Kita juga sering mendengar kata qirbah, yaitu tempat air minum yang terbuat dari kulit sapi asli yang telah disamak sesuai syariat.
Hidayatullah.com | KITA sering mendengar, orang Arab dulu menggunakan kulit sebagai wadah atau bejana untuk berbagai keperluan mereka, seperti alat minum, makan, wudhu’ dan lainnya. Dan dalam kitab-kitab klasik juga banyak menceritakan jild (kulit) sebagai alat untuk berbagai aktifitas mereka.
Kata jilid dalam bahasa Indonesia, berasal dari bahasa Arab, yaitu jildun yang bermakna kulit. Kemudian orang menyebutnya dengan “menjilid buku, menjilid kitab dan lainnya.
Atau juga, menyebut buku yang berjilid-jilid dengan jilid 1, jilid 2 dan seterusnya, itu dari mujalladat. Kata jilid juga diartikan kulit, ada jilid keras, jilid lunak, dan jilid spiral.
Kulit yang dibentuk atau dibuat sebagai wadah dalam bahasa Arab memiliki beberapa nama, yaitu; qirbah, syikwa, mizwad, i’kah, bithanah, zurnah.
Kita juga sering mendengar kata qirbah. Qirbah adalah tempat air minum yang terbuat dari kulit sapi asli yang telah disamak sesuai syariat. Ada qirbah Nabi dan qirbah lainnya, bahkan dengan qirbah dibuat untuk mencari keberkahan air dari bekas tempat seseorang.
Tetapi, tidak semua kulit yang dibentuk itu namanya adalah qirbah. Namanya disesuaikan dengan apa yang ada di dalamnya (isi), atau sesuai dengan fungsinya.
Jika kulit tersebut diisi dengan air, maka disebut dengan qirbah (قربة), jika diisi dengan susu, itu disebut shikwa (شكوة), bila diisi dengan tepung halus maka namanya juga berubah, yaitu mizwad (مزود). Bila kulit itu dipenuhi dengan minyak atau mentega, maka dinamakan I’kah (عكة).
Bila dipenuhi dengan kurma, namanya berubah, yaitu bithanah (بطانة). Jika dibuat alat musik, dengan dipenuhi angin/udara maka namanya zurnah (زرنة).
Demikian pula manusia. Manusia serupa dalam tubuhnya, tetapi isi atau esensi mereka berbeda. Perbedaan isi itulah yang menentukan nama atau sebutan mereka yang berbeda-beda.
Manusia itu terdiri dari lahir (dahir) dan batin. Tetapi, sering kali, yang bersifat lahir selalu menjadi hal yang utama dan diutamakan.
Dan yang lahir paling sering dirawat dengan berbagai aksesorisnya, sedangkan batin yang merupakan inti dan esensi sering dilupakan. Memang keduanya sama-sama penting, karena kalau tidak ada lahir, bagaimana batin mempunyai tempat. Tapi, batinlah yang menjadi esensi dari keberadaan seseorang.*/Dr Halimi Zudy, FB Halimi Zuhdy