuhkan pelaku, alias kata yang mampu berdiri sendiri. Sedangkan kata kerja itu membutuhkan pelaku.
Maka apabila dikatakan, “menendang bola” maka pertanyaannya siapa yang menendang bola? Jadi kata tersebut akan dapat dipahami apabila diberi pelaku pekerjaan, alias kata yang tidak dapat berdiri sendiri.
Dalam kata alhamdulillah di sini, Allah membuatnya berdiri sendiri karena menggunakan kata benda yang tidak membutuhkan pelaku. Yang artinya pujian, sanjugan, dan terima kasih kepada Allah itu tidak dibatasi oleh waktu dan pelaku.
Maka dengan mengucapkan Alhamdulillah, itu menunjukan beberapa makna. selain kita memuji dan bersyukur kepada Allah, sekaligus mendorong untuk selalu berpikir positif, serta dengan kalimat ini menyadarkan kita kembali bahwa sejatinya Allah tidaklah butuh kepada hambanya, sebaliknya, kitalah yang sesungguhnya membutuhkan Allah, dan seharusnya selalu mendekat, beribadah, dan bertaqarrub kepada-Nya. Wallahu a’lam.*/Syamil Robbani, Ma’had An-Nur