Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Ragam

‘Kami Hidup dalam Ketidakpastian Hanya Karena Kami Muslim’

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 18 Juni 2014 20:49 8:49 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 18 Juni 2014 20:43
Bagikan
Rumah warga Muslim Sri Lanka yang dibakar oleh umat Buddha dalam kerusuhan hari Selasa.
Bagikan

AHAMED duduk di sudut rumahnya di Aluthgama, Sri Lanka, merenungkan peristiwa beberapa saat terakhir. Kampungnya itu dirusak oleh massa Buddha yang menewaskan empat orang pada Selasa (17/6/2014).

“Kita hidup dalam ketidakpastian hanya karena kita adalah Muslim. Sebagian besar toko-toko di Aluthgama milik Muslim sehingga mereka mencoba untuk membakarnya habis. Rumah dibakar juga,” kata Ahamed, manajer perusahaan farmasi Acme Laboratory.

Lima tahun setelah perang dengan separatis Tamil LTTE berakhir, ketegangan rasial meningkat lagi di pulau itu.

Sentimen anti-Muslim muncul pada April 2012 ketika sejumlah 2.000 umat Buddha, menyebut kelompoknya Boddhu Bala Sena (BBS) atau Buddha Force, menyerang satu masjid di Dambulla, di pusat kota Sri Lanka. Mereka mengklaim bahwa masjid tersebut dibangun di komplek Buddha suci.

Serangkaian insiden menargetkan penduduk Muslim minoritas.  Kelompok Buddha itu juga memprotes logo halal pada produk makanan di ibukota Kolombo Februari, yang kemudian otoritas Muslim setuju menghapus logo dari semua produk lokal.

Baca Juga

Abu Ubaidah Peringatan Setahun Perang Gaza
Siapa Abu Ubaidah, Sosok Misterius yang Jadi Simbol Perlawanan Palestina?
Toko Buku Tertua di London Berjuang Melawan Waktu
Mengapa Umat Muslim Tidak Boleh Memiliki Bom Atom?
Di Balik Janji Kemakmuran dan “Bisnis Ayat-Ayat Suci”
Tinta Penyesalan: Ketika Tato jadi Beban Seumur Hidup

Ketegangan meletus lagi pada hari Minggu.

“Jika salah satu Marakkalaya (Muslim) menyerah pada setiap orang Sinhala (penduduk Sri Lanka), akan menjadi akhir dari semuanya,” kata biksu Galagoda Atthe Gnanasara dalam orasi pada demonstrasi kelompok BBS di kota selatan Aluthgama.

Setelah pidatonya yang berbasis rasial, para demonstran itu kemudian menyerang rumah-rumah dan toko-toko Muslim. Pemerintah bereaksi dengan memberlakukan jam malam, tetapi tidak bisa menghalangi massa yang melanjutkan kerusuhan ke Beruwala, wilayah sebelahnya.

“Beberapa toko dibakar pada pagi dini hari, memaksa warga berlindung di Jamiya Naleemiya (satu perguruan tinggi Arab),” kata Niyas Mohammad, seorang pengacara yang tinggal di Beruwala, kota dengan mayoritas Muslim di selatan ibukota Kolombo.

“Satu insiden kecil saja dapat memicu kemarahan mereka. Hal ini dimulai saat perang mulut pada hari Kamis antara sopir angkutan dan pengendara sepeda motor Muslim. Di dalam angkutan ada seorang biksu Buddha yang berusaha menghentikan pertengkaran,” kata Ahamed menjelaskan, seperti dilaporkan Gulf News, Selasa (17/6/2014).

“Biksu itu kemudian mengadu kepada polisi bahwa ia diserang, mengakibatkan penangkapan terhadap pengendara Muslim itu. Kemudian, ketika ia berada di tahanan, beberapa pendukung BBS menuntut pada pihak polisi agar tahanan itu diperlihatkan pada mereka. Polisi tidak mau mengeluarkan pria itu dari tahanan, tetapi polisi membolehkan sejumlah orang masuk ke dalam tahanan untuk memukulinya di tempat itu.”

Aparat penegak hukum dan pemerintah Sri Lanka sejauh ini menutup mata terhadap kekerasan dalam masalah yang terus berulang selama dua tahun ini.

“Pemerintah Sri Lanka pasti telah mengetahui sebelumnya atas serangan-ketegangan telah muncul sejak Kamis,” kata Azad Salley, pemimpin Aliansi Persatuan Nasional dan anggota parlemen Provinsi Tengah.

“Saya secara pribadi telah menyampaikan kepada pimpinan tertinggi polisi di daerah, Anura Senanayake, untuk menghalau demo BBS dari Aluthgama. Meskipun kemudian diberi  jaminan, tetapi serangan masih berlangsung juga.”

Kondisi semacam ini menjadi perhatian warga Sinhala beragama Nasrani. Pria berusia 23 tahun ini frustrasi dengan tanggapan Presiden Mahinda Rajapaksa yang hanya menyerukan pihak-pihak menahan diri dan meyakinkan masyarakat bahwa masalah ini akan diselidiki untuk menemukan pelaku.

“Cukup mengecewakan dengan sedikitnya kecaman terhadap agresi rasial dan serangan itu. Juga kurangnya upaya mengatasi pelanggaran toleransi tersebut. Padahal peristiwa itu merupakan tindakan main hakim sendiri, berupa serangan rasial terang-terangan yang menyebabkan orang kehilangan nyawa,” kata mahasiswa hukum itu.

“Penyelidikan sedang dilakukan untuk menemukan pihak yang bertanggung jawab. Padahal untuk itu tidak terlalu sulit, cukup melihat klip YouTube terhadap orang-orang yang berkata kasar untuk menemukan konspirator utama yang menyebabkan kerusuhan.”

Biksu Buddha Wathehene Vijitha Thero mengatakan, mereka memang telah diberi peringatan oleh pemerintah sebelumnya, tetapi mereka memilih mengabaikan atau karena tidak memahami masalahnya.

“Semua orang di negeri ini, terlepas dari apakah mereka Sinhala atau Muslim, memiliki hak kebebasan berbicara. Kita harus melindungi hak-hak ini.”

Pengusaha hotel Vimukthi Yapa bersuara di Twitter dengan dua topik, # RajapaksaTakeAction dan # EndBBS, mendesak pemerintah mengakhiri kekerasan.

“BBS ada karena pemerintah mengizinkannya, yang mereka menggunakan kelompok itu untuk mengalihkan masalah sesungguhnya. Sungguh cerdas. Ini rezim kuat yang telah mengakhiri perang! (dengan separatis Tamil) Jadi peristiwa ini tidak begitu saja terjadi tanpa sepengetahuan pemerintah,” kata seorang warga Sinhala.

Bagi dirinya apa yang dilakukan BBS tersebut membuat dia menundukkan kepala karena malu.

“Kami tumbuh dengan ajaran Buddha, sebagaimana diajarkan oleh para biksu yang mulia. Tetapi sungguh memalukan melihat para biksu, yang seharusnya menjalani kehidupan berperilaku teladan. Lantas bagaimana kita bisa mengajarkan generasi muda untuk menghormati para ‘Sangha’ (biksu) itu?” ucap warga yang berprofesi dokter.

Menteri Patali Champika Ranawaka yang juga Sekretaris Jenderal Partai Politik Buddha meminta masyarakat untuk tidak terhasut oleh BBS.

“Sebuah insiden sangat tragis telah terjadi. Kami mendesak bangsa untuk mengingat bahwa masalah hanya dapat diselesaikan melalui cara-cara damai. Umat Buddha harus menunjukkan hal ini. Berbuatlah dengan cara yang memungkinkan kita menyelesaikan masalah ini,” katanya saat berjumpa dengan media hari Senin (16/6/2014).

Menteri Kehakiman menolak berbicara terhadap masalah yang sedang terjadi. “Kami diminta untuk tidak berbicara kepada pers,” petugas di kantor Menteri Kehakiman, Rauf Hakeem, saat dihubungi Gulf News untuk mengetahui komentarnya terhadap masalah yang sedang terjadi.*

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Kanada Negara Favorit Tujuan Pelajar Saudi
Tulisan selanjutnya Saat Anak-anak Selalu Ada ‘Tamu’ di Rumah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Feature
30 Mei 2026 17:30
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

buzzer muhammadiyah
Ragam

Industri Buzzer Sudah jadi Lahan Bisnis Politik di Indonesia

28 Agustus 2025 10:23
Ragam

Logika Muhammad Ali: “Mengapa Tarzan Berkulit Putih?”

23 Agustus 2025 17:22
Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis Masjidil Aqsha
Ragam

Enam Hal yang Bisa Dilakukan untuk Baitul Maqdis

17 Agustus 2025 18:29
Ragam

“Cracka”: Remaja Peretas CIA dan Bela Palestina

11 Agustus 2025 16:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?